My Assistant Husband

My Assistant Husband
Hal Yang Tidak Terduga


__ADS_3

Melihat sang istri nampak kesusahan menaikan resleting gaun nya, Alan berjalan mendekat berdiri tepat di belakang Vony, tanpa perintah apapun Alan menaikan resleting gaun sang istri. Merengkuh pinggang ramping nya dari belakang, menyandarkan dagu pada pundak Vony menatap wajah cantik sang istri dari pantulan kaca.


"Terimakasih" Vony menoleh ke samping dimana ia bisa melihat wajah Alan dengan jelas, tak dapat di pungkiri jika laki-laki yang tengah memeluk nya sekarang sangat lah tampan.


"Hanya terimakasih?"


"Kalo kamu tidak ikhlas melakukan nya, maka biarkan saja aku tadi" kesal Vony tanpa mengalihkan pandangannya dari pahatan wajah Alan.


"Aku hanya bercanda, kenapa kamu se-sensi ini?"


"Karena kamu sangat menyebalkan!"


Alan yang tadi menatap ke arah cermin beralih menatap wajah Vony mendaratkan ciuman singkat pada bibir merah sang istri. Kekehan kecil keluar dari mulut Alan saat reaksi kaget Vony sangat menggemaskan di matanya.


"Siapa yang menyuruh mu mencium ku!"

__ADS_1


"Apa ada larangannya suami mencium istrinya sendiri?" Tanya Alan menaikan sebelah alis nya.


"Ya, ya, tentu saja ada"sangah Vony. "Sudahlah kita bisa terlambat kalo kamu terus seperti ini!" Melepas pelukan Alan Vony meraih tas nya di atas nakas berjalan menuju pintu kamar.


Sebelum meraih headline pintu, Alan terlebih dahulu berdiri didepannya menunjukan lengan nya meminta Vony untuk mengandeng nya sebelum keluar dari dalam kamar, menatap sejenak tingkah sang suami Vony meraih lengan Alan dan hal itu sukses membuat Alan tersenyum lebar. Menuruni anak tangga Vony melihat Erlad tengah duduk di sofa bersama Salma yang sudah siap untuk berangkat ke pesta pernikahan sang mama.


"Kalian sudah siap?" tanya Salma di angguki keduanya.


Erlad yang memilih diam keluar terlebih dahulu di ikuti Salma dari belakang. Vony menatap bingung punggung ayah mertuanya beralih menatap Alan yang tengah membenarkan kancing jas nya.


"Ayah ikut?"


"Kamu yang mengajaknya?" melihat Alan mengangguk Vony membelakkan mata tak percaya. "Apa yang membuat ayah mau ikut kita ke pesta?"


"Aku hanya mengajaknya dan berkata kalau ayah mu ingin berkenalan dengan nya"

__ADS_1


"Hanya itu?" tanya Vony memastikan, karena jawaban Alan begitu mustahil untuk di percaya begitu saja.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang jika ayah ingin berkenalan dengan besan nya?, jadi aku menyampaikan amanat dari ayah mertuanya pada ayah itu saja"


"Tapi-"


"Tadi kamu bilang kita akan telat jika kita terus seperti ini, jadi ayo kita berangkat sekarang"


"Tapi Alan ayah-"


Lagi-lagi ucapan Vony terpotong saat Alan menuntun tubuhnya keluar rumah, tak membiarkan nya menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu. "Kita harus segara berangkat kalo tidak mama mu akan mempertanyakan alasan kita terlambat"


"Memang kenapa kalo mama menanyakan hal itu?"


"Maka aku akan menjawab kalo kita tadi sedang asik membuat kan cucu untuk nya"

__ADS_1


Vony melepaskan tangan Alan yang berada di pundaknya, menatap tajam wajah sang suami. "Dasar tidak waras!" gerutu Vony sedikit berlari menuju pintu mobil, tak ingin jika sang mama benar-benar menanyakan hal tersebut.


Alan mengeleng kecil melihat tingkah Vony yang kadang seperti anak kecil dan berubah menjadi sangat galak. Masuk ke dalam mobil mengendarainya meninggal halaman rumah di ikuti mobil Erlad dan Salma dari belakang.


__ADS_2