
"Kamu dari mana jam segini baru pulang?" suara mengintrogasi itu berhasil menghentikan langkah Vony yang baru saja pulang pada malam hari.
"Vony habis ke bar yah" jawab wanita itu santai.
Anggara berjalan mendekat ke arah putrinya yang berdiri di depan anak tangga. "Kamu minum?" selidik Anggara.
"Enggak yah, Vony ke bar cuma melepas lelah" ucapnya jujur.
Menajamkan indra penciumannya Anggara merasa putrinya itu tak sedang berbohong padanya. "Kamu sudah siapkan berkas-berkas buat pengajuan kerjasama dengan Jhonson Company besok?"
"Baru Vony selesaikan setengah, dan setelah ini Vony akan selesaikan dengan tuntas" jawabnya tak ingin mendapat amukan dari sang ayah kalo tau ia belum mengerjakan sama sekali berkas-berkas itu.
"Bagus selesaikan malam ini juga, dan besok ayah tak bisa menemanimu ke Jhonson Company karena ayah harus keluar kota buat dua hari kedepan, jadi besok kamu akan di temani orang pilihan ayah!"
"Syukurlah"
"Siap yah, ayah jangan khawatir untuk masalah besok serahkan semuanya pada Vony, Vony yakin besok Vony akan memberikan kabar gembira buat ayah" jawabnya dengan bahagia.
Menganggukkan kepalanya Anggara kembali kedalam kamar meninggalkan Vony yang tengah kegirangan di depan tangga. Berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya tempat pertama kali yang ia tuju adalah kamar mandi menyegarkan tubuhnya sebelum mengerjakan berkas-berkas yang harus ia selesaikan.
Berjalan kearah meja kerjanya di sudut ruangan wanita itu mendapati banyak sekali berkas yang harus ia bawa besok. "Kenapa bisa sebanyak ini?" membuka satu persatu map dimejanya Vony menyandarkan punggungnya dengan kasar.
"Bagaimana bisa aku menyelesaikan semua ini semua dalam waktu satu malam?" membuka layar laptop miliknya Vony mulai mengerjakan satu demi satu map tersebut.
Ia merutuki kebodohannya yang lebih memilih ke bar untuk bersenang-senang kalo di rumah saja segunung pekerjaan telah menunggunya. Tadi saat ia keluar dari dalam mall Vony memilih menuju bar langganan nya menghibur diri yang sudah sangat lama sekali tidak ketempat tersebut.
Waktu terus berjalan menunjukan pukul dua belas malam dan baru setengah berkas yang ia selesaikan, merasa tak kuasa menahan kantuk Vony memilih memejamkan matanya sebentar untuk mengembalikan tenaganya sampai alam mimpi yang indah datang menghampirinya.
***
Sinar matahari yang mulai memasuki celah-celah jendela kamar seorang wanita membuat penghuninya mulai terusik. Memegangi punggungnya yang terasa sangat pegal Vony mengerjakan matanya beberapa kali menatap jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
"Astaga!, berkas-berkasnya" membuka berkas-berkas di mejanya Vony memukul kepalanya pelan. "Tuhan kenapa bisa ketiduran sih" menyelesaikan satu berkas yang ada ditangannya Vony langsung melangkah terbirit-birit masuk kedalam kamar mandi.
Memilih baju secara acak Vony tak memperdulikan warna yang terpenting sekarang ia harus segera rapi dan harus sampai ke kantor melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda akibat keteledorannya.
__ADS_1
"Make up di kantor saja" memasukan bedak, lipstik dan minyak wangi kedalam tasnya Vony berjalan menuruni anak tangga.
"Bi, kok rumah sepi?" tanya Vony pada art yang sedang menyiram bunga.
"Tuan sama nyonya sudah pergi dari tadi non, katanya biar tidak kena macet" jelas art tersebut. "Non gak sarapan dulu?"
"Gak sempet bi, kalo gitu Vony berangkat dulu" masuk kedalam mobilnya Vony langsung melakukannya dengan kecepatan tinggi menuju kantornya.
Terjebak macet beberapa saat di jalan Vony akhirnya sampai ke kantor juga, masuk kedalam lift yang akan membawa keruangannya ia bertemu dengan seorang pria yang seumuran dengan dirinya.
"Nona Vony?" sapa nya saat Vony berjalan keluar dari dalam lift.
