My Assistant Husband

My Assistant Husband
Erlad


__ADS_3

Plak....


Suara tamparan begitu keras terdengar di dalam rumah milik Salma. Terkejut akan perbuatan suaminya yang tiba-tiba melayangkan tamparan tepat pada wajah Alan kedua tangan Salma menutup mulut.


"Siapa yang memberikan mu izin untuk menikah dengan wanita itu!" Bentak Erlad menatap tajam wajah putranya yang menoleh kesamping akibat tamparan yang baru saja ia layangkan.


"Apakah ayah akan memberikan ku izin untuk menikah dengannya?, tidak bukan?, jadi buat apa aku meminta restu ayah?!"


Alan yang tadinya sudah sampai diparkiran Jhonson company kembali mengendarai mobilnya menuju rumah Salma saat Erlad mengirimkan pesan agar dirinya segera kerumah kalo tidak Salma yang akan menjadi bahan taruhannya. Rasa sayang Alan pada sang mama membuat pria itu langsung pergi tanpa meminta izin Kenzou terlebih dahulu.


"Dasar anak tidak tau di untung!, apa ini balasan kamu setelah ayah membesarkan mu selama ini!"


Ujung bibir Alan membentuk sebuah senyuman sampai suara kekehan kecil lolos.


Plak....


Lagi, lagi Erlad menampar wajah merasa direndahkan akan kekehan dari mulut putranya.


"Yah, cukup jangan pukul Alan lagi. Ingat dia itu putra kita" ucap Salma menahan lengan Erlad.


Erlad yang baru saja pulang dari luar kota meminta Salma agar menghubungi Alan bersiap untuk nanti malam karena dirinya akan membawa Alan kerumah Anggit untuk melangsungkan pertunangan.


Salma yang tak ingin hal itu sampai terjadi langsung memberitahu kalo putra mereka telah menikah tadi malam. Awalnya Erlad tak percaya sampai Salma sendiri menunjukan foto ijab qobul Alan dengan Vony. Murka melihat foto itu tangan Erlad menepis benda pipih tersebut sampai berserakan di atas lantai, dan langsung mengirimkan pesan pada sang putra.


"Lihat, apa tingkah ini yang anda maksud membesarkan saya dengan baik?. Bahkan tingkah bejat anda saja tak pantas disebut sebagai seorang ayah!"


"Dasar anak durhaka!, sekarang ayah minta ceraikan istrimu itu dan ikut ayah kerumah Anggit!" Erlad menepis tangan Salma dari lengannya, beralih menarik pergelangan tangan Alan.


"Alan tidak akan pernah menceraikan Vony!, karena sampai kapanpun dialah istri Alan satu-satunya!" tegas Alan melepas tangan Erlad.


"Apa untungnya kamu menikah dengan wanita itu!"


"Alan menikahi Vony bukan untuk mencari keuntungan pribadi, seperti ayah yang rela menukar anaknya demi berbisnis dengan orang dunia bawah!"


"Jaga ucapan kamu!"


"Sudah cukup!!" teriak Salma. Ia tak tau sampai kapan perdebatan ayah dan putranya segera berakhir, disatu sisi ia mencintai Erlad suaminya, disatu sisi juga ia tak rela Alan menikah dengan wanita pilihan Erlad itu karena seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.


"Sampai kapan kalian akan terus bertengkar seperti ini?, apa kalian tidak ingin hidup layaknya yah dan anak pada umumnya?"

__ADS_1


Alan berjalan mendekat kearah Salma mengusap pundak sang mama yang bergetar karena tangisnya.


"Ini semua salah kamu terlalu membela dia dari kecil,dan lihat besarnya dia ngelunjak sama orang tua!"


"Ini bukan salah mama, ini semua salah ayah, coba kalo ayah tidak egois pasti kita bisa hidup dengan tenang sekarang!"


Mata Erlad beralih menatap Alan. "Kamu lagi, kamu anak durhaka!, ayah menyesal punya ank seperti kamu. Tau seperti ini ayah bunuh saja kamu dari bayi!"


"Yah!" tegur Salma dan Erlad melangkah menuju kamarnya meninggalkan Salma dan Alan.


