My Assistant Husband

My Assistant Husband
Berlarian


__ADS_3

Vony yang melihat semua kejadian itu dari luar ruangan mengepalkan tangan nya. "Aku rasa wanita itu tidak sedang benar-benar gila!"


"Alan kapan kamu akan melamar ku?" tanya Anggit yang berhasil membuat Alan terdesak air liurnya sendiri.


"A-aku tidak tau"


"Kamu tau aku sangat menyayangi mu tapi kenapa kamu sangat sulit untuk mengungkapkan rasa mu pada ku?"


"A-aku hanya belum merasa pantas untuk melamar seorang putri dari keluarga Tama" kata Alan menyebut nama marga keluarga Anggit.


"Kamu tidak perlu merasa pantas atau tidaknya karena bagi saya yang penting Anggit sangat yakin dengan dirimu dan itu sudah cukup untuk saya"


"Ma-maaf tuan tadi saya belum siap untuk menikah"


"Terus kapan kamu akan siap menikahi ku?, aku sudah sangat ingin menjadi istri mu, Alan"


Restu mengusap punggung putri semata wayangnya lembut. "Sayang mungkin Alan masih harus memikirkan beberapa hal yang tidak harus kamu ketahui, tapi ayah yakin suatu saat nanti kalian pasti akan tetap menikah" kata Restu memberikan kalimat penenang untuk putrinya.


"Tapi yah aku takut Alan dimiliki orang lain" ucap wanita itu seperti anak kecil yang ketakutan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup nya.


Restu menatap Alan yang juga tengah menatapnya. "Kamu tenang saja sayang karena siapapun yang mendekati Alan nantinya akan berurusan dengan ayah"


Deg!


Berusaha tak merubah mimik wajahnya Alan masih bersikap tenang seolah-olah tak ada yang sedang mendekatinya sekarang, tapi pikiran nya langsung tertuju pada Vony yang sedang berada di luar ruangan sana.


Rasa cemas dan panik mulai bermunculan dalam benak Alan memikirkan bagaimana keadaan istrinya itu sekarang di luar sana apa dia tetap aman atau dalam masalah.


"Ka-kamu tenang saja karena tidak satupun wanita yang sedang mendekatiku" ucap Alan mengulas senyum manis di wajahnya.


Sedangkan di luar ruangan Vony masih senantiasa berdiri dengan sabar memantau setiap gerak gerik Alan. "Sial!, kenapa Alan harus tersenyum sangat manis pada wanita itu!"


"Dan pria tua itu juga kenapa seperti memojokkan Alan terus menerus!" omel Vony karena dirinya tak bisa mendengar pembicaraan ketiga orang di dalam ruangan tersebut. "Apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan di dalam sana, kenapa aku tidak bisa mendengarnya sedikit saja!"


Vony yang berniat membuka pintu ruangan sedikit agar bisa mendengar ucapan suaminya, terlebih dahulu di pergoki oleh seorang suster yang tengahnya sudah memantaunya dari kejauhan sejak tadi.


"Kamu mau apa di sini?"


"Emmm" Vony menggaruk tengkuknya yang tak gatal bingung harus menjawab apa pertanyaan suster tersebut.


"Kamu mau berbuat jahat disini?"


"Bu-bukan, masa iya cewek cantik kaya gini mau bikin hal tidak senonoh seperti itu di sini" ucap Vony membela dirinya.


"Ngaku saja kamu!"


"Demi tuhan saya tidak punya rencana buruk di tempat ini"


"Halah mana ada maling ngaku!"

__ADS_1


Alan yang akan menyodorkan segelas minum pada Anggit menghentikan pergerakannya saat mendengar teriakan dari luar, dan suara itu seperti suara sang istri yang tengah berdebat dengan seseorang di luar sana.


"Ayah ada apa itu?"


"Ayah tidak tau sayang, biar ayah lihat dulu" ucap Restu melangkah ke arah pintu.


Melihat restu yang berjalan ke arah pantai pintu Alan juga tak kalah cepat menyusul Restu membuat Anggit menatap sikap Alan bingung.


"Ayo ikut saya ke kantor ke amanan"


Baru Vony akan menjawab ucapan suster yang mengajaknya berdebat, headline pintu ruangan Anggit seperti ingin di buka seseorang dari dalam sana membuat Vony gelagapan akan hal tersebut.


