My Assistant Husband

My Assistant Husband
Makan Siang


__ADS_3

Alan berdiri didepan cermin memasang dasi berwarna hitam pada kerah bajunya. Meraih tas kerja miliknya Alan melangkah keluar menuju meja makan untuk menikmati secangkir kopi sebelum berangkat ke kantor.


Dret...dret....


Bunyi dering ponselnya Alan meraih benda pipih tersebut diatas meja. Melihat nama Vony yang tertera pada layar ponselnya Alan memilih mengabaikan panggilan tersebut. Bangkit dari duduk Alan berjalan keluar apartemen menuju parkiran.


Melajukan mobilnya menuju Jhonson company notif ponselnya kembali berbunyi, melihat pesan yang dikirim wanita itu Alan menepuk jidatnya pelan.


...Cewek Jelek...


|"Apa kamu lupa menjemput ku tuan Alan?"


|"Apa kamu kemarin cuma basa-basi saja?"


|"Kamu tau mama ku menunggu ku di depan rumah sampai kau datang!"


|"Heh pria jelek!, datang kerumah ku sekarang juga!"


|"Kamu punya mata bukan?, jadi cepat sekarang kerumah ku!!"


Menaruh kembali ponselnya tanpa membalas pesan tersebut terlebih dahulu Alan langsung melajukan mobil menuju rumah Vony.


Sampainya di halaman rumah Alan melihat wanita itu benar-benar berdiri bersama mamanya seperti anak TK yang tengah menunggu jemputan.


Keluar dari dalam mobil Alan menyapa Livia terlebih dahulu dan beralih menatap Vony yang tengah menyilangkan tangan didepan dada.


"Maaf tante saya telat"


"Berani sekali dia bicara tanpa beban seperti itu"


"Tidak apa maklum kalo kamu telat" ucap Livia mengusap lengan Alan lembut.


Beralih melihat Vony yang masih menatapnya kesal Alan mencibir dalam hati. "Sifat anaknya sangat jauh dari mamanya,apa mungkin dia anak pungut?"


"Kamu sudah sarapan?" tanya Livia.


Melihat sang mama yang malah menawarkan makanan Vony terlebih dahulu menolaknya. "Dia tidak biasa sarapan pagi, jadi lebih baik kita berangka sekarang saja. Bilangnya mau jemput tapi sampai setengah jam gak datang-datang!"


"Sayang" tegur Livia tak suka melihat sikap jutek sang anak.


Vony memutar bola matanya malas dan langsung berpamitan kepada Livia berangkat kerja di ikuti Alan yang juga langsung masuk kedalam mobil.


Livia benar-benar menunggu anaknya sampai mobil Alan tak nampak dari pandangan mata baru ia bisa masuk kedalam rumah dengan perasaan bahagia.


Di dalam mobil tercipta keheningan dua manusia itu tidak ada yang mengeluarkan suaranya untuk saling bertegur sapa.


Sampai di gedung pencakar langit Vony membuka suara sebelum turun.


"Nanti siang tidak usah menjemput ku, karena aku bisa makan siang sendiri!"


"Hei nona, apa kau pikir aku berniat makan bersama mu?, tidak sama sekali!"

__ADS_1


"Bagus kalo seperti itu" ucap Vony tak kunjung beranjak dari duduknya.


"Lebih bagus lagi kalo kamu segara turun dan masuk kedalam sana mengerjakan surat pengajuan kerjasama dengan baik dan benar!"


Mendengar usiran halus yang dilayangkan Alan, Vony meremas udara dihadapannya dengan kuat. Berjalan keluar Vony membanting pintu mobil dengan sangat keras membuat Alan yang berada di dalam terperanjat kaget.


Berjalan masuk Vony bertemu sang ayah yang hendak keluar bersamaan sekretarisnya.


"Kamu baru datang?"


"Iyah, Alan telat menjemput ku tadi" jawabnya jujur.


Anggara mengangguk paham karena saat ia berangkat tadi putrinya juga belum berangkat. "Tadi sebelum ayah berangkat mama pesan agar kamu makan siang bersama Alan dirumah"


"A-apa?, kenapa mama tidak bilang kepada ku?" tanya Vony yang kaget saat mendapatkan kabar seperti itu.


Anggara mengangkat bahunya tanda tak tahu, setelah memberikan informasi dari sang istri Anggra dan sekertarisnya melangkah keluar menuju tempat meeting.


Vony menatap memelas punggung Anggara yang sudah tak terlihat. Melangkah malas menuju ruangannya Vony merasa hukum alam yang selalu membuatnya dengan Alan harus terus bersama.


Menyandarkan punggungnya kasar Vony membuang pandangannya keluar jendela membayangkan akan seperti apa hubungan yang akan ia jalani kedepannya bersama Alan kalo awal an nya saja sudah seperti ini.


Ting...


...Pria Jelek...


|"Pastikan dokumen itu selesai besok karena tuan Kenzou sudah memintanya!"


