
Baru sadar keduanya belum memiliki kado untuk dibawa ke acara Anggara dan Livia, Alan dan Vony memutuskan datang ke sebuah mall malam hari setelah makan malam di hotel
"Aku ingin kita memakai baju couple seperti di sinetron-sinetron saat datang ke sebuah pesta, pasti sangat lucu" celetuk Vony membuat Alan yang tengah merengkuh pinggang nya menatap sang istri yang tengah memandang deretan butik.
"Kamu mau?"
"Boleh?" tanya Vony seperti anak kecil.
"Boleh" jawab Alan langsung menarik sang istri menuju salah satu butik ternama. "Pilih baju yang kamu inginkan" ucap Alan saat keduanya telah masuk kedalam butik.
Vony tersenyum senang memilih deretan baju couple yang telah di sediakan oleh pihak butik. Setalah cukup lama Vony menjatuhkan pilihan pada dress berwarna biru dan setelan jas yang senada juga, tak lupa dirinya membelikan kado Livia dan Anggara.
Setalah menyelesaikan pembayaran keduanya melangkah keluar dan tak sengaja berpapasan dengan Anggit yang keluar dari butik sebelah, sungguh kebetulan yang sangat menyebalkan bagi Vony yang harus dengan cepat melepas genggaman tangan nya dengan Alan bersikap seolah-olah keduanya tak sedang melakukan apapun.
__ADS_1
"Alan?" Sapa Anggit hangat, berganti menatap Vony dengan tatapan sinis masih terekat erat di kepalanya mengenai perkataan Vony beberapa saat lalu. "Kamu sedang apa di sini?"
"Membeli baju" jawab nya singkat.
"Dengan nya?" tanya Anggit menunjuk Vony. "Kalo kamu ingin membeli baju kenapa tidak mengajak ku saja, aku rasa aku cukup tau selera jas yang kamu sukai"
"Aku bukan anak kecil yang mau kemanapun harus meminta izin mu terlebih dahulu"
"Tapi sebentar lagi kita akan bertunangan, jadi apapun yang kamu butuhkan aku harus tau agar saat kita menikah nanti aku bisa mengetahui mana saja yang kamu suka dan kamu perlukan dan tentunya tidak perlu pergi dengan wanita lain" ucap Anggit menatap Vony tajam pada kalimat terakhirnya.
"Bu-bukan maksud ku seperti itu Alan"
"Aku akan fikir ulang mengenai rencana pertunangan ini" Alan meraih pergelangan tangan Vony berjalan menuju eskalator.
__ADS_1
"Alan, Alan tunggu" Cegah Anggit meraih tangan Alan yang memegang paper bag. "Aku mohon jangan batalkan pertunangan ini, a-aku janji, aku janji mulai sekarang tidak akan melarang mu pergi dengan siapapun"
"Kamu yakin?"
"I-iyah aku yakin,asal jangan batalkan pertunangan ini"
Melihat ketakutan pada wajah Anggit Alan melepas pergelangan wanita tersebut "Baiklah, dan aku harap ini terakhir kalinya kamu melarang ku pergi dengan siapapun, karena aku juga tidak akan mempermasalahkan kalo kamu juga mau pergi dengan pria manapun"
"Tapi aku tidak pernah pergi dengan siapapun selama ini"
"Karena aku juga tidak pernah mengurus hal itu, karena bagi ku itu hall tidak penting dan hanya akan membuang-buang waktu"
Setalah mengatakan kalimat penuh penegasan pada Anggit Alan meninggalkan wanita itu di depan eskalator,tanpa melirik kebelakang hanya untuk memastikan bagaimana raut wajah wanita itu.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah🤗♥️