My Assistant Husband

My Assistant Husband
Grafik Penjualan


__ADS_3

"Lan" panggil Vony masuk ke dalam kamar membawakan secangkir kopi menaruhnya di atas nakas. "Belum selesai juga kerja nya?"


"Belum" jawab Alan tersenyum simpul sebelum meneguk kopi buatan sang istri.


"Apa kamu belum juga menemukan solusinya?" Sampai malam hari Vony masih bisa melihat ekspresi wajah yang sama dari Alan, pria itu sepertinya benar-benar pusing sekarang harus memutar otak sekeras mungkin agar semuanya kembali seperti sedia kala.


"Sebenarnya sudah ada solusi untuk ini" Alan menggantung ucapannya membuat Vony manik mata Vony nampak sangat penasaran.


"Apa itu?"


"Aku akan menutup empat perusaahan dan delapan pabrik"


"Apa?" pekik Vony kaget dengan solusi yang di ucapkan Alan, bagi Vony ini bukanlah solusi melainkan masalah baru dengan menutup perusahaan dan pabrik sebanyak itu. "Itu namanya bukan solusi Alan! itu namanya menambah masalah"


"Kamu tau bukan berapa milyar uang akan hilang kalo perusahaan dan pabrik akan kamu tutup secara bersamaan sebanyak itu?!"

__ADS_1


"Aku tidak memiliki solusi lain Von, lagian kalo aku tetap mempertahankan beberapa perusahaan dan pabrik aku juga masih harus membayar tenaga kerjanya dan juga yang harus kamu tau produk perusaahan mama sekarang sedang menurun drastis, kamu bisa lihat sendiri kalo tidak percaya" Alan menampilkan layar dimana jumlah produk terjual tahun ini berbeda jauh dari tahun lalu.


"Sebentar" Vony meraih laptop yang ada di pangkuan Alan melihat grafik penjualan dari lima tahun lalu. "Perusaahan mama bergerak di bidang cosmetik?" Vony menatap sang suami yang langsung mengangguk.


"Disini terlihat sangat jelas jika penjualan lima tahun lalu masih sangat banyak peminatnya tapi kenapa dari tahun ke tahun jumlah nya menurun drastis?" tanya Vony lagi, matanya masih sibuk menara grafik di hadapannya.


Alan menyandarkan punggung ke headbor menghela nafas panjang menatap lurus kedepan. "Karena produk yang perusahaan mama keluarkan kalah dengan perusaahan lain"


Vony langsung menatap wajah Alan yang juga ikut menatapnya, kedua suami istri tersebut saling tatap dalam waktu yang cukup lama sampai Alan mengeluarkan suara.


"Ada apa?"


"Iyah aku tau itu, terus?"


"Kamu benar-benar tidak tahu?"

__ADS_1


Alan mengerakan bahu kembali ke posisi awal. "Aku tidak bisa berfikir kali ini Von, aku sudah cukup pusing dengan masalah pabrik dan perusahaan yang ditutup"


"Alan ini masalah yang seharusnya kamu tangani" ucap Vony membuat kening Alan menimbulkan garis halus. "Kalo jika penjualan di kalangan orang dewasa menurun dratis seharusnya kamu membikin produk yang digunakan untuk para pelajar dan mahasiswa. Kamu lihat sendiri kalangan milenial sekarang dari semuanya menggunakan cosmetic bahkan sekarang sudah ada produk yang di gunakan anak bayi sampai anak yang baru berumur belasan tahun"


"Kamu betul juga kenapa aku dari tadi tidak kepikiran masalah ini?" ucap Alan menyesal karena seharusnya ia memikirkan solusi ini sejak tadi pagi dan mungkin saja ia bisa langsung meeting dengan orang kantor tentang masalah ini.


"Besok aku akan langsung membahas hal ini dengan orang kantor, tapi aku juga ingin kamu datang ke kantor bersama ku besok pagi"


"Kenapa aku harus ikut?" Kening Vony menimbulkan garis halus saat Alan akan membawanya besok.


"Siapa tau kamu punya masukkan lagi untuk masalah ini" Alan meraih tangan Vony di genggamnya kuat tangan yang sangat lembut tersebut. "Jika biasanya kamu meminta bantuan ku bolehkah sekarang aku meminta bantuan mu?"


"Tapi aku tidak semahir diri mu"


"Setidaknya kamu menemani saja dulu aku besok pagi, aku mohon" pinta Alan penuh harapan.

__ADS_1


"Baiklah besok pagi aku kan ikut kamu ke kantor"


Mendengar Vony yang langsung menyetujui nya Alan membawa tubuh sang istri masuk ke dalam dekapan hangat yang hanya bisa ia berikan malam ini untuk ucapan terimakasih.


__ADS_2