My Assistant Husband

My Assistant Husband
Selembar Cek


__ADS_3

Merasa tubuhnya jauh lebih baik dari kemarin Vony memutuskan untuk masuk kerja, di antar oleh Alan seperti biasa sampai depan lobi Adhitama Company.


Alan menahan tangan Vony mengecek suhu tubuh istrinya itu sebelum keluar. "Panas nya langsung turun" guman Alan.


Mendengar gumaman Alan Vony langsung menjawabnya. "Makanya lain kali kalo aku sakit kasih saja es krim jangan obat, pahit" ucap Vony bergidik ngeri membayangkan betapa pahitnya rasa obat yang ia konsumsi dua hari kemarin.


"Nama nya juga obat pasti pahit" Alan menggeleng kecil. Mengulurkan tangannya ke jok bagian belakang mengambil satu kotak bekal, langsung ia sodorkan pada Vony. "Tadi aku buatkan kamu roti selai strawberry dan coklat"


"Kenapa kesan nya kaya anak kecil gini sih" omel Vony mau tak mau menerima uluran bekal dari Alan.


"Aku tak ingin kamu kembali sakit hanya karena telat makan, karena aku tau kamu akan sibuk sekali hari ini"


Mendengar itu Vony mulai merasa baper dengan perlakuan Alan yang semakin hari semakin manis padanya. "Kamu boleh mengagumi Alan tapi jangan pernah kamu jatuh cinta dengan manusia menyebalkan seperti itu!"


"Jangan ge-er dulu, aku sengaja buatkan bekal ini karena nanti siang perusahaan yang aku ucapkan di Bali waktu itu meminta untuk bertemu siang ini"


Vony yang awal nya mulai terbawa suasana akan sikap manis Alan berubah dalam sekejap menjadi rasa kesal yang teramat.


"Nanti siang?" tanya Vony memastikan apa yang ia dengar adalah salah.


"Iyah nanti siang"


Kotak bekal yang diberikan Alan tadi ia gunakan untuk memukul lengan suaminya beberapa kali karena kesal "Kenapa kamu baru memberitahu ku sekarang?, kenapa tidak dari kemarin!"


"Kemarin kamu masih sakit jadi aku tidak mau membuat mu tambah sakit dengan memikirkan pekerjaan"


"Terus kalo seperti ini bagiamana?, laporan seperti itu tidak akan selesai dalam waktu yang singkat!" marah nya.


"Kamu tenang saja-"


"Tenang,tenang, bagaimana aku bisa tenang dalam keadaan seperti ini hah?!" entah apa yang dipikirkan suaminya itu sehingga meminta ia tenang dalam situasi seperti ini.


"Dengarkan aku dulu Vony!" suara Alan sedikit berteriak membuat mulut Vony langsung tertutup rapat. "Kamu tidak usah memikirkan laporan itu, karena laporan itu sudah aku suruh Danil yang membuatnya, dan kamu tinggal menerima dan presentasi"


"Dari mana kamu tau Danil?"


"Itu tidak penting dari mana aku tau, yang penting saat kamu masuk nanti Danil sudah menunggu mu di luar ruangan dengan memegang map ditangannya"

__ADS_1


"Kamu serius?"


"Boleh dibuktikan kalo kamu mau" ucap Alan menunjuk pintu mobil mempersilahkan istrinya untuk turun dan membuktikan sendiri ucapannya.


Vony yang sedikit tak percaya akan hal tersebut langsung turun dari dalam mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun dan berjalan sedikit berlari menuju ruangannya.


Saat pintu lift terbuka dari kejauhan Vony benar-benar melihat Danil yang tengah berdiri di depan ruangannya dengan memainkan ponsel ditangannya. Berjalan mendekat ke arah Danil pria itu menyambut kedatangan anak atasannya dengan hangat.


"Pagi nona"


"Pagi, kamu sedang apa disini?" tanya Vony yang akan memastikan sendiri ucapan Alan benar atau tidaknya.


"Saya ingin memberikan laporan ini untuk nona" ucap Danil menyodorkan map berwarna merah pada Vony. "Tuan Alan yang menyuruh saya untuk mengerjakan laporan ini kemarin saat anda sakit, dan karena laporan ini sudah selesai jadi saya berikan kepada nona"


Mulut Vony terbuka lebar saat membaca laporan yang ada di tangannya benar-benar sebuah laporan yang akan ia gunakan nanti siang.