Tak ingin terjebak dengan dua masalah dalam satu waktu Vony memilih berlari meninggalkan suster yang malah meneriakinya.


"Hey jangan pergi kamu!"


"Ada apa ini?" tanya restu pada suster yang tiba-tiba berteriak.


"Itu tuan ada seorang wanita yang sangat mencurigakan di depan rungan nona Anggit, dan sekarang wanita itu malah kabur"


"Wanita mencurigakan?"


"Iyah tuan"


"Suruh satpam keamanan untuk menangkapnya sekarang juga!"


Bola mata Alan seperti akan keluar mendengar hal tersebut, ia tak ingin Vony sampai ketangkap dan menjadi bahan siksaan Restu.


"Tuan Restu kenapa harus di kejar segala pelakunya?"


"Karena aku tidak ingin sampai wanita itu menyakiti Anggit!"


Tubuh Alan langsung menimbulkan keringat dingin mendengar hal tersebut. "Tu-tuan, saya izin ke toilet sebentar" tanpa menunggu jawaban dari Restu Alan langsung meninggalkan Restu seorang diri.


Merasa cukup aman Alan langsung menghubungi Vony memastikan bahwa wanita itu tak sampai tertangkap oleh pihak rumah sakit. Tapi sial ponsel Vony tak bisa di hubungi membuat Alan mengusap wajahnya kasar. "Vony angkat telfon ku jangan buat aku panik!"


"Aaa sial!" memasukan kembali ponselnya ke dalam saku Alan berlari kearah luar rumah sakit.


Sedangkan Vony yang berhasil melarikan diri dari rumah sakit sebelum orang-orang di sana mengejarnya memegangi dada mengatur deru nafas yang ngos-ngosan. Berjalan tertatih-tatih kaki Vony mulai terasa lemas karena terlalu banyak berlarian apa lagi dirinya belum sembuh total.


Berulanh kali Vony memukul kepalanya saat pandangannya mulai kabur. "Aku mohon jangan pusing sekarang!"


Sesekali Vony menatap kebelakang memastikan tak ada orang yang mengejarnya. Dirinya yang tak kuat berjalan memilih duduk di atas trotoar memegangi kakinya yang gemetar hebat.


"Apa Alan masih berada di sana dengan wanita itu?" guman Vony memijat keningnya.


Baru saja Vony akan kembali berdiri tangannya di pegang seseorang membuat nya berteriak histeris. "Jangan,jangan,jangan aku mohon. aku tidak berniat jahat demi tuhan"


"Vony ini aku"

__ADS_1


Vony membalikan badan menatap seseorang yang ternyata adalah Alan. "Alan?"


"Kamu baik-baik saja bukan?"


Vony langsung memeluk tubuh Alan tanpa menjawab pertanyaan nya. "Aku pikir kamu akan tetap memilih di sana"


"Tentu saja tidak, aku tidak akan membiarkan istriku sampai dalam bahaya seperti tadi" Alan melepaskan pelukannya menatap wajah Vony yang di penuhi keringat, tangannya terulur mengusap keringat di kening istrinya tapi sesaat ia merasa suhu tubuh Vony semakin panas dari hari kemarin. "Demam mu semakin tinggi"


"Aku baik-baik saja Alan"


"Kita pulang sekarang ya"


"Kamu harus kerja" ucap Vony mengingatkan.


"Aku akan minta cuti hari ini" Alan memapah tubuh Vony masuk ke dalam mobil.


Alan melajukan mobilnya menuju apartemen dengan kecepatan sedang.


"Alan apa aku boleh minta sesuatu pada mu?"


"Katakan"


"Tapi kamu harus janji untuk mengabulkannya"


"Kamu mau minta apa?"


"Janji dulu kalo kamu akan mengabulkannya"


"Iyah, Iyah aku janji. Sekarang katakan kamu mau apa?" tanya Alan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Aku mau es krim"


"Tidak-"


"Kamu sudah janji Alan dan janji itu harus ditepati"


"Kamu sedang sakit Vony"


"Aku hanya akan makan sedikit, aku mohon"


"Hanya dua sendok kamu boleh memakannya!"


"Tiga ya" tawar Vony.


"Dua atau tidak sama sekali!" tegas Alan.


"Ck, Iyah dua sendok!"


***

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2