
Vony memilih duduk di ayunan gantung di balkon kamar Alan menikmati suasana malam yang sepertinya sebentar lagi akan turun hujan terbukti tak ada satupun bintang di langit.
Tanpa dirinya sadari Alan berdiri di ambang pintu memperhatikan nya sejak tadi. Berjalan mendekat Alan menaruh jaket kulit di bahu sang istri. "Biar tidak dingin" ucap Alan ikut duduk di samping Vony setelah memasangkan jaket pada tubuh nya.
"Aku pikir kamu akan langsung tidur setalah dari kamar mandi"
"Bagaimana aku bisa tidur kalo di balkon kamar ku saja ada penghuninya"
"Kamu mengatai ku hantu?"
"Aku tidak bilang seperti itu, tapi kalo menggap seperti itu memang ada benarnya"
"Sudahlah bicara dengan orang seperti mu tidak akan ada ujungnya!" berniat masuk ke dalam kamar mengistirahatkan tubuhnya, sebuah tangan kekar langsung melingkar di pinggang Vony membuat tubuh ramping nya membeku akan hal yang dilakukan oleh Alan.
"Alan-"
"Aku tidak menyangka akan membawa mu masuk ke dalam masalah ku sejauh ini" ucap pria itu tiba-tiba berhasil membuat Vony tak jadi mengeluarkan omelan.
Vony mengurungkan niat untuk melepas pelukan Alan yang ada wanita itu hanya diam mejadi pendengar apa yang akan Alan bicarakan selanjutnya. Memberikan waktu dan tempat pada Alan mencurahkan semua kegaduhan hatinya.
"Awalnya aku pikir setelah kita menikah, ayah akan berhenti menjodoh-jodohkan ku dengan Anggit, tapi semuanya sangat jauh dari angan-angan ku. Kamu tau aku lelah hidup seperti ini,aku ingin tidur dengan tenang setiap malamnya tanpa harus memikirkan bagaimana nasib ku kedepan"
Kasian, satu kata yang mewakili semua perasaan Vony setelah mendengar ucapan Alan, terdengar jelas jika pria itu sangat lelah dengan semua penekanan yang di lakukan Erlad dari segala sisi.
"Aku yakin cepat atau lambat kamu pasti akan menemukan kebahagiaan mu"
Alan mengeleng kecil, omongan Vony seperti hanya sebuah mimpi yang belum tentu mimpi itu akan menghampiri nya. "Aku rasa kebahagiaan itu tidak ada"
"Alan ada yang ingin aku bicarakan pada mu" Vony melepas pergelangan tangan Alan dari pinggangnya, berbalik menghadap sang suami.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku ingin kita tinggal di sini"
"Tidak aku tidak setuju, apa kau juga ingin mencari tekanan batin dengan perlakuan ayah ku setiap hari nya?" dirinya saja keluar dari rumah dan memilih tinggal di apartemen sendirian hanya untuk menghindari sang ayah, dan sekarang istrinya itu malah meminta mereka tinggal di tempat seperti neraka.
"Bukan, hanya saja mungkin kalo kita tinggal di sini dan aku berusaha mencari perhatian ayah secara perlahan dia akan luluh dan siapa tau setalah itu ayah akan menerima ku menjadi menantunya"
"Aku tidak ingin kamu menjadi sasaran amarah ayah setiap harinya!" Alan tau betul seperti apa sifat sang ayah pada orang yang tidak ia sukai yang akan memperlakukan orang tersebut secara semena-mena.
"Kamu tau aku tidak selemah itu jadi jangan khawatir" Vony meraih kedua tangan Alan. "Pernikahan kita tinggal empat bulan dua minggu dan aku ingin memanfaatkan waktu yang aku punya supaya kamu dan ayah bisa baik an. Apa kamu tidak ingin menjalin hubungan layaknya anak dan ayah?"
Memang keinginan itu yang Alan harapkan di hubungan nya dengan sang ayah tapi apa daya nya jika ia dan Erlad saja selalu bertengkar setiap bertemu. "Kenapa kamu harus repot-repot melakukan hal tersebut?" bukan nya menjawab Alan melayangkan pertanyaan yang membuatnya penasaran.
