
"Aku sudah melakukan apapun yang ayah inginkan di sini tapi kenapa ayah tidak pernah memikirkan perasaan ku sedikit saja!" jawab Alan setalah Erlad melayangkan tamparan mengenai wajah nya.
Setalah makan siang Erlad meminta Alan agar langsung pulang dengan dirinya. Alan yang sudah menduga akan seperti apa ending nya membiarkan apapun pria di hadapannya ini melakukan yang ia suka.
"Hanya karena aku meminta Anggit dan ayah nya untuk tidak mengundang wartawan ayah langsung memukul ku, apa selama ini yang aku lakukan buat ayah tidak pernah sedikitpun ayah hargai?!"
"Kalo kamu ingin ayah menghargai apapun yang kamu lakukan maka hari ini juga ceraikan istri mu itu dan turuti apapun yang di minta keluarga Anggit, karena sejatinya istri mu itu wanita pembawa sial!"
Vony yang tiba di depan pintu utama menghentikan langkah mendengar Erlad menyebutnya wanita pembawa sial dengan sangat jelas, dirinya yang tak tahu apa yang sedang terjadi melangkah masuk secara perlahan menatap ayah dan anak itu masih saling adu mulut, dan tanda-tanda Salma berada di rumah pun tidak ada.
"Kenapa ayah selalu melampiaskan masalah pribadi ayah pada Vony, dia wanita yang sangat baik, wanita yang tidak pernah menuntut ini itu pada ayah, wanita yang sedang berusaha mengambil hati ayah meski ayah selalu menghina nya!"
"Ayah tidak pernah meminta wanita itu untuk bersikap baik pada ayah sedikit pun, bahkan ayah mendoakan istri mu itu mandul seumur hidup, sekalipun dia hamil nanti ayah harap tuhan melenyapkan janin yang ada di perut nya!"
Dada Vony terasa sangat sakit mendengar ucapan ayah mertuanya yang sedang menyumpahi nya. Vony yang jarang menitikan air mata kali ini harus menjatuhkan nya saat ucapan yang tidak harus ia dengar masuk ke dalam telinganya dengan sangat jelas.
"Ayah!!!"
__ADS_1
"Alan!"
Teriak Vony saat Alan ingin mendaratkan pukulan pada ayah nya sendiri, melangkah dengan cepat Vony mengengam kepalan tangan Alan yang ingin di gunakan memukul Erlad.
"Jangan lakukan itu, sudah aku bilang bagaimana pun sikap ayah dia tetap ayah mu"
"Hah!!!" Alan meraung frustasi mendengar kata ayah yang tetap harus ia akui di saat kondisi seperti ini, melangkah ke lantai dua meninggalkan Vony dan Erlad di lantai satu.
Vony menatap sekilas Erlad dan langsung menyusul sang suami tanpa berkata apapun pada Erlad yang jika di ladeni tidak akan ada habis nya.
"Alan" panggilnya tak di jawab oleh pria bertubuh kekar tersebut. "Aku bawakan mu minum"
Hening di antara keduanya Alan memilih memejamkan mata dari pada melampiaskan amarahnya pada Vony yang masih berdiri di belakang sana. Vony berjalan mendekat arah Alan mendapati pria itu tengah memejamkan mata.
"Apa kamu tidur dengan gaya baru?"
"Jangan berbicara pada ku"
__ADS_1
"Tapi aku ingin berbicara pada mu"
"Aku tidak ingin berbicara pada siapapun sekarang" Alan berbalik badan melangkah masuk ke dalam kamar di ikuti Vony yang langsung meraih tangan nya.
"Aku ingin kita melakukan program keturunan" ceplos Vony berhasil menghentikan langkah kaki Alan bahkan pria itu membalikan badan dengan raut wajah antara bahagia dan tak yakin dengan ucapan nya. "Aku ingin menjadi mama" lanjutnya
"Kamu pasti sedang berbohong supaya aku mau berbicara dengan mu"
"Aku serius Alan, kalo kamu tidak percaya besok pagi kita pergi ke dokter memeriksa kan kesehatan kita berdua sekalian menanyakan kapan masa subur ku berlangsung"
"Kamu serius?" tanya Alan memancarkan raut bahagia bahkan bibir merah muda tersebut membentuk sebuah senyuman.
Vony mengangguk antusias, mengeluarkan ponsel mengirimkan pesan pada dokter pilihan mama mertua nya hari itu. "Aku sudah membuat janji dan besok kita langsung datang"
Melihat sang istri tak main-main dengan ucapannya Alan memeluk tubuh ramping tersebut dengan erat. "Aku tidak sabar menunggu hari esok"
"Aku juga" jawab nya.
__ADS_1