
Mendengar menantunya sedang sakit dari Alan, Salma mengajak Erlad yang baru saja pulang dari kantor untuk menjenguk Vony, tentu bukan hal yang mudah untuk mengajak sang suami, meski begitu Erlad akhirnya luluh dan mau di ajak sang istri.
Sampai di apartemen Salma menuju kamar Alan yang ternyata sedang menyodorkan semangkuk bubur yang baru saja ia order.
"Apa kamu menyuruh Vony makan sendiri saat dia sedang sakit?"
"Apa kamu mau aku suapi?" Tanya Alan menatap sang istri yang tengah bersandar di headbor tempat tidur.
"kenapa harus di tanya, cepat suapi istrimu" paksa Salma mendorong pundak Alan dari belakang.
Alan hanya pasrah tak ingin berdebat dengan sang mama dan langsung menyupi Vony.
"Aku bisa makan sendiri lagian tangan ku tidak sakit" ucap Vony merasa tak terbiasa dengan perlakuan Alan padanya. Meraih mangkuk di tangan Alan Vony menyupkan sendiri ke dalam mulut.
"Kalian sulit sekali untuk romantis" goda Salma dan keduanya hanya diam saja.
"Apa istri mu itu benar-benar sakit?" Suara Erlad membuat semua mata menatap kearahnya yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Tentu saja Vony sakit beneran, apa ayah pikir Vony pura-pura sakit?" jawab Alan.
"Baguslah, ayah pikir istrimu itu hamil"
"Sekalipun Vony hamil itu hal yang wajar bukan?"
"Tapi ayah tidak mau mempunyai cucu dari istrimu!"
Tangan Alan terkepal berniat membalas ucapan Erlad yang tak pernah di saring terlebih dahulu, Alan saja yang mendengarnya sangat sakit apa lagi Vony yang sebagai seorang perempuan mendengar hal yang seharunya tidak ia dapatkan dari ayah mertuanya sendiri.
Tangan Vony mencegah Alan yang ingin bangkit dari duduknya dan menggeleng kecil. "Tidak usah di hiraukan" ucapnya pelan.
"Lagian saya heran dengan kamu, apa sih yang anak ini janjikan sampai kamu masih bertahan dengannya?" Tanya Erlad menatap wajah Vony yang masih nampak pucat.
"Karena Alan bisa menjaga saya dengan sangat baik" jawab Vony cepat.
"Tapi jangan harap Alan akan mencintai mu, karena saya yakin sampai sekarang Alan belum menaruh hatinya untuk mu"
Vony menatap wajah Alan, hatinya sedikit tersakiti mendengar ucapan Erlad yang mungkin saja bisa menjadi sebuah kenyataan pada pria yang duduk dihadapannya sekarang.
"Pernikahan yang dilandasi rasa cinta saja bisa kandas di tengah jalan, apa lagi tanpa ada unsur cinta" lanjut Erlad saat mimik wajah menantinya itu berubah.
Alan menangkup wajah cantik Vony yang nampak cemberut. "Jangan seperti itu kamu terlihat jelek kalo tidak tersenyum" ucap Alan menarik bibir Vony agar membentuk sebuah senyuman.
"Kalo seperti ini aku lebih cantik walau seperti mayat mati"
"Mana ada mayat hidup!" kesal Vony.
__ADS_1
"Ada dan itu kamu" ledek Alan terkekeh kecil dan Vony hanya memutar bola matanya malas.
Salma tersenyum senang melihat ke akuran anak dan menantunya. Salam beralih menatap sang suami yang nampak kesal melihat pemandangan dihadapannya.
Melihat Vony yang mudah sekali luluh saat Alan menghiburnya, Erlad memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mempengaruhi menantunya itu tanpa ada rasukan dari anak nya. "Sepertinya aku harus melakukan ini saat kedua orang itu sedang tidak bersama"
"Ayah kenapa diam saja?" tanya Salma.
"Ayo pulang, ayah capek" ajak Erlad melangkah meninggalkan kamar Alan.
"Sayang mama pulang dulu, kamu cepat sembuh" Salma mengusap rambut panjang Vony lembut.
"Iyah ma, terimakasih udah jenguk Vony"
"Kamu itu menantu yang sudah mama anggap sebagai putri mama sendiri, jadi jangan sungkan"
Vony mengangguk kecil, meminta Alan agar mengambilkan oleh-oleh yang sudah ia siapkan khusus untuk mertuanya itu. Salma tersenyum menerima uluran dari Alan dan langsung menyusul Erlad yang sudah pergi terlebih dahulu.
