
Melihat Alan yang terlihat sangat kacau seperti itu membuat Vony merasa bersalah seharusnya ia mencarikan solusi untuk Alan bukan membuat beban pikiran pria itu bertambah besar.
"Apa aku meminta ayah untuk menyuntikan dana pada perusahaan ini saja?" usul Vony memperkecil volume suaranya.
"Apa kamu bilang?"
"Bagaimana kalo kamu minta bantuan ayah untuk menyuntikan dana di perusahaan ini" Ulang Vony melihat Alan langsung menegapkan tubuh Vony juga ikut melakukan hal yang sama. "Biar keuangan perusahaan ini bisa stabil kembali, mungkin jumlah yang akan di berikan tidak akan bisa sebesar yang ayah Anggit berikan hanya saja-"
"Kamu ingin mempermalukan ku di hadapannya orang tua mu?!"
Suara Alan yang melengking membuat Vony memejamkan mata beberapa saat tak menyangka jika Alan yang biasanya bersikap lembut padanya bisa berbicara dengan nada setinggi itu.
"Kamu tau keadaan perusaahan ini sedang tidak baik-baik saja dan kamu ingin memanfaatkan hal tersebut dengan cara meminta bantuan kepada ayah mu untuk menyuntikan dana nya ke perusahaan ini agar ayah mu tau kalo menantu nya ini sebentar lagi akan menjadi orang miskin?"
__ADS_1
"A-alan bukan seperti itu-"
"Terus seperti apa? apa kamu tidak mau hidup miskin dengan ku? atau jangan-jangan kamu ingin meninggalkan ku karena sebentar lagi aku akan menjadi orang miskin?" potong Alan dengan nafas memburu.
Vony menggeleng cepat meralat semua ucapan Alan yang tak benar satupun. "Kalo kamu tidak ingin meminta bantuan kepada ayah tidak masalah lagian aku cuma memberikan mu saran karena aku tidak kuat melihat mu seperti ini, dan juga aku tidak pernah takut untuk hidup miskin dengan mu apa lagi berniat untuk meninggalkan mu di saat seperti ini!"
Rasa bersalah menghampiri Alan saat dirinya langsung terbakar api amarah di saat Vony yang berniat baik memberikan nya solusi. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud berbicara dengan nada tinggi seperti tadi hanya saja aku benar-benar pusing memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini"
Alan tersenyum bahagia menarik tubuh Vony kedalam pelukannya. "Sekali lagi maafkan aku"
"No problem" Vony menikmati dekapan hangat Alan menghirup aroma maskulin yang selalu ia rindukan itu. "Alan bagaimana kalo kita juga ikut menjadi model?" usul nya.
Melihat Vony mengatakan permintaan nya dengan serius Alan bertanya memastikan. "You're serious?"
__ADS_1
"Yes, I want to feel what it's like to pose in front of the camera"
"Kalo itu yang kamu inginkan aku akan mengabulkannya"
"Thank you"
"Bukankah tadi kamu bilang ingin makan es krim bukan?" Vony mengangguk kecil. "Kalo begitu kita berangkat sekarang, kamu bebas memilih es krim apapun nantinya"
Vony melepaskan pelukan Alan menatap kegirangan wajah tampan Alan. "Apa aku boleh meminta es krim rasa taro dan stroberi?"
"Bahkan semua rasa bisa kamu dapatkan nanti" jawab Alan.
"Kalo seperti yang itu kita berangkat sekarang" Vony menarik tangan Alan keluar ruangan dengan langkah lebar, bahkan sesekali Alan memperingati wanita itu untuk berjalan pelan-pelan saja tapi sepertinya rasa bahagia Vony begitu besar hanya karena sebuah es krim.
__ADS_1