My Assistant Husband

My Assistant Husband
Siuman


__ADS_3

Perlahan kelopak mata Alan terbuka langsung di sambut sinar sang surya yang memaksa masuk keruangan tersebut, beradaptasi dengan silaunya sinar matahari Alan mengamati setiap sudut ruangan sampai menangkap sosok wanita tengah tidur dengan menggenggam tangannya.


Mengarahkan tangan satunya Alan mengusap rambut Vony dengan tersenyum membuat sang pemilik juga ikut membuka mata merasa ada seorang yang tengah menganggu tidur lelapnya.


"Pagi" suara serak dan berat itu menyapa Vony sambil tersenyum.


Refleks Vony langsung duduk dengan tegap dan semakin memperkuat genggam tangannya. "Kamu sudah bangun? apa ada rasa nyeri yang kamu rasakan?" cecernya tak memperdulikan rasa pegal di punggungnya karena semalaman tidur dengan posisi yang salah.


"Sebentar aku panggil dokter terlebih dahulu" ucap nya dengan sangat cepat bahkan Vony keluar dari ruangan Alan setengah berlari wanita tersebut sepertinya lupa jika dirinya tengah berbadan dua sekarang.


Saat dokter tengah memeriksa Alan Vony dengan cepat menghubungi Salma memberitahunya kalo Alan sudah sadar sekarang.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Vony begitu dokter selesai memeriksa Alan.


"Semua nya baik nona dan ini obat yang harus tuan Alan minum setelah sarapan dan crim penghilang rasa nyeri untuk di oleskan ke memarnya" dokternya tersebut menyodorkan obat dan crim ke Vony.


"Kalo begitu saya permisi karena masih ada pasien yang masih harus saya kunjungi"


Vony mengangguk mempersilahkan, tak berselang lama seorang suster masuk ke dalam dengan membawakan nampak berisi makanan.


"Biar aku suapin" Vony mengarahkan satu sendok bubur ke arah Alan. "Enak?"


Alan menggeleng. "Rasanya hambar"

__ADS_1


"Nama nya juga makanan buat orang sakit ya begitulah rasanya"


Dengan telaten Vony menyuapi Alan yang terus memandangi nya tanpa henti. Vony mengentikan tangannya menatap wajah Alan.


"Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Vony setelah satu malam dirinya memikirkan bagaimana bisa suaminya sampai seperti itu. "Dan siapa yang membuat mu babak belur sampai seperti ini?"


Alan langsung menginggat kejadian kemarin dimana saat ia tengah mengendarai mobil ke arah kantor tiba-tiba lima buah mobil menghadang jalan nya dimana setiap mobil terdapat empat orang yang memintanya untuk turun. Saat dirinya bertanya baik-baik semua orang tersebut langsung menyerangnya secara bersamaan dari segala sisi membuat Alan yang sangat kewalahan untuk meladeni nya dan yang membuat Alan bingung lagi jalan yang biasanya ramai akan penggunaan jalan terasa sangat sepi bahkan tidak ada satupun orang disana seakan-akan jalan tersebut telah di sewa oleh seseorang.


"Saya tegaskan pada kamu kalo sampai satu kali lagi kamu mencari masalah dengan bos kami maka siap-siap hari itulah menjadi hari terakhir kamu di dunia!"


Perkataan itu membuat Alan yakin jika semua orang suruhan tersebut dikirim restu untuk mencelakainya.


"Alan" panggil Vony menggoyangkan tangannya.


"Kenapa malah ngelamun? bukannya jawab pertanyaan ku" kesal Vony memainkan bubur yang ada di tangannya.


"Aku juga tidak tau mungkin lagi apes saja" jawaban yang gamblang tersebut membuat Vony menatapnya curiga.


"Aku rasa kamu tidak sebodoh itu untuk mencari alasan yang logis untuk membuat ku percaya, dan juga kalo kamu dihadang seorang preman di jalan seharusnya yang babak belur itu mereka bukan kamu"


"Memang kenapa? kamu khawatir dengan keadaan ku?" goda Alan yang langsung membuat Vony salah tingkah.


"Ge-er!"

__ADS_1


"Lihat ini sampai matanya bengkak seperti orang habis nangis semalaman" Alan mengusap pipi Vony yang bengkak.


"Siapa juga yang nangis orang aku..aku..."


"Aku sangat khawatir, begitu?" celetuk Alan yang langsung mendapatkan pukulan dari Vony.


"Auuu"


"Ma-maaf, mana yang sakit?" Vony sedikit membuka baju rawat Alan mengecek lengan yang baru saja ia pukul. "Sini yang sakit? atau sebelah sini?" tanya Vony.


Alan tersenyum melihat raut wajah Vony yang khawatir tapi membohongi nya dengan sebuah ucapan.


"Tahan sayang ini masih di rumah sakit gak enak kalo mainnya di ranjang rumah sakit enakan juga di atas kasur yang empuk dengan suasana yang tenang"


Mendengar itu mata Vony membulat sempurna merasa kesal saat Alan malah mempermainkan nya seperti itu.


"Awas saja kalo udah sembuh!"


"Mau main kuda-kudaan?"


"Gak!" teriak Vony saat Alan benar-benar mesum.


Keduanya terus berdebat satu sama lain sampai pintu ruang inap Alan terbuka memperlihatkan Salma dan Erlad yang masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2