"Tuan Alan sendiri juga berpesan kalo nanti siang saya yang harus menemani nona untuk bertemu klien"


"Alan yang melakukan ini semua?" tanya Vony mendapat anggukan dari Danil. "Apa kamu di bayar untuk ini semua?" tanya Vony sekali lagi.


"Kalo itu saya tidak bisa memberitahu nona karena tuan Alan sendiri yang melarang saya. Kalo begitu saya akan kembali ke kantor cabang terlebih dahulu nanti saat makan siang saya akan kembali untuk menjemput anda" ucap Danil langsung pergi meninggalkan Vony.


"Danil jawab dulu pertanyaan ku!" teriak Vony dan Danil pun sudah masuk ke dalam lift. "Dia sudah sangat berani dengan ku sekarang!" kesal Vony masuk kedalam ruangannya.


***


Deretan pesan masuk bertubi ke dalam ponsel Alan saat pria itu baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran kantor.


...Wanita Jelek...


|"Danil sudah memberikan laporan nya"


|"Kenapa kamu bisa menyuruhnya?"


|"Dari mana kamu kenal dia?"


|"Jawab Alan!"

__ADS_1


^^^"Good luck!"|^^^


Jawab Alan se enak nya dan langsung keluar dari dalam mobil masuk ke dalam kantor. Di dalam kantor Alan berpapasan dengan Kenzou yang juga tengah masuk ke dalam lift.


"Pagi tuan" sapa Alan menekan tombol tingkat teratas gedung Jhonson company.


Bibir Alan terus membentuk sebuah senyuman membayangkan betapa gemas nya wajah sang istri sekarang yang pasti sedang memikirkan bagaimana caranya ia menyuruh Daniel. Mengingat pria itu pernah di tegas kan oleh Anggara untuk tidak membantu putrinya dalam urusan pekerjaan.


"Kerjakan berkas ini dan kasih pada Vony besok!" ucap Alan di sebuah cafe menyesap secangkir kopi miliknya. Memastikan Vony telah tidur siang dengan nyenyak ia meminta Danil untuk bertemu di salah satu cafe terdekat dari apartemen nya.


"Ma-maaf sebelum tuan, tapi anda siapa nya nona Vony?, dan kenapa juga anda meminta saja membuat laporan ini?"


"Kau tidak perlu tau siapa aku, karena tugas mu sekarang mengerjakan laporan ini dan berikan pada Vony besok!"


Danil menggeleng menolak perintah Alan. "Maaf tuan saya tidak bisa, karena tuan Anggara yang sudah menegaskan saya untuk tidak membantu nona Vony dalam urusan kantor"


Alan menegakan tubuhnya mengeluarkan selembar cek dari dalam jas, menulis nominal pada cek kosong itu. "Apa segini cukup untuk membuat sebuah laporan?" tanya Alan menyodorkan cek senilai lima belas juga pada Danil. "Aku tau kamu sedang membutuhkan banyak uang untuk acara pernikahan mu bukan?"


"Da-dari mana anda tau?"


"Itu masalah yang sangat kecil untuk saya lakukan untuk mencari tau kamu itu seperti apa" ucap Alan menunjukan seringai pada wajah nya membuat Danil bergidik takut. "Terima saja cek itu dan langsung buatkan laporan untuk Vony besok, jarang-jarang bukan ada orang yang membayar mu semahal itu untuk hanya sebuah laporan?"


Danil nampak berfikir sejenak dengan tawaran yang sangat-sangat mengugurkan. "Baiklah saya terima cek ini, tapi anda juga harus memastikan bahwa tuan Anggara tidak tau soal ini, karena saya masih sayang dengan pekerjaan saya"


Alan mengangguk setuju, lagian ia tak akan memberitahu ayah mertuanya soal ini.


"Alan!" tegur Kenzou sedikit keras.


"I-iyah"


"Kenapa kamu senyum-senyum seperti orang gila hah?"


"Ma-maaf tuan"


"Cepat keluar dan selesaikan pekerjaan mu yang kemarin" usir Kenzou saat pintu lift sudah terbuka sejak tadi.


"Ba-baik tuan" jawab Alan gelagapan langsung menuju ruangannya.

__ADS_1


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2