
Erlad menoleh ke samping mendapati Vony yang mengantarkan kopi ke ruangannya. "Siapa yang menyuruh mu masuk?!"
"Bukan kah ayah yang mengatakan 'masuk' tadi saat Vony mengetuk pintu?" tanya Vony balik.
"Saya tidak memperbolehkan kamu masuk ke dalam!, dimana istri ku? kenapa bukan dia yang mentarnya"
"Mama nampak kelelahan jadi Vony suruh mama istirahat di kamar" jelas Vony.
"Lain kali kalo istriku tidak bisa mengantarnya biarkan bibi saja karena saya tidak mau meminum ataupun memakan apapun yang kamu bawakan!" dengan sengaja Erlad menyenggol cangkir kopi di samping tangannya hingga berserakan di atas lantai. "Karena itu semua tak lebih dari sekedar sampah!" tegas nya.
Bukannya menangis atupun mengeluarkan kata-kata sedih Vony menatap datar serpihan cangkir tersebut beralih menatap wajah Erlad yang tengah menaikan satu alisnya.
"Tidak apa kalo ayah tidak suka dengan kopi nanti Vony bisa buatkan teh, tapi sebelum itu ayah bisa merasakan biskuit ini, karena Alan saja bilang biskuit ini sangat enak bahkan anak ayah itu tidak berhenti memakannya" Vony menyodorkan piring berisi biskuit tersebut setalah mengambil satu keping dan langsung memakan nya.
"Apa ayah tau kalo Alan pernah berpacaran sebelumnya?"
"Dasar wanita tidak waras, cepat keluar dari rungan ku sekarang!"
"Alan memang tidak waras orang nya yah, bahkan sampai tidak waras nya, pria itu tidak pernah berpacaran, bahkan sekalinya bertemu dengan wanita langsung di ajak menikah hebat bukan?"
"Aku tidak peduli dengan omong kosong mu, sekarang cepat keluar!"
"Tadi seingat ku Alan mengeluarkan nya di dalam, katanya sih biar lega" dengan santainya Vony mengambil biskuit lagi di dalam piring beralih duduk di hadapan Erlad dengan meja sebagai pembatas nya.
"Cepat keluar sebelum saya melakukan hal kasar!"
__ADS_1
"Apa ayah ingin mendapatkan karma kekerasan pada menantu?, karena berita yang terakhir aku dengar pagi ini seorang mertua terpeleset di kamar mandi setelah mengusir menantunya"
"Apa kamu mencoba menyumpahi ku!"
"Tapi ayah tenang saja yang terpeleset itu seorang wanita, sedangkan ayah seorang pria jadi jelas karma nya akan berbeda"
"Cepat keluar!"
"Baiklah Vony akan keluar tapi sebelum itu apa ayah tidak ingin menanyakan bagaimana kebahagiaan ku bisa tinggal di rumah ini?" masih mencari topik Vony duduk dengan tenang di tempat saat Erlad mulai mencapai titik kemarahannya di ubun-ubun.
"Tidak karena apapun yang menyangkut dirimu itu tidak penting untuk ku!"
"Kalo begitu biarkan Vony saja yang mengatakan nya"
Brak!!!
Vony terpaku kaget saat Erlad memukul meja kerjanya dengan keras. Tanpa mengatakan sepatah kata pun Erlad langsung melangkah keluar ruangan setalah melepas kaca mata milik nya meninggalkan Vony sendiri di dalam sana.
"Beruntung aku tidak memiliki penyakit jantung" Vony mengusap dadanya. Memungut satu persatu serpihan kaca Vony merasa penasaran dengan laptop milik Erlad yang masih menyala, sepertinya pria itu lupa mematikan nya karena terlalu kesal.
Selesai memungut serpihan kaca Vony duduk di kursi Erlad, berniat ingin mematikan laptop matanya memicing memastikan apa yang ia lihat tidaklah salah.
"PT. PutraTama Company" guman Vony merasa pernah mendengar nama perusahaan tersebut sampai ia mengingat nama PT inilah yang di sebut Alan hari itu berkata dia di jodohkan dengan putri dari CEO PutraTama Company. "Jadi ini perusaahan ayah Anggit?"
Merasa ingin tau seluk beluk perusahaan itu Vony mengeluarkan ponselnya mengirimkan pesan pada Daniel.
__ADS_1
...Daniel...
|"PT. Putra Tama Company bergerak di bidang apa?
^^^"Memang ada apa nona?"|^^^
|"Jawab saja!"
^^^"Setahu saya PT. PutraTama Company bergerak di bidang tambang batu bara dan baru-baru ini perusahaan tersebut mulai bergerak di bidang pembangunan hotel. Bahkan kabarnya perusaahan ini juga bermain di dunia bawah menyebar luaskan barang ilegal tapi sayang kepolisan seakan-akan tutup mata dan telinga karena adanya sogokan sangat besar dari perusahaan ini"|^^^
"Apa kesuksesan perusahaan ini terletak di dunia bawah nya? sampai-sampai ayah ingin menjodohkan Alan dengan Anggit?" guman Vony setalah membaca pesan panjang dari Daniel.
Mengerakan tangan nya Vony mencari grafik keuangan perusahaan Alan mencari tahu bagaimana keadaan perusaahan itu.
"Astaga!" menutup mulutnya Vony di buat kaget dengan keadaan perusaahan Alan yang hampir gulung tikar kalo saja tidak mendapat suntikan dari perusahaan PutraTama Company. "Pantas saja ayah sangat menginginkan Alan menikah dengan Anggit kalo saja alasan nya adalah ini"
Menyandarkan punggungnya Vony masih menatap nominal yang sangat fantastis dari perusaahan Putra Tama Company ke perusahaan Wijaya Company. "Sama saja Alan di jual untuk kepentingan bisnis"
"Aku pikir nasib seperti ini hanya di rasakan kaum wanita seperti di novel-novel tapi sekarang pria juga bisa mengalami nya"
Tak ingin Erlad tiba-tiba masuk ke dalam dan memergokinya dengan cepat Vony mematikan layar laptop melangkah keluar dengan nampan di tangannya berjalan ke arah dapur untuk membuang serpihan kaca sebelum kembali ke kamar.
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1