My Assistant Husband

My Assistant Husband
Pelindung


__ADS_3

"Alan!!" teriak Vony saat mendapati Alan yang tak berada di dalam apartemen setelah ia keluar dari dalam kamar mandi. Perutnya yang keroncongan meminta agar segera di isi sedangkan dirinya sendiri tak pintar dalam urusan masak memasak.


"Alan kamu dimana!"


Ceklek...


Suara pintu terbuka membuat kaki Vony dengan cepat berjalan kearahnya. Dan benar saja Alan masuk dengan sekantung plastik berwarna hitam.


"Kamu dari mana?" tanya Vony penasaran mengikuti langkah Alan kearah dapur.


"Aku tadi keluar sebentar beli makanan" jawab Alan meraih dua piring.


Langkah Vony seketika terhenti menatap Alan yang tengah memindahkan makanan ke dalam piring. "Apa kamu tau aku tidak bisa masak?"


Bibir Alan menarik membentuk sebuah senyuman. Menaikan pandangannya Alan menatap wajah Vony yang berada di sebrang sana. "Mama yang bilang kalo kamu tidak bisa masak, jadi aku membelikan makanan siap saji. Kemarilah sebelum makanan ini dingin."


Menarik kursi dihadapannya Vony duduk didepan Alan. "Apa kau keberatan dengan hal ini?" tanya Vony hati-hati.


Alan mengeleng. "Aku tidak pernah keberatan dengan apapun, hanya saja jika sesuatu itu mengusik orang terdekat ku tentu aku akan sangat keberatan" jawab Alan memasukan makanan kedalam mulutnya.


"Jadi itu artinya kamu akan melindungi ku?" sadar akan ucapannya Vony mengigit bibir bawahnya karena telah salah bicara.


"Apa cewek gila kaya kamu butuh perlindungan?" goda Alan.


Melihat Alan yang mulai menggodanya membuat raut wajah Vony menjadi kembali biasa. "Jangan salah paham, aku hanya bertanya!. Tanpa kau jaga aku sudah bisa menjaga diriku sendiri!" jawab Vony memasukan makanan kedalam mulut.


"Benarkah?" Alan menyilangkan kedua tangannya didepan dada menamati Vony yang tengah makan dengan lahap. "Tapi kamu harus tau menjadi bagian keluarga ku bukan lah hal yang mudah, kau harus berjaga-jaga setiap keluar dari sini karena bisa saja nyawa mu melayang besok diparkiran apartemen, karena setiap pergerakan ku pasti dipantau oleh musuh diluar sana" ucap Alan menakut-nakuti.


Baru tangan Vony akan memasukan suapan terakhir, dengan cepat ia letakkan kembali sendok ditangannya. "Kamu serius?" tanya Vony tersirat rasa takut.


Ia tau Alan bukanlah CEO ataupun Direktur di perusahaan nya sendiri tapi bagaimana pun Alan bekerja di Jhonson Company, dimana dirinya juga tau kejamnya dunia bisnis saat ini. Bahkan mereka dengan tega membunuh musuh mereka tanpa belas kasih.


"Tentu, kenapa aku harus berbohong?" ingin rasanya Alan tertawa melihat wajah yang selalu tampil galak itu berubah menjadi penakut seperti anak kucing.


Dengan gerakan cepat Vony pindah tempat duduk disamping Alan, memegang lengan kekar suaminya. "Bagaimana kalo kita menyewa bodyguard untuk menjaga kita saat berpergian?" ujar Vony memberikan ide.


"Astaga perempuan ini, apa dia benar-benar percaya?"


"Setidaknya kita bisa sedikit aman" lanjut Vony.


Alan menutup mulutnya seperti orang yang tengah membersihkan sisa makanan agar senyum yang tak bisa ia tahan tak terlihat oleh Vony. "Itu tidak perlu, cukup kamu dekat dengan ku, aku pastikan kamu selalu aman"


Plak...

__ADS_1


"Auuu" ringis Alan pura-pura sakit pada bagian lengan yang baru saja mendapatkan sebuah pukulan.


"Jangan modus!"


"Aku tidak modus, hanya saja itu sebuah kenyataan!" ralat Alan.


Vony memutar bola matanya malas. "Bilang saja kamu ingin selalu dekat dengan ku, makanya kamu ngarang cerita seperti itu!"


"Itu kenyatannya, kamu tidak tau karena kamu baru menjadi istriku, lihat saja kedepannya" jawab Alan meneguk air minumnya.


