
"Iyah" jawab Vony singkat, merasa Daniel yang tak kunjung pergi dari hadapan nya, wanita itu menatap nya kesal. "Kenapa masih ada di sini? Cepat sana ke kamar mu aku ingin menghabiskan makanan ku dan langsung istirahat"
"Ba-baik nona, selamat malam" Daniel berlalu pergi ke kamarnya di lorong sebalah.
Masuk ke dalam kamar Vony menaruh makanan di atas nakas, memanggil Alan dari persembunyiannya.
"Apa dia sudah pergi?" Tanya Alan mendapatkan anggukan dari Vony.
"Kamu sudah makan malam?" Mendapati gelengan dari Alan Vony meraih nampan dari atas nakas memangku nya. "Kalo begitu kita makan bersama saja" mengarahkan suapan pertama pada Alan dengan cepat pria itu membuka mulutnya tersenyum lebar saat Vony menyuapinya.
saat keduanya lagi menikmati makan sepiring berdua untuk pertama kalinya Alan tiba-tiba teringat dengan perkataan Salma kemarin malam dimana Anggit menghina istrinya.
"Vony, apa betul kemarin malam di acara pertunangan kamu di ancam Anggit?" Ceplos Alan menghentikan gerakan tangan Vony yang kembali ingin menyuapinya.
"Mama yang memberitahu mu?" tebak Vony tak di indahkan oleh Alan yang kembali mengulang pertanyaan awal nya.
"Jawab saja"
"Iyah" jawab Vony singkat tak ingin membuat keributan di malam hari.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memberitahu?!"
"Buat apa? Lagian ancaman Anggit itu hanya ancaman anak SD yang tidak harus aku anggap serius dan katakan pada siapapun"
"Tapi dia sudah merendahkan mu dan aku tidak terima akan hal itu!"
"Terus kamu akan melakukan apa? marah dengan Anggit karena dia telah mengancam ku dan merendahkan ku? dan setalah itu kamu yang akan menjadi sasaran amarah ayah dan tuan Restu?"
"Aku lebih baik dihajar habis-habisan oleh ayah dan tuan Restu karena telah membela istriku, dari pada aku harus diam saja seperti orang tidak berguna seperti ini membiarkan dia yang akan terus menyakiti mu kedepannya"
"Dan aku yakin ini bukan kali pertama Anggit merendahkan mu, cepat katakan pada ku sudah berapa kali wanita itu bersikap kasar pada mu" ujuar Alan meminta istrinya jujur dengan sangat tegas.
"Kamu tau masalah besar saja munculnya dari hal kecil dan sekarang aku tidak boleh mempermasalahkan hal seperti ini?"
"Apa kamu tidak pernah berfikir setakut apa aku saat kamu mencoba mencari masalah dengan ayah mu" Ucap Vony dengan suara kecil menatap dalam manik mata Alan yang terbakar api amarah. "Jika kamu ingin aku jujur sudah berapa kali Anggit melakukan hal ini dengan ku jawaban nya sangat sering, karena dua minggu menjelang pertunangan mu aku hampir setiap hari aku bertemu dengan nya seolah-olah itu semua sudah ia atur jauh-jauh hari"
"Dan sekarang kamu bertanya kenapa aku tidak menceritakan ini semua pada mu? Jawabannya karena aku tidak ingin kamu dan ayah bertengkar hanya karena aku, aku tidak ingin kamu disebut anak durhaka oleh ayah, aku tidak ingin kamu di tampar bahkan hampir di hajar oleh ayah karena diriku, dan aku juga tidak ingin mama sedih melihat kalian bertengkar seperti itu" jelas Vony berharap dengan penjelasan nya Alan paham maksud nya selama ini memilih untuk diam"
"Tapi itu sudah kelewatan-"
__ADS_1
"Itu belum kelewatan batas Alan" potong Vony. "Anggit hanya menegur ku dengan ucapannya bukan menegur ku secara fisik, jadi aku masih menganggap hal itu angin lalu"
"Kenapa kamu selalu menganggap semua itu tanpa beban? Apa kamu tidak takut Anggit akan melakukan hall buruk pada mu kedepannya?"
"Tidak, karena aku akan menjaga diriku dengan baik dari wanita itu"
Alan mengusap wajahnya kasar turun dari ranjang berjalan ke arah kaca besar di ruangan itu yang merupakan sebuah pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon, bahkan balkon kamar Vony menyatu dengan balkon kamar nya.
"Tetap saja aku merasa khawatir pada mu"
"Kamu tidak perlu khawatir, aku ini wanita kuat aku bisa menjaga diri ku sendiri dari siapapun yang akan menjahati ku nantinya" bangga Vony menghabiskan segelas susu coklat miliknya.
Mendapati Vony yang akan bersiap untuk tidur Alan menghampiri nya naik ke atas ranjang yang sama dengan sang istri, memiringkan tubuh menyingkirkan anak rambut dari wajah Vony. "Kamu sangat keras kepala!"
"Tapi malah kamu jadikan istri"
"Salah bukan hanya istri tapi calon mama" ralat Alan berhasil menimbulkan semburat merah pada pipi Vony.
Karena terlalu malu Vony menyembunyikan pipinya pada dada bidang Alan, mencari kehangatan disana dari pada harus menunjukan wajah nya yang sudah bersemu merah.
__ADS_1