My Assistant Husband

My Assistant Husband
Anggit


__ADS_3

Vony berjalan keluar kamar saat mendapati suaminya itu sudah tak ada disampingnya. Dari kejauhan Vony menatap Alan yang sedang memasak dengan memakai celemek ditubuhnya, terlihat lucu dan semakin menambah kesan ketampanannya.


Berjalan mendekat aroma masakan Alan semakin tercium dengan kuat membuat Vony penasaran apa yang sedang suaminya itu masak. "Kamu sedang masak apa?" tanya Vony.


Alan membalikan badannya melihat Vony yang sudah berada di sampingnya. "Kamu sudah bangun?"


"Iyah, kamu sedang masak apa?, kenapa aromanya sangat harum sekali?"


"Ohh ini, aku lagi memanaskan makanan yang di bawa mama tadi malam"


"Oo"


"Sudah siap ayo kita sarapan" ajak Alan menuju meja makan. Menaruh sepiring makanan dihadapan Vony.


"Terimakasih" ucap Vony, langsung melahap makanannya. Vony mengunyah makanannya dan kembali menatap Alan yang sudah rapi, melirik jam yang ada di dapur yang masih menunjukan pukul setengah tuju pagi, tak biasanya Alan berangkat sepagi ini untuk kekantor.


"Kamu jam segini sudah rapi saja, apa di kantor lagi banyak pekerjaan?" tanya Vony penasaran.


"Tidak, hanya saja pagi tadi ayah menghubungi ku, meminta ku untuk menemui Anggit sebelum berangkat ke kantor"


"Anggit?"


"Apa kamu benar-benar akan menemuinya?" tanya Vony memastikan.


"Sebenarnya aku sudah menolak permintaan ayah, tapi sayang akhirnya aku harus menuruti permintaannya"


"Kenapa?, apa ayah akan menghajar mu kalo kamu tidak ingin menemui Anggit?"


Alan menggeleng kecil. "Ayah akan menyakiti mama jika aku tidak menuruti ucapan nya, jadi aku menemui Anggit itu juga agar mama aman dari ayah"


Selain Erlad suka menghajar Alan ayah mertuanya itu suka sekali mengancam putranya. Vony tak menyangka jika Erlad akan tega dengan kekurangannya sendiri demi seorang wanita gila seperti Anggit.


"Aku ikut"


Uhuk...uhuk...


Alan segera meneguk segelas air hingga tandas meredakan batuknya. "Apa maksud mu?"

__ADS_1


"Aku akan menemanimu ke tempat Anggit pagi ini"


"Apa kamu sudah gila?, apa kamu ingin cari mati dengan tuan Restu?"


Kening Vony menimbulkan garis halus mendengar ucapan Alan yang malah berkata dirinya ingin mencari mati.


"Kamu tau tuan Restu ingin sekali anak nya menikah dengan ku, dan aku rasa pria itu belum mengetahui kabar pernikahan kita. Dan kalo sampai dia lihat aku membawa mu ke sana aku yakin kamu yang akan menjadi sasaran empuknya, dan aku tidak mau itu terjadi!" jelas Alan panjang lebar.


"Tapi aku hanya menemani mu saja, bukan ingin mencari masalah dengan tuan Restu atau Anggit-putri nya"


"Tidak Vony!, aku tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun itu yang menyangkut diri mu"


"Tapi kalo sebaliknya kamu yang menjadi sasaran empuk mereka, apa yang akan kamu lakukan seorang diri disana?"


"Setidaknya aku bisa berkelahi"


"Jika kamu tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun yang menyangkut diri ku, maka kali ini aku juga tak ingin mengambil resiko sekecil apapun itu yang akan terjadi pada mu" Ucap Vony saat perasannya mulai tak enak, Vony bangkit dari duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari Alan. "Tunggu aku, sepuluh menit lagi aku selesai" lanjut Vony langsung melangkah masuk ke dalam kamar.


Alan mengusap wajah kasarnya saat melihat Vony yang melangkah masuk kedalam kamar, entah apa yang dipindahkan istrinya itu sampai harus ikut dengannya menjenguk Anggit segala.


