My Assistant Husband

My Assistant Husband
Menerima Bantuan


__ADS_3

Mendengar sahabat sekaligus assiten nya masuk rumah sakit Kenzou dan Aleta memutuskan untuk menjenguk Alan membawa sekalian baby Aluna, sampai nya dirumah Alan, Kenzou dan Aleta dibuat mematung melihat wajah Alan yang masih terlihat biru.


"Kenapa kamu bisa sampai seperti itu?" tanya Kenzou menatap intens penampilan Alan yang tadi sempat berjalan sempoyongan.


"Ceritanya panjang" jawab Alan.


Vony yang sering menanyakan hal yang sama seperti Kenzou, memutar bola matanya malas saat sang suami bahkan tidak mau jujur sampai detik ini mengenai memar yang ada pada tubuhnya. "Kamu selalu menjawab seperti itu kalo ditanya!"


"Memang ceritanya panjang sayang, bahkan aku bingung mau memulai dari mana" elak Alan.


Kenzou rasa bukan karena Alan bingung harus menjelaskan dari mana hanya saja pria itu tidak ingin membuat orang-orang disekitarnya panik akan masalah yang menimpanya.


Merasa kesal dengan sang suami Vony memilih bergabung dengan Aleta yang tengah mengendong baby Aluna, mengambil bayi mungil itu dari gendongan sang mama mendaratkan ciuman pada wajah cantiknya.


"Zou" Kenzou menoleh saat Alan memanggilnya. "Ada berkas perusahaan yang harus aku berikan pada mu"


Kening Kenzou menimbulkan garis halus saat Alan membahas berkas yang bahkan pria itu sudah menyelesaikan semua berkas sebelum mengambil alih perusahaan sang mama.


"Berkas yang mana..."


"Keuangan perusahaan" potong Alan cepat melayangkan tatapan tajam agar Kenzou tak melanjutkan ucapannya memberikan isyarat agar atasannya itu segera ikut dengan nya. "Lebih baik kita ke ruang kerja ku"

__ADS_1


Melihat Alan seperti ingin mengatakan sesuatu membuat Kenzou mengangguk setuju. Berpamitan pada Aleta untuk membahas masalah pekerjaan sebentar dengan Alan di ruang kerja. Kini keduanya duduk di meja kerja Alan dengan ekspresi wajah yang berbeda saat bersama sang istri.


"Ada apa?"


"Tuan Restu" jawab Alan cepat menyebut salah satu nama. Kenzou langsung paham saat nama ayah Anggit itu disebut dengan suara berat menduga jika pria itulah yang menyebabkan sahabatnya hampir celaka. "Dia menyuruh anak buahnya untuk menghadang ku ditengah jalan"


"Apa kamu membuat masalah dengan nya?"


Alan mengedikan bahu tak tahu. "Aku hanya berkata bahwa Vony lebih waras dari pada putrinya, itu saja"


Kenzou menghela nafas kasar mendengar ucapan Alan, pantas saja Restu sampai membuat sahabatnya itu babak belur bahkan hampir mati dengan cara kroyokan. "Apa kamu tidak sadar akan ucapan kamu barusan?"


"Secara tidak langsung kamu membuat keadaan Vony juga ikut terancam seperti mu. Kamu lihat saja penampilan mu sekarang atas ucapan mu sendiri lantas bagaimana dengan istri mu yang kamu buat bahan perbandingan dengan Anggit?"


Alan yang baru sadar hal tersebut mengumpat atas kebodohan yang sudah ia berikan, tak seharusnya ia membawa Vony dalam masalahnya yang entah sampai kapan akan berakhir ini dan apa dampak buruk kedepannya.


"Kalo kamu tidak ingin terjadi hal buruk pada orang terdekat mu sebaiknya kamu segera menyelesaikan masalah mu dengan tuan Restu" sambung Kenzou.


"Kamu meminta ku untuk meminta maaf dengan tuan Restu?"


"Bukan"

__ADS_1


"Terus?"


Kenzou menegapkan tubuh menatap Alan dengan tatapan penuh wibawa. Alan yang melihat tatapan Kenzou merasa aura CEO pria itu mulai muncul bersama kebijakan-kebijakan pada diri dirinya. "Lunasi semua hutang mu dengan tuan Restu dengan begitu kamu tidak akan mendapatkan tekanan dan masalah kedepannya"


Kepala Alan kembali terasa pusing harus memikirkan kembali kondisi keuangan perusahaan nya sekarang. "Kamu tau keadaan perusaahan ku belum sepenuhnya pulih jadi aku belum bisa mengumpulkan uang sebanyak itu"


Kenzou memijat kening merasa tidak ada gunanya menjadi orang kaya kalo saja Alan masih bingung soal keuangan. "Apa kamu lupa aku dan istri ku orang kaya, bahkan mertua mu juga seorang pengusaha"


Alan mendengus kesal mendengar ucapan Kenzou. "Aku tidak ingin meminta bantuan pada mertua ku"


"Kalo begitu mintalah bantuan pada ku. Jarang-jarang kamu menemui orang kaya sangat dermawan seperti diriku" Kenzou menyombongkan dirinya.


Alan memutar bola matanya malas mendengar pengakuan dari Kenzou. "Aku..."


"Jangan fikirkan dirimu sendiri Alan, tapi fikirkan bagaimana nasib istri dan orang tua mu, apa lagi cepat atau lambat kamu akan menjadi orang tua" potong Kenzou kembali memberikan nasihat.


Alan terdiam menimbang-nimbang ucapan Kenzou yang ada benarnya, ia tidak tau sampai kapan ia bisa melunasi semua hutang-hutang itu dalam batas waktu yang telah Restu tetap kan dan apa saja dampak buruk yang akan ia terima jika hutang-hutang itu tidak segera ia lunasi. Menghela nafas panjang Alan terpaksa mengambil tawaran yang Kenzou berikan. "Kalo boleh aku meminjam uang mu untuk melunasi hutang perusahaan, dan akan aku ganti secara menyicil"


Kenzou tersenyum puas akan keputusan Alan. "Jangan lupa dengan bunganya"


Alan memutar bola matanya saat Kenzou malah membahas soal bunga tapi tak lama tawa Kenzou dan Alan pecah membuat suasana menjadi hangat.

__ADS_1


__ADS_2