Alan menempelkan punggung tangannya pada kening Vony mengecek suhu tubuh wanita itu. "Hangat" guman Alan meraih obat dari atas nakas dan menyodorkannya pada Vony.
"Aku tidak mau minum obat Alan" tolak Vony menjauhkan tangan Alan.
"Kamu masih panas Vony, jadi minum obat ini setelah itu istirahat"
"Terus kamu maunya apa?"
"Aku mau es krim" minta Vony menunjukan wajah imutnya.
"Mana boleh kamu makan es krim saat tubuh mu panas seperti ini, yang ada kamu semakin sakit"
"Tapi setiap aku sakit setelah makan es krim, besok nya aku langsung sembuh"
"Omong kosong apa itu Vony, tidak ada yang namanya makan es krim panas langsung turun. Apa kamu pikir es krim itu obat?"
"Ayo lah Alan, ambilkan aku es krim di kulkas"
"Tidak akan. Sekarang minum ini dan istirahat lah"
"Kalo tidak boleh satu cup, setidaknya tiga sendok saja ya" tawar Vony.
"Tidak"
"Kalo begitu dua sendok saja"
"Tidak!"
__ADS_1
"Satu sendok" kata Vony yang terus membujuk Alan agar memberikan es krim yang ia minta.
"Tidak Vony!" Alan mendekat ke arah Vony, mencengangkam kedua pipinya agar dirinya bisa memasukan obat itu secara paksa. "Minum" ujar Alan menyodorkan segelas air putih dan Vony menggeleng.
Alan menghela nafas panjang melihat Vony yang seperti anak kecil saat sakit. Melakukan hal yang tadi untuk kedua kalinya Alan bersahil memasukan air putih ke dalam mulutnya.
"Telan" perintah Alan lagi saat kedua pipi Vony mengembang besar. "Telan Vony"
Vony menggeleng cepat tak berminat menelan obat ditangannya.
Cup
Bola mata Vony membulat sempurna saat Alan tiba-tiba mencium bibirnya. Entah apa yang dipikirkan pria itu sampai menciuminya seperti ini. Yang jelas detak jantung Vony berdetak dengan sangat kencang tanpa bisa ia cegah.
Bibir Alan yang hanya diam saja mulai melakukan pergerakan dengan menyapu permukaan bibir merah Vony.
"Tuhan apa pria ini sudah gila?"
Seluruh tubuhnya terasa sangat kaku saat Alan terus mengerakan bibir nya. Tangan yang biasanya mendorong Alan saat keduanya berada di situasi sangat dekat, kali ini kedua tangganya seperti mati rasa seakan-akan seluruh tubuhnya mengikuti alur permainan Alan.
Glek
Obat yang sejak tadi ia tahan akhirnya ia minum juga. Karena tak bisa menahan desiran aneh di dadanya.
Alan yang sebenarnya masih sadar akan perbuatannya segera merebahkan tubuh Vony tanpa berniat melepas kecupan ringan yang ia berikan pada bibir Vony. Merasa wanita itu sudah merebahkan tubuhnya Alan melepas tautan bibir yang hampir selama lima belas menit tersentuh.
"Lain kali langsung diminum obatnya" ujar Alan menyingkirkan anak rambut dari wajah Vony yang menimbulkan semburat merah. "Istirahatlah, aku akan keluar sekarang" lanjut Alan.
"Alan" cegah Vony saat pria itu akan bangkit dari tepi ranjang. "Tidurlah disini bersama ku"
"Kamu serius mengajak ku tidur di ranjang yang sama?"
"Memang kenapa?, selama empat hari saja kita bisa berbagi ranjang, kenapa sekarang tidak bisa?"
"Baiklah kalo itu yang kamu mau, aku akan tidur disini bersama mu mulai malam ini dan seterusnya" Vony tersenyum senang mendengar perkataan yang baru saja Alan ucapkan padanya.
Vony menatap wajah Alan yang sudah rebahan di sampingnya dengan tersenyum.
"Selamat malam" ucap Alan membalas tatapan Vony.
"Malam" balas Vony, perlahan memejamkan matanya masuk ke alam mimpi.
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1