Sepuluh menit kemudian Vony sudah siap dengan celana panjang berwarna coklat dan baju berwarna putih.


"Aku sudah besar Alan, aku bisa menjaga diriku sendiri jadi jangan khawatirkan aku, lebih baik sekarang kita berangkat"


"Tapi-"


"Aku akan naik taksi dan membututi mu dari belakang" potong Vony. "Kamu takut jika aku ketahuan tuan Restu bukan?" Alan mengangguk.


"Jadi akan aku putuskan kita berangkat dengan mobil yang berbeda saja, tapi ngomong-ngomong Anggit di rawat dirumah atau dirumah sakit?" tanya Vony yang belum tau dimana wanita itu berada di mana sekarang.


"Kata Ayah Anggit berada di rumah sakit jiwa sejahtera" jawab Alan yang masih mengingat ucapan sang Erlad beberapa saat lalu.


"Kalo begitu kita berangkat sekarang saja, sebelum kamu kesiangan ke kantornya" ajak Vony dan Alan mengangguk lemah, ia tak tahu apa yang istrinya itu ingin lakukan nanti yang jelas Alan harus berjaga-jaga mengawasi gerak-gerik Vony dari jauh.


Sampai di lobi Vony masuk kedalam taksi sedangkan Alan mengendarai mobilnya sendiri. Mengikuti mobil sang suami dari belakang keduanya menuju rumah sakit jiwa dimana Anggit sekarang berada.


Vony mengerakan jarinya di atas ponsel mengirimkan beberapa pesan pada Alan agar suaminya itu tak perlu terlalu menghawatirkan nya nanti.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit jiwa Alan melangkah masuk terlebih dahulu menuju meja resepsionis menanyakan ruangan Anggit, dan resepsionis pun menuntun Alan menuju ruang VVIP yang di tempati Anggit. Sedangkan Vony wanita itu juga ikut membuntuti Alan dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh.


Sampai didepan rung inap Anggit Restu yang berniat keluar berpapasan dengan Alan yang baru saja datang.


"Alan?" Alan mengangguk kecil. "Kamu datang dengan siapa?"


"Saya sendiri tuan, bagaimana keadaan Anggit?"


"Keadaan sudah jauh lebih baik dan nanti sore dia sudah boleh pulang. Kalo begitu mari masuk, Anggit sedang menunggu mu di dalam" ajak restu kembali masuk keruangan di ikuti Alan dari belakang.


Di ruangan yang sangat luas dan di lengkapi dengan fasilitas yang sangat komplit tersebut terdapat seorang wanita yang tengah duduk di atas brankar dengan seorang suster yang tengah menyisir rambutnya.


"Sayang, Alan kesini untuk menemui mu" ucap Restu lembut pada putrinya.


Mata Anggit menatap wajah sang ayah dan beralih menatap wajah Alan. "Alan?" panggil Anggit.


Alan tersenyum melangkah lebih dekat kearah brankar. "Kamu apa kabar?"


"Aku baik" jawab Anggit bahagia dan langsung meraih tangan Alan untuk ia genggam. "Aku rindu" jawabnya bergelayut manja.


Restu melangkah kebelakang memberikan rung untuk putri dan putra temannya itu bercengkrama.


"Apa kau sudah makan?" tanya Alan dan Anggit menggeleng.


"Aku sengaja menunggu mu, kata ayah kau akan datang hari ini"


Alan tersenyum kaku mendengar itu, "Kalo begitu makan lah biar cepat sembuh" Alan menatap perawat yang masih ada di ruangan VVIP tersebut. "Sus, tolong suapi Anggit"


"Aku mau kamu yang menyuapiku Alan" rengek Anggit sebelum suster tersebut menjawab ucapannya.


"Tapi-"


"Hanya suapan Alan" potong Restu. "Saya yakin Anggit akan langsung sembuh jika kamu menyuapinya"


Alan yang tak enak menolak meraih mangkuk bubur di atas nakas menyodorkan sesendok bubur ke arah Anggit.


Vony yang melihat semua kejadian itu dari luar ruangan mengepalkan tangan nya. "Aku rasa wanita itu tidak sedang benar-benar gila!"

__ADS_1


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2