My Assistant Husband

My Assistant Husband
Penyesalan


__ADS_3

Alan yang berniat membeli rumah dikawasan pinggiran kota agar mendapatkan suasana rumah yang tenang dan nyaman tidak di izinkan Anggara yang merasa pemberian rumah sebagai hadiah pernikahan nya tidak ia hargai, sampai akhirnya Alan membatalkan rencananya dan menerima rumah dari sang mertua.


Bersama sang istri dua bulan lalu Alan di buat terpanah sekaligus kaget akan rumah yang sangat mewah itu berada di depan rumah milik Aleta dan juga Kenzou, tak menyangka jika rumah semewah itu dihadiahkan Anggara untuk keduanya.


Vony yang juga kaget seperti Alan menyesal tak menerima pemberian rumah itu dari dulu yang tidak perlu repot-repot harus janjian dengan Aleta kalo saja ia bisa langsung kerumahnya kapanpun.


"Kita sekarang menjadi tetangga" begitulah perkataan Kenzou beberapa saat lalu yang juga baru tau rumah didepannya dibeli Anggara sebagai hadiah pernikahan sang putri.


Sekarang ke kagetan itu berubah menjadi kecemasan buat Vony saat dokter mengatakan hari kelahiran sang buah hati semakin dekat membuat hati Vony merasa gelisah dan takut, beruntung ada Salma,Livia dan juga Aleta yang datang bergantian untuk menenangkan nya, membahas hal yang bahagia setelah buah hati mereka lahir dan hal yang sering mereka lakukan dengan anak mereka membuat Vony juga tak sabar ingin melakukan hal tersebut.


Dilema bukan hanya dirasakan oleh Vony tapi juga Alan, pria itu terlihat bersalah saat tak bisa mengambil cuti untuk menemani sang istri dihari-hari mendekati lahiran karena perusahaan sang mama yang baru saja bangkit masih harus memerlukan perhatian khusus darinya membuat Alan tak bisa selalu ada di rumah.


Melihat raut kecewa Alan setiap mau berangkat ke kantor, Vony menangkup wajah tampan sang suami. "Jangan sedih, nanti anak kita ikut sedih juga"


Alan semakin frutasi mendengar itu, mengusap perut Vony yang buncit merasakan pergerakan dari sang anak yang membuat ujung bibirnya tertarik.

__ADS_1


"Kamu lihat sendiri bukan anak mu tidak suka ayah nya murung seperti ini, terlihat jelek katanya"


Alan tak mengeluarkan suara saat Vony mencibir nya, matanya masih fokus menatap perut sang istri. "Maafkan aku yang harus menomor dua kan mu dan anak kita"


"Kamu ngomong apa sih, kamu itu kerja bukan selingkuh jadi aku tidak merasa di nomer dua kan" kesal Vony dan menghela nafas pelan saat Alan masih tak mengeluarkan ekspresi apapun. "Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja"


"Apa dia akan marah dengan ku?"


Vony menggeleng cepat. "Tidak, dia anak yang pintar dan pasti memahami keadaan ayah nya"


"Iyah ayah" jawab Vony disambut senyum hangat milik Alan.


"Kamu belum berangkat kerja?" suara hangat milik Salma mengalihkan pandangan keduanya mendapati Salma datang bersama Erlad dan seperti biasa calon nenek dan kakek itu selalu membawa barang perlengkapan bayi untuk cucu mereka yang sebentar lagi lahir, membuat Vony bingung mau membeli barang apa lagi karena barang dari Salma dan Livia sudah begitu banyak. "Apa kamu libur?"


"Tidak ma, aku hanya ingin berlama-lama dengan anak ku saja" jawab Alan jujur.

__ADS_1


Mendapati raut wajah Alan terlihat murung membuat Erlad merasa bersalah, karena seharusnya disaat-saat seperti ini Alan ada disamping sang istrinya bukannya masih fokus bekerja memulihkan keadaan perusaahan yang hampir bangkrut akibat ulahnya. Menghampiri putranya Erlad menepuk pundak Alan beberapa kali. "Maafkan ayah"


Kening Alan menimbulkan garis halus saat sang ayah tiba-tiba meminta maaf, baru akan bertanya Erlad terlebih dulu mengeluarkan suara.


"Kalo saja ayah tidak membuat masalah, pasti sekarang kamu berada dirumah menemani istri mu yang sebentar lagi melahirkan dan pasti momen itu sudah kamu tunggu selama ini"


Alan yang sudah melupakan hal tersebut harus kembali di ingatkan bahkan melihat raut wajah Erlad yang begitu menyesal akibat ulahnya. "Yah..."


"Maafkan ayah yang pernah menumbalkan mu hanya karena uang"


"Yah jangan seperti itu" ucap Alan tak suka melihat Erlad menitikan air mata merasa sangat menyesal atas perbuatan nya dulu. "Itu sudah masa lalu dan sekarang keadaan nya sudah berbeda, perusahaan sudah kembali seperti biasa dan ayah sebentar lagi punya cucu jadi Alan harap ayah jangan pernah membawa masa lalu ke masa depan"


Erlad mengusap bulir bening yang sempat jauh di pipinya mengiyakan ucapan sang putra yang ada benarnya karena masa depan harus ditata dengan bahagia bukan di campur adukan dengan masa lalu.


Ketiganya berdiri didepan rumah sampai mobil milik Alan hilang dari pandangan ketiganya, mengajak sang mertua masuk Salma langsung menunjukan barang yang baru saja ia beli tadi malam pada Vony.

__ADS_1


__ADS_2