Salma berbalik badan menatap wajah Alan, tangannya mengarah mengusap kedua pipi Alan. "Jangan dengarkan perkataan ayah kamu, dia hanya kelelahan setelah perjalanan bisnis"


Alan tersenyum kecut mengengguk kecil mengiyakan ucapan Salma. Tangan Alan menarik tubuh Salma masuk kedalam pelukannya.


"Kamu harta yang paling berharga di hidup mama sayang" ucap Salma lirih.


Bulir bening jatuh dari sudut mata Alan mendengar Salma yang berkata seperti itu. Dengan cepat tangan Alan mengusapnya agar ia tak terlihat lemah dihadapan Salma.


Alan melepaskan pelukan Salma mengusap sisa air mata di wajah mamanya. "Mama jangan nangis lagi, lihat makeup nya luntur semua" goda Alan.


Salma terkekeh geli mendengar ucapan putranya.


Salma mengangguk. "Pergilah, selesaikan pekerjaan mu dengan baik dan jangan lupa saat pulang nanti jemput istrimu"


"Iyah ma" Alan mencium kening Salma singkat sebelum dirinya berlalu pergi dari dalam rumah.


Alan mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh menuju perusahaan Kenzou.


Sampainya di lobi Alan meminta satpam agar memarkirkan mobilnya di tempat bisa. Melangkah dengan lebar Alan menuju ruangannya, ia harus menyerahkan dokumen yang belum sempat ia serahkan kepada Kenzou kemarin.


Masuk kedalam ruangannya Alan mengambil beberapa berkas, sebelum itu ia memastikan isinya terlebih dahulu agar tak keliru seperti hari itu karena dirinya tak ingin dipecat oleh Kenzou saat dirinya baru saja menikah, apa kata Anggara nanti.


Alan mengetuk pintu ruangan Kenzou terlebih dan langsung mendapat sahutan dari dalam. Mendorong pintu secara perlahan Alan berjalan kearah meja kerja Kenzou memberikan berkas kemarin.


"Tuan ini berkas-berkas kemarin"


Kenzou melepas kaca mata yang terpasang diwajahnya menatap dingin Alan. "Kamu baru datang?"


"I-iyah tuan"

__ADS_1


Tangan Kenzou menaikan sedikit lengan jasnya menatap jam berapa sekarang. "Jam setengah sepuluh lebih dua menit, dan kau baru datang Alan?, dari mana saja kamu sampai baru masuk kerja se siang ini?"


"Ma-maaf tuan, tadi saya ada urusan mendadak"


Dahi Kenzou menimbulkan garis harus. "Apakah urusan itu lebih penting dari pekerjaan mu?"


Alan mengangguk. "Soal keluarga" jawab Alan.


Hembusan nafas kasar terdengar dari mulut Kenzou. "Apa ini masih ada sangkut pautnya dengan ayah mu yang memintamu agar menikah dengan wanita gila itu?"


"Iyah" jawab Alan singkat.


"Apa kamu masih tidak setuju?"


Alan membalas tatapan mata atasan sekaligus sahabatnya itu. "Di dunia ini tidak ada yang mau menikah dengan orang gila tuan, termasuk saya" jawab Alan.


"Hahaha, kenapa? bukankah wanita gila itu cantik?" ucap Kenzou yang sedikit tau akan Anggit wanita pilihan Erlad itu.


"Ck, apa anda ingin mengejek bawahan anda ini?"


Kenzou bangkit dari duduknya menepuk pundak Alan. "Jangan panggil tuan kalo kita tengah berdua seperti ini"


"Tapi ini kantor tuan, bukan tempat umum" jawab Alan.


"Ayolah Alan kamu terlalu formal setelah menjadi asisten ku"


Alan hanya diam tak membalas ucapan Kenzou.


"Begini saja kalo kamu tidak ingin menikah dengan Anggit setidaknya segera menikahlah"


"Tanpa kau minta aku sudah menikah terlebih dahulu!"


"Untuk sekarang saya belum punya niatan untuk menikah"


"Terserah kau, kalo sampai tiba-tiba ayah mu itu menjodohkan mu aku harap kau tidak menyesal" ucap Kenzou kembali duduk ke kursi kebesarannya menandatangani berkas yang diberikan Alan.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2