"Kamu siapa?" tanya nya bingung karena ia tidak pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya di kantor.
"Kenalkan nama saya Danil"ucapnya menjulurkan tangannya.
Menerima uluran tangan tersebut pria itu mulai menjelaskan mengenai dirinya. "Saya asisten baru anda yang dipilih oleh tuan Anggara untuk menemani anda ke Jhonson Company jam sembilan nanti"
Mendengar pria itu menyebut nama perusahaan Jhonson Company Vony kembali gelagapan. "Ikut saya!" menarik tangan pria itu tanpa menunggu persetujuan darinya Vony masuk kedalam ruangan dan langsung membuka laptop miliknya.
"Maaf nona, tapi tuan Anggara tidak memperbolehkan saya membantu anda dalam pekerjaan"
Mendengar itu Vony membuka mulutnya lebar. "Terus apa gunanya kamu jadi asisten saya!"
"Saya hanya menjadi asisten anda satu hari ini nona dan setelah itu saya akan kembali ke kantor cabang dan tuan Anggara juga berpesan tugas saya hanya menemani anda ke Jhonson Company sebagai perwakilan dari tuan Anggara"
"Sial!, apa gunanya ayah menyuruh orang ini jadi asisten ku kalo saja dia tidak bisa membantuku!"
"Keluar!" perintah nya. Mengangguk paham pria tersebut berjalan keluar dari ruangannya setelah mengingatkan satu jam lagi meeting akan di mulai.
"Terus ini bagaimana?" Vony menatap memelas berkas-berkas di hadapannya seperti meminta keajaiban ke pada sang pencipta untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Melanjutkan pekerjaannya Vony sebisa mungkin menyelesaikan berkas-berkas ini secepat mungkin alhasil wanita itu tak meneliti lagi pekerjan yang ia selesaikan dengan benar atau tidak yang terpenting selesai saja dulu pikirnya.
Tok...tok...
__ADS_1
Melirik jam di pergelangan tangannya Vony melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang, mengizinkan orang diluar sana untuk masuk, Danil memberitahu agar mereka segera berangkat sekarang agar tidak membuat pihak Jhonson Company tidak menunggu mereka terlalu lama.
Menganggukan pasrah Vony merapikan berkas-berkasnya berharap semua berkas itu benar dan sesuai dengan yang diinginkan pihak Jhonson Company.
"Kamu yang nyetir"menyerahkan kunci mobil miliknya Vony masuk terlebih dahulu untuk memoles wajah agar terlihat lebih segar setelah berfikir dengan sangat keras.
Danil melajukan mobil Vony membelah jalan ibu kota menuju perusahaan Jhonson Company. Sampainya di halaman gedung pencakar langit tersebut keduanya berjalan masuk membiarkan satpam memarkiran mobil mereka ke parkiran.
"Apa berkasnya sudah siap nona?"
"Sudah dan kau jangan terlalu cerewet!"
Diarahkan oleh seorang resepsionis keduanya mengikuti langkah wanita tersebut yang akan mengatakannya ke lantai teratas perusahaan ini.
Tok...tok...
"Masuk"
Menyuruh Vony dan Danil menunggu terlebih dahulu Wanita tadi membuka pintu ruangan Alan dan melihat asisten atasannya tegah fokus pada layar laptop. "Permisi tuan, orang dari Adhitama Company sudah tiba"
"Suruh mereka masuk" suruh Alan. Menutup berkas ditangannya Alan bangkit dari duduk merapikan jasnya yang sedikit berantakan dengan membelakangi pintu.
"Nona, tuan silahkan masuk tuan Alan sudah menunggu anda di dalam" ucap pegawai resepsionis membukakan pintu ruangan Alan mempersilahkan Vony dan Danil agar masuk.
Berjalan masuk Vony menatap punggung seorang pria yang tengah membelakangi dirinya, terlihat sangat kekar dan menawan walau hanya punggungnya saja. "Pasti asisten Kenzou tampan"
Berdeham terlebih dahulu Vony baru menyapa orang tersebut. "Selamat pagi tuan"
"Pagi, silahkan duduk" ujar Alan membalikan badannya menyuruh kedua orang tersebut untuk duduk tapi seketika kedua mata itu bertemu menyiratkan api dendam yang sepertinya sudah sangat lama di pendam.
"Kamu!" ucapnya secara bersamaan.
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️.
__ADS_1