My Assistant Husband

My Assistant Husband
Pulau Dewata Bali


__ADS_3

Memilih penerbangan pada pagi hari, pesawat yang ditumpangi Alan dan Vony landing pada siang hari dengan mulus di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai-Bali.


Memesan taksi online keduanya menuju hotel terdekat untuk melakukan cek in.


"Permisi ada yang bisa saya bantu?" ucap resepsionis ramah, saat Alan berhenti tepat dimeja resepsionis.


"Saya mau pesan dua kamar ukuran sedang" ucap Alan merogoh kantong celananya untuk mengeluarkan kartu debit.


Resepsionis tersebut mengotak-atik komputer dihadapannya, dan kembali menatap Alan. "Maaf tuan tapi kamar ukuran sedang sudah penuh dan hanya tersisa satu kamar VVIP"


"Ya sudah tidak apa itu saja" ucap Vony memberikan keputusan secara sepihak.


"Tidak, jangan dengarkan dia. Saya tidak jadi cek in di hotel ini" ralat Alan cepat.


Vony menatap Alan tajam. "Terus kamu mau tinggal dimana hah?, kamu lihat tadi di bandara banyak sekali turis dan wisatawan datang untuk berlibur di sini" ucap Vony mengingatkan bagaimana kondisi bandara yang sangat ramai beberapa saat lalu.


"Kalo aku satu kamar lagi dengan mu, aku tidak mau tidur di atas sofa. Bukannya memanjakan diri saat berlibur malah membuat diri semakin tertekan!"


"Excuse me, is there still one room in this hotel?"


Melihat seorang turis menanyakan kamar yang tinggal tersisa di hotel ini dengan gerakan cepat Vony menjeda ucapan resepsionis yang akan menjawab pertanyaannya.


"Berikan kamar itu kepada kami" beralih menatap turis yang nampak bingung Vony membuka suaranya. "Sorry sir, we have booked the room for our honeymoon for the next few days"


"Really?" Vony mengangguk cepat, mencubit lengan Alan saat pria itu akan meralat ucapannya. "It's a shame, even though I've visited three hotels to enjoy a vacation on this island of the gods"


"I'am so sorry"


"Never mind I will look elsewhere." Vony mengangguk menatap kepergian turis tersebut.


"Kenapa kau bilang seperti itu tadi padanya?" ucap Alan merasa keberatan saat Vony berkata mereka akan berbulan madu untuk beberapa hari kedepan.


"Apa kau tidak dengar dia berkata apa?, sudah tiga hotel yang dia datangi tapi semuanya full. Dan kalo sampai kamar tadi itu menjadi miliknya, kita mau tidur dimana?, dipinggir jalan?" cecer Vony.


Alan terdiam membenarkan ucapan Vony. Dan tidak lucu jika ia baru saja datang di Bali dan harus pulang lagi ke ibu kota.


"Jangan banyak bengong, cepat bayar!. Aku ingin cepat-cepat istirahat!"


Alan mendengus kesal mengeluarkan kartu debit miliknya, ia harus merogoh kocek yang lumayan untuk membooking hotel selama empat hari kedepan.

__ADS_1


Sampai di dalam kamar Vony memindahkan baju-baju kedalam lemari, menatanya dengan rapi. Sama halnya yang dilakukan sang istri Alan terlebih dahulu selesai menata pakaian miliknya.


"Alan"


"Hmm"


"Kita akan kemana hari ini?" tanya Vony ikut duduk di tepi ranjang.


"Untuk sekarang kita istirahat saja dulu, nanti baru kita keluar menikmati suasana sore"


Vony mengangguk setuju, sesaat kemudian ia menatap datar wajah Alan yang merautkan kebingungan.


"Kamu saja yang tidur di sofa" ucap Alan yang seakan tau apa yang Vony pikirkan.


"Kenapa aku?"


"Kalo kamu tidak mau, maka balikan uang ku yang sudah aku bayar untuk membooking kamar ini!"