"Hubungan mu dengan ayah sudah sangat renggang, aku tidak mau kamu memiliki hubungan seperti itu sampai tua nanti yang ada itu akan merugikan dirimu sendiri dengan sebuah penyesalan. Setidaknya kalo kita berpisah nanti aku bisa membuat mu dan ayah menjadi anak dan ayah pada umumnya, meskipun aku sudah tidak menjadi anggota keluarga ini, tapi aku harap setalah itu kamu mendapatkan pengganti jauh lebih baik dari ku" ucap Vony panjang lebar.
Entah kenapa hati Alan tak suka dengan kata pengganti yang dilayangkan Vony rasanya sungguh tak nyaman apa lagi mata indah wanita dihadapannya berubah menjadi redup.
"Jadi bagaimana apa boleh kita tinggal di sini?" tanya Vony kembali pada pertanyaan awal yang belum di jawab oleh Alan.
"Aku masih takut kamu kenapa-kenapa saat aku tidak ada di rumah"
Alan menghela nafasnya panjang wanita di hadapannya ini benar-benar nekat dan akan terus memohon sampai apa yang ia inginkan terwujud. "Baiklah kita akan tinggal di sini. Tapi"
Baru saja Vony akan berlompat kegirangan Alan masih akan mengeluarkan petuah untuk nya.
"Kalo sampai ayah menyakiti mu atau membuat mu terluka sedikit saja maka saat itu juga aku akan membawa mu kembali ke apartemen"
"Setuju" jawab Vony cepat tak ingin kehilangan kesempatan untuk memulai mengambil hati Erlad. "Jadi kapan kita akan pindah ke sini?"
"Mungkin besok, kita hanya perlu kembali ke apartemen untuk mengambil baju mu dan beberapa pekerjaan yang masih tertinggal di sana"
Mengangguk setuju Alan akan menjemput Vony besok setalah pulang kerja untuk mengambil beberapa barang di apartemen sekalian mereka akan berbicara pada Salma mengenai keinginan keduanya yang akan tinggal sementara waktu di rumahnya.
__ADS_1
***
Jam makan siang Vony mengirimkan pesan pada Aleta meminta wanita yang tengah berbadan dua tersebut untuk ketemuan di restoran miliknya.
"Kamu kenapa?" tanya Aleta melihat wajah masam Vony, tak biasa wanita itu memasang wajah jelek.
"Aku tidak apa-apa" meneguk jus miliknya Vony menatap wajah Aleta melayangkan pertanyaan pada wanita itu. "Apa dulu orang tua Kenzou langsung menerima mu menjadi menantu mereka dengan baik?"
Kening Aleta menimbulkan garis halus mendapatkan pertanyaan yang baru kali ini ia dengar dari Vony mengenai mertua. "Memang kenapa?"
"Jawab saja!" kesal Vony saat Aleta malah balik bertanya.
"Tentu saja mereka langsung menerima ku dengan baik karena aku menikah dengan Kenzou juga karena perjodohan dua keluarga yang sudah saling setuju"
Vony mengehela nafas kasar, dirinya lupa kalo Aleta menikah karena keinginan keluar bukan pemaksaan seperti dirinya yang tentu saja orang tua Kenzou langsung menerima Aleta dengan baik.
"Apa kamu dulu pernah melakukan hal yang bisa di bilang mengambil hati mereka agar senang bisa memiliki mu menjadi menantunya?"
"Pernah"
"Cara apa yang kamu lakukan?" tanya Vony serius, wanita itu memajukan tubuhnya mendengar baik-baik apa yang akan Aleta ucapkan.
"Aku mengajak mama Kenzou membuat kue, memasak makanan kesukaan Kenzou, shoping bersama dan datang ke mal untuk mencari perhiasan"
"Kalo ayah nya?"
"Aku lebih suka menghabiskan waktu berbicara dengan nya di taman belakang rumah saat kami berkunjung dengan meminum secangkir teh"
Vony mengangguk kecil sekarang ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengambil hati ayah Alan mendekati pria paruh baya tersebut dengan mengajaknya berbincang atau mungkin melakukan olahraga yang dia sukai.
"Memang kenapa?" tanya Aleta penuh selidik.
__ADS_1
"Tidak apa-apa aku hanya penasaran saja bagaimana kamu dulu bisa dekat dengan orang tua Kenzou" bohong Vony.
Tak ingin Aleta menaruh curiga padanya, Vony meminta Aleta memanggil kan pelayanan saat perutnya sudah terasa lapar minta di isi.