
"Tapi sebelumnya maaf tuan apa anda yakin ini akan berhasil?" ucap seorang yang nampak ragu dengan keputusan yang akan Alan ambil.
"Maaf saya menyela sebentar" Vony mengeluarkan suara mengenai kritik tersebut. "Mungkin disini masih ada yang ragu mengenai produk yang akan kita keluarkan, tapi saya yakin jika kita memutar stir ke arah yang peminat nya lebih banyak seperti ini untung yang kita dapatkan juga akan lebih banyak bukan?"
"Dan bukan hanya produk saja yang harus kita bikin menjadi baru melainkan dari segi pengemasan dan segi promosi juga harus kita perhatikan"
"Contohnya nona?"
"Contohnya seperti ini" Vony mengambil cosmetics yang sengaja di sediakan di meja meeting menunjukan nya pada semua orang. "Kalian semua bisa melihat pengemasan produk kita terlihat polos hanya ada merek dan beberapa gambar saja itu mungkin faktor pertama kenapa pelanggan yang seharusnya membeli produk kita beralih pada produk lain karena pengemasan kita terlebih dahulu tidak memikat minat mereka dan kenapa kita tidak bisa bikin yang jauh lebih menarik dari ini? seperti warna dan disain nya di rubah menjadi kekinian?"
"Dan faktor kedua yang bisa kita lihat sekarang banyak merek cosmetics di sponsori oleh selebgram cantik maupun tampan di luar sana yang akan mendongkrak penjualan kita menjadi meningkat dan kenapa kita tidak mencoba hal tersebut?"
"Tapi nona kita sudah memiliki ambasador sekarang apa itu terlalu pemborosan untuk membayar selebgram seperti yang anda ucapkan tadi hanya untuk memasarkan produk kita?"
__ADS_1
"Kalo boleh tau kapan masa kontrak ambasador kita berakhir?"
"Satu bulan lagi nona"
Vony tersenyum lebar mendengar masa kontrak yang di sebutkan, satu bulan bukanlah waktu yang lama dan tentu itu bukanlah masalah besar. "Kalo begitu satu bulan lagi kita akhiri masa kerja dengan ambasador tersebut"
"Tapi nona dia meminta kepanjangan kontrak dengan kita, bahkan kabar terakhir yang saya dengar dia ingin memperpanjang kontrak selama lima tahun kedepan"
Semuanya mengangguk paham kembali ke pembahasan produk dari pemilihan bahan baku sampai berapa total yang akan mereka pesan dalam jumlah besar. Sedangkan Alan? pria yang seharusnya memimpin meeting siang itu terlalu fokus pada sang istri yang duduk di sampingnya nampak sangat telaten menjelaskan dan menyelesaikan masalah dengan sangat cepat, apa lagi wajah serius yang Vony keluarkan sekarang nampak sangat cantik di mata Alan bahkan pria itu tak bisa mengedipkan mata sebentar saja.
Hampir satu jam rapat berlangsung semua yang hadir setuju dengan solusi yang Vony keluarkan dan mereka semua tinggal menunggu jadwal pembuatan produk baru karena masih harus memesan bahan mentah yang bisa memakan waktu kurang lebih satu minggu.
"Kamu capek?" Alan menyisir rambut Vony yang duduk di kursi kebesarannya sedangkan dirinya duduk di atas meja berhadapan dengan Vony. "Mau aku pesankan makanan?"
__ADS_1
Vony mengeleng menolak tawaran Alan. "Aku mau makan diluar saja"
"Kamu yakin tidak ingin makan disini? di luar cuacanya sangat panas sekali"
"Aku ingin makan es krim Alan aku sudah lama tidak memakannya" rengek Vony memainkan dasi Alan.
Melihat Vony yang nampak sangat menginginkan es krim Alan meraih tangannya. "Kalo begitu kita pergi sekarang"
Vony tersenyum senang meraih tas di atas meja menerbitkan senyum yang begitu manis.
BRAK!!!
Baru keduanya akan berjalan ke arah pintu suara pintu terlebih dahulu terbuka begitu keras menghentikan langkah sepasang suami istri yang hendak keluar tersebut.
__ADS_1