"Kenapa kau sangat perhitungan sekali dengan istri mu?" cibir Vony beranjak dari duduknya menuju sofa panjang di pinggir ruangan. Merebahkan tubuhnya yang sangat lelah dan tak berselang lama alam mimpi menghampirinya.


"Vony" panggil Alan berjalan mendekat, mengerakan tangannya didepan wajah Vony. "Cepat sekali tidurnya" guman Alan.


***


"Alan pelan-pelan!" merasa Alan melangkah dengan cepat Vony menahan tangan pria itu. "Jangan cepat-cepat, aku sulit untuk menyeimbangkan langkah mu!"


"Kalo kamu sibuk menyeimbangkan langkah mu, maka kamu tidak bisa menikmati indahnya sore hari ini" ucap Alan menatap sekitar.


"Kalo begitu biar aku yang didepan, dan kau dibelakang ku" Vony menarik tangan Alan, berjalan terlebih dahulu dari pria itu.


Menurut saja apa yang ingin wanita itu lakukan Alan mengikuti langkah kecil Vony dari belakang.


Lama-kelamaan genggaman tangannya pada Alan terlepas beralih memfoto berbagai jenis warna bunga yang kelihatan cantik. Membuat Alan berjalan terlebih dahulu dari Vony.


"Bagaimana kalo setelah ini kita liburan keluar negeri seperti Kenzou dan Aleta?" usul Vony yang tiba-tiba mengingat postingan bulan madu Aleta di negara Prancis beberapa bulan lalu.


"Aku tidak punya waktu"


Vony mendengus kesal mendengar jawaban Alan. Meski itu kenyatannya suaminya itu sepertinya lebih mementingkan pekerjaan dari segalanya.

__ADS_1


"Seharunya kamu mengurangi pekerjaan kamu dan lebih menghabiskan waktu dengan orang terdekat mu"


"Menghabiskan waktu dengan mu?, lebih baik aku bekerja dari pada satu hari full bersama mu"


Vony meremas udara tepat di belakang tubuh Alan, saat pria itu terang-terangan tak ingin menghabiskan waktu bersamanya. "Kalo kau tidak ingin dengan ku, setidaknya habiskan waktumu dengan mama. Kelihatannya dia sangat rindu ngobrol dengan mu. Terlihat sangat sederhana tapi kau sulit untuk mengabulkannya" ucap Vony penuh sindiran.


Langkah Alan terhenti membalikan badannya menatap serius bola mata Vony.


"Jangan menatap ku seperti itu, bagaimana kalo kita selfy?" ucap Vony mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku tidak mau" tolak Alan cepat.


"Ayolah Alan, biar nanti aku kirim ke mama kalo kita sekarang sedang benar-benar berlibur" Vony mengarahkan kamera ponselnya pada wajahnya dan Alan. "Alan senyum" pinta Vony yang sudah siap, sedangkan Alan enggan untuk tersenyum sedikit saja.


"Aku tidak suka foto"


"Sini biar aku ajarkan cara senyum yang benar" Vony menarik ujung bibir Alan agar membentuk sebuah senyuman, tapi saat tangannya menjauh wajah Alan kembali cemberut dan itu terlihat sangat menjengkelkan. "Alan senyum!"


"Aku tidak suka foto Vony" tolak Alan untuk kesekian kalinya.


Tak ingin menyerah Vony terus memainkan pipi Alan. "Tahan seperti ini atau aku akan memukul mu!" Adam Vony.


Mengarahkan ponselnya Vony mengambil satu foto dirinya dan juga Alan. "Sekali lagi"


Alan menghela nafas panjang melihat Vony yang terus memfotonya dari segala arah.


"Sudah" tangan Vony melihat hasil fotonya dan juga Alan, meski terlihat sangat memaksa setidaknya hasilnya tak terlalu mengecewakan.


Memilih salah satu yang bagus Vony mengirimnya pada Salma.


"Aku lapar apa kau ingin ikut makan?" ajak Alan.


"Iyah aku juga sudah lapar"


Alan meraih tangan Vony menarik nya menuju restoran yang belum terlihat ramai akan pengunjung lain.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2