"Kenapa semua orang seolah-olah selalu membuatku harus terus dekat dengannya?" lenguh Vony memulai membuka laptop dihapannya.


Menyelesaikan laporan kerjasama, Vony melanjutkan pekerjaannya beruntung hari ini tidak terlalu banyak dokumen yang harus ia kerjakan sehingga dirinya sedikit bisa bersantai.


Matahari yang tadinya masih berada di ufuk timur sekarang sudah berada di atas menandakan siang hari telah tiba. Cleaning servis yang biasanya akan membersihkan setiap ruangan saat pegawai kantor tengah makan siang membuat Vony mengalihkan pandangannya ke seorang yang masuk kedalam.


"Maaf nona jika menganggu" ucapnya merasa tak enak saat Vony masih berada di mejanya.


"Apa sekarang sudah siang?" tanya Vony.


Cleaning servis tersebut mengangguk. "Iyah nona sekarang sudah siang, apa anda mau saya belikan makan siang?" tawarnya.


Vony menolak niat baik tersebut. Meraih tas miliknya Vony mencari kontak Alan pada layar ponselnya menghubungi pria tersebut beberapa kali tapi tak kunjung mendapatkan sahutan.


merasa kesal Vony mengirim pesan singkat pada Alan meminta pria tersebut datang ke rumah untuk makan siang yang tentunya sang mama menjadi pemicu utama.


Memesan taksi online Vony melesat menuju rumahnya. Sesekali ia menatap layar ponsel apakah Alan sudah memberikan jawaban atau belum karena pasti saat ia datang nanti Livia akan menanyakan soal Alan, Alan dan Alan.


Menghela nafas pelan sebelum keluar dari dalam taksi Vony menatap bingung mobil yang sudah terparkir di halam rumahnya, seperti pernah melihat mobil tersebut beberapa kali tapi ia sendiri lupa siapa pemiliknya.


Merasa penasaran akan siapa pemiliknya Vony langsung masuk kedalam rumah. Berjalan sedikit berlari kearah meja makan, dari kejauhan ia melihat dua pria yang satu Anggara dan satunya lagi membelakanginya sehingga Vony tak bisa menatap wajah pria tersebut.


"Sayang kamu sudah sampai?" tegur Livia dari arah dapur yang membawa satu piring lauk.

__ADS_1


"Iyah ma" jawabnya singkat.


"Ayo dong duduk kita semua udah nunggu kamu termasuk Alan"


"Alan?, kenapa pria itu tiba-tiba bisa ada di sini?"


Melangkah mendekat ia benar-benar melihat Alan yang sudah berada di sana dengan wajah tanpa ekspresi.


Seperti tau akan kebingungan sang anak Livia mengeluarkan suaranya lagi. "Tadi mama wa Alan minta dia agar kesini"


"Mama dapat nomernya dari mana?" tanya Vony bingung. Karena saat ia mengirim pesan pria itu tak menjawab satupun telfon atau pesan yang ia kirim.


"Tadi malam saat kamu pamit ke kamar mandi, mama minta nomor Alan siapa tau kapan-kapan mama butuh" jelas Livia.


"Ayo dimakan nak Alan jangan malu-malu" ucap Livia.


Memulai makan siang, Vony dan Anggara hanya menjadi penonton setia keakraban Livia dengan Alan seperti orang yang sudah kenal sejak lama.


"Ngomong-ngomong orang tua kamu ada di kota ini juga?" tanya Livia.


"Iyah tante, tapi saya memilih tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor"


"Kenapa begitu?" tanya Vony yang merasa ada kejanggalan dari ucapan Alan.


"Kenapa kamu harus bertanya seperti itu Vony?, jelas-jelas kalo Alan memilih tinggal di apartemen dekat kantor agar ia tidak telat!"


Melihat sang mama yang menjawab ucapannya Vony menutup mulut rapat memilih melanjutkan makan siangnya.


"Apa tante boleh ketemu sama mama kamu?"


Uhuk...uhuk....uhuk...


Semua pandangan mata beralih menatap Vony yang tiba-tiba saja terdesak.


Meneguk air hingga tandas Vony menjawab ucapan sang mama. "Kenapa mama tiba-tiba ingin bertemu mama Alan?"


"Apa salahnya jika mama berkenalan dengan calon besan?"


Vony menelan salivanya dengan susah payah menatap Alan yang tengah menatapnya juga. Memberikan kode pada pria itu untuk mencari alasan.


"Sebaiknya jangan sekarang tante"


"Kenapa?"


"Ka-karena mama sama ayah lagi keluar kota, Iyah keduanya tengah keluar kota untuk satu minggu kedepan"


"Yah sayang sekali padahal tante ingin kenalan sama calon besan"


Melihat sang istri cemberut Anggara meraih tangannya lembut. "Kita masih bisa bertemu mereka saat mereka telah pulang dari luar kota, bukan begitu Alan?"


"I-iyah om" jawab Alan terbata-bata.

__ADS_1


***


Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2