My Assistant Husband

My Assistant Husband
Cincin Pernikahan


__ADS_3

Hampir dua ratus foto lebih yang dilakukan Alan dan Vony hari ini membuat pria itu nampak sangat kelelahan dan memilih duduk di bawah pohon rindang, menatap sang istri yang masih ingin berfoto dari segala sisi.


"Aku pikir tidak akan sampai separah ini" guman Alan saat Vony sudah selesai dan berjalan kearah nya. "Apa kamu tidak capek?" tanya Alan menatap wajah Vony yang duduk di sampingnya.


"Sedikit" jawab Vony meneguk air mineral.


"Sedikit?, apa dia tidak salah bilang?, bahkan aku saja sudah kelelahan seperti ini" Alan menggeleng kecil mendengar jawaban sang istri.


"Lebih baik kita kembali ke hotel sekarang mengistirahatkan tubuh kita" ucap Alan saat jam sudah menunjuk pukul tiga sore hari.


"Tapi aku belum makan siang" kata Vony menunjukan wajah lucunya.


"Kita makan di hotel saja" Alan bangkit dari duduknya mengulurkan tangan membantu Vony berdiri dan masuk kedalam mobil untuk kembali ke hotel.


***


Sampai di hotel Vony membalikan badan ingin mengatakan sesuatu tapi tubuhnya terlebih dahulu menghantam tubuh kekar Alan yang baru saja menutup pintu kamar. Tak ingin jatuh seorang diri tangannya menarik baju Alan sehingga keduanya jatuh ke atas lantai dengan Alan berada tepat di atas tubuhnya, beruntung pria itu dengan sigap menggunakan sikunya agar tak menindih tubuh kecil Vony yang bisa-bisa bertambah semakin kecil.


Vony yang tadi memejamkan mata bersiap menerima hantaman yang keras pada tubuhnya membuka mata perlahan dan melihat Alan yang tengah menatapnya.


Pandangan mata keduanya bertemu menatap dalam satu sama lain tanpa ada yang berniat untuk memalingkan wajah.


"Kamu itu bisa tidak satu hari saja tidak menyebalkan?" ucap Vony yang masih dengan posisi di bawah Alan.


"Kamu juga bisa tidak satu hari tidak ceroboh?" ganti Alan yang meluapkan kekesalannya, tapi tak berniat bergeser sedikitpun dari atas Vony.


"Kapan aku ceroboh?" tanya Vony pura-pura tak tahu.


Alan menyentil kening Vony membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Lihat sekarang kita dalam posisi yang seperti apa?, dan itu semua karena ulah mu!"


Baru sadar posisi keduanya sangat lah dekat Vony menyingkirkan tubuh Alan dari atasnya membuat pria itu kembali terjatuh kebelakang.


Menepuk bagian belakang tubuhnya Vony menunjukan ekspresi biasa-biasa saja. "Aku tidak sengaja, lagian kamu sendiri yang salah kenapa tiba-tiba berada di belakang ku"


Alan bangkit menyertakan tubuhnya dengan Vony. "Kamu menyalahkan ku?"

__ADS_1


"Perempuan jatuh sama dengan laki-laki yang salah!" tegas Vony.


Alan mengusap wajahnya kasar, tubuhnya yang sangat lelah dan belum makan siang membuat nya memilih menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu dari pada harus berdebat dengan Vony yang tiada habisnya. "Terserah kau mau bilang apa"


***


Menyantap makanan di balkon kamar keduanya menikmati suasana makan malam untuk pertama kalinya dari kamar hotel.


"Tadi mama telfon saat kamu mandi" kata Vony membuka suara.


Alan meneguk jus jeruk miliknya menatap wajah Vony yang masih fokus pada makanan. "Mama bilang apa?"


Tangan Vony terhenti mengingat suara Salma dari sebrang sana yang membuatnya salah tingkah.


...Salma...


|Halo sayang, mama hanya mengingatkan kamu kalo jangan terlalu kasar sama Vony, kasian dia. Perlakuan dengan lembut agar mama segara punya cucu


Dengan cepat Vony menutup panggilan tersebut saat dadanya berdetak kencang tak karuan.


"A-aku tidak apa-apa" jawabnya terbata-bata.


"Mama bilang apa sama kamu?" tanya Alan sekali lagi penasaran dengan apa yang dikatakan sang mama.


"Mama hanya berkata agar kita pulang dengan selamat" ucap Vony asal, ia tak tahu harus mencari kata-kata lain untuk mengantikan kalimat Salma tadi.


Alan mengangguk percaya, besok ia dan Vony sudah harus pulang ke ibu kota memberikan waktu mereka kepada berkas-berkas yang bisa di pastikan akan setinggi apa nantinya.


"Apa kita tidak membelikan oleh-oleh untuk mama,ayah, Kenzou dan juga Aleta?" tanya Vony.


"Boleh, tapi untuk Aleta biar aku saya yang berikan"


"Kenapa harus kamu?, aku sahabatnya jadi biar aku saja" ucap Vony keberatan.


"Apa kamu ingin Kenzou dan Aleta berfikir kenapa kita bisa berlibur dan pulang dalam waktu yang bersamaan?"

__ADS_1


Vony terdiam mendengar ucapan Alan, dirinya saja berlibur selama empat hari tidak memberitahu Aleta, bahkan temannya itu ia privasi agar tak bisa melihat semua postingan selama ia liburan.


"Dan satu lagi"


"Apa?"


"Lebih baik cincin pernikahan yang ada di tangan kamu itu di lepas saat kita sedang berada di luar"


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin salah satu di antara kita ketahuan telah menikah"


Vony menatap cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya yang di berikan Salma untuk pernikahan mereka satu bulan yang lalu. Entah kenapa hati Vony terasa berat melepas cincin tersebut.


"Terus kalo mama dan ayah bertanya soal cincin pernikahan kita harus menjawab apa?"


"Kalo saat bersamaan keluarga kita pakai saja cincin itu, dan saat bekerja atau keluar kita lepas"


"Apa mama tidak akan marah?" tanya Vony yang masih keberatan.


"Mama tidak akan marah kalo tidak ada yang memberitahu nya tentang hal ini"


Vony mengangguk kecil mengiyakan saja ucapan Alan.


"Kalo begitu ayo kita keluar untuk mencari oleh-oleh"


"Sebentar biar aku siap-siap" Vony masuk kedalam mengambil jaket dan tas miliknya tak lupa ia memoleskan sedikit liblam pada bibirnya agar tak terlihat pucat.


"Sudah?" tanya Alan.


"Iyah"


Keduanya keluar dari dalam hotel dan langsung menuju pusat oleh-oleh yang terdekat dari hotel mereka agar tak membutuhkan waktu yang lama karena keduanya masih belum menata baju-baju ke dalam koper.


***

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2