"Aku harap ucapan ku tidak akan pernah jadi kenyataan"


"Sudah malam lebih baik kita segera tidur, besok kita harus bangun pagi untuk berangkat kantor" lanjut Alan bangkit dari duduk membawa piring kotor keduanya ke wastafel.


Vony masuk kedalam kamar Alan yang telah resmi menjadi kamarnya sekarang. Sedangkan Alan pria itu berpindah tempat tidur di sofa ruang tamu, dengan satu buah bantal dan selimut yang menjadi awal tidurnya.


***


"Alan bangun" Vony menggoyang tubuh Alan pelan.


"Hmmmm"


"Alan ayo bangun, kita bisa terlambat!" ucap Vony sedikit keras saat Alan tak kunjung membuka matanya.


"Kenapa kamu bisa ada di rumah ku?, siapa yang menyuruh kamu masuk hah!, pergi sekarang!"


"Apa kau ingin mengusir istrimu sendiri?!" kini giliran suara Vony yang terdengar keras saat akan mencoba mengusirnya.


"Istri?" guman Alan berdialog pada dirinya sendiri.


"Iyah aku istrimu, lihat ini!" Vony meraih tangan kanan Alan menunjukan cincin pernikahan mereka. "Ini cincin pernikahan kita gila!"


Tatapan bingung Alan terus tertuju pada cincin di jari manisnya.


"Sudah jangan banyak bengong!, cepat sekarang mandi bisa-bisa kita terlambat!" ucap Vony menarik tubuh Alan ke kamar mandi dapur.


"Kita sudah menikah?" tanya Alan saat tubuhnya berhenti diambang pintu.


"CK...Iyah!!!, sudah cepat mandi aku tunggu lima menit!" Vony mendorong tubuh Alan masuk kedalam kamar mandi agar pria itu segara bersiap.


"Dasar suami aneh, dia yang mengucapkan ijab qobulbul dan dia sendiri juga lupa sudah menikahi anak orang!" Vony melangkah kearah walk in closet milik Alan memilih kan jas milik Alan.


Alan yang sudah rapi dengan setelan jas miliknya. Sepasang suami istri tersebut berjalan bersamaan menuju parkiran apartemen.

__ADS_1


Jalanan yang mulai ramai akan kendaraan membuat mobil Alan tak bisa melaju dengan cepat.


"Apa kau terbiasa bangun siang seperti ini?!" omel Vony.


Alan menatap sekilas wajah Vony dan kembali menatap jalan. "Aku tidak terbiasa tidur di sofa akibatnya aku baru bisa tidur jam 2 tadi, dan seluruh tulang ku terasa mau patah!" marah Alan, terselip nada menyindir.


"Jangan lebay"


"Kalo kamu tidak percaya giliran nanti malam kamu yang tidur di sofa!"


"Sorry, aku tidak minat untuk mencoba hal seperti itu"


Alan tak menjawab pertanyaan Vony saat mobilnya sudah memasuki halaman Adhitama Company. Dari kejauhan keduanya melihat Anggara yang baru saja turun dari dalam mobil.


"Aku akan menyapa ayah terlebih dahulu" Vony mengangguk setuju dengan ucapan Alan. Keduanya keluar bersama menghampiri Anggara.


"Pagi yah" sapa keduanya kompak.


"Loh kalian mau kerja?" tanya Anggra dengan bingung.


Setahunya dimana-mana pengantin baru akan merencanakan bulan madu, bukan bekerja seperti ini.


"Iyah yah, ayah tau Alan asissten Kenzou yang pastinya memiliki jadwal padat, lagian Vony masuk juga karena ada klien yang mau bertemu hari ini" jawab Vony.


"Ya tapi kalian bisa mengambil cuti minimal satu minggu untuk berbulan madu, kenapa tidak kalian lakukan?"


Tatapan mata Vony dengan Alan saling bertemu saat mendapatkan pertanyaan dari Anggara.


"Untuk sekarang kita ingin menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu, agar saat pergi berbulan madu nanti semua aman saat ditinggal" jawab Alan.


Melangkah lebih dekat Anggaran menepuk lengan Alan. "Kamu memang orang yang bertanggung jawab, tidak salah jika mama memilih kamu agar segera menikah dengan Vony"


"Ayah bisa saja" ucap Alan malu-malu.


"Sudah-sudah, lebih baik kamu segara berangkat sebelum Kenzou marah-marah" usir Vony.


"Iyah, kalo begitu Alan pergi dulu"


Anggara mengangguk melihat kepergian menantunya itu.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2