
Berjalan keluar kamar setelah membersihkan tubuh Vony melihat Alan tengah memangku laptop di pahanya. Tak ingin terlalu lama menatap wajah pria itu Vony berjalan ke arah dapur mencari makanan untuk mengganjal perutnya yang lapar karena memang ia melewatkan sarapan dan makan siang.
Berjalan seperti anak pinguin Vony membuka pintu kulkas yang ternyata tak ada isi apapun di dalamnya. Mendengus kesal Vony meneguk segelas air putih sebelum kembali ke kamar kembali mengistirahatkan tubuhnya yang masih lelah apa lagi bagian pahanya masih tak nyaman untuk di gunakan berjalan.
Baru saja tangan nya ingin meraih pintu kamar suara Alan terdengar memanggilnya. "Kamu belum makan bukan?" tanya Alan kali ini dengan suara lembut, tak ada suara kasar seperti terakhir ia dengar.
"Aku sudah memesankan makanan yang lumayan banyak untuk mu"
Niat ingin menolak bunyi perutnya membuat Vony mau tak mau menerima ajakan Alan makan bersama. Duduk di sofa keduanya menyantap makanan masing-masing tanpa mengeluarkan suara.
Melahap makanannya dengan cepat Vony ingin segara kembali ke kamar, rasanya masih benar-benar malu setalah apa yang mereka lakukan tadi malam. Bahkan berulang kali detak jantungnya berdetak dengan sangat kencang saat matanya mencuri-curi pandang Alan.
"Aku sudah selesai" ucap Vony meneguk sebotol air mineral. "Aku kembali ke kamar dulu"
Tangan Alan meraih pergelangan tangan Vony, mencegah wanita itu agar tak pergi. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu"
"Aku lelah, kalo kamu mau bicara besok saja atau tidak nanti malam"
"Hanya sebentar"
Vony mengehela nafas panjang, niatnya untuk menghindari Alan hari ini dirinya harus di hadapkan dengan Alan yang ingin menyampaikan sesuatu. "Katakan"
"Aku minta maaf untuk kejadian tadi malam"
"Aku sudah melupakan nya, anggap saja itu sebagai shodaqoh ku pada orang yang kelaparan" ucap Vony tak berani menatap wajah Alan, yang ada debaran jantung nya bisa di dengar oleh pria itu.
"Aku tau itu bukanlah hal yang mudah untuk dirimu, hanya saja aku benar-benar merasa tak enak sekarang" Entah kenapa setiap kali dirinya melihat wajah Vony, Alan merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat meski pun perbuatan itu sudah seharunya di lakukan sepasang suami istri untuk meneruskan keturunan.
"Sudahlah jangan menyedihkan seperti itu, lagian percuma kamu menyesal karena penyesalan mu tidak akan bisa mengembalikan keperawanan ku!" tandas Vony membuat Alan tak bisa lagi berkata-kata.
__ADS_1
"Rumah tangga kita tinggal bertahan selama empat bulan dua minggu, jadi selama itu aku berharap tidak akan pernah hamil hanya dalam sekali berhubungan badan dengan mu" Vony beralih menatap wajah Alan yang menatapnya dengan tatapan bersalah. "Jalani saja dengan santai seolah-olah di antara kita tak terjadi apapun" lanjutnya.
"Aku masih lelah dan akan kembali ke kamar" ucap Vony saat tak kunjung mendapatkan balasan dari Alan memilih untuk kembali ke dalam kamar. Saat pintu kamar tertutup mata Vony menangkap secarik darah keperawanan nya yang masih berada di atas seprai berwarna putih. "Sial, itu sangat memalukan!" berjalan ke arah ranjang Vony melepas seprai berwarna putih tersebut memasukannya ke dalam lemari menganti nya dengan yang baru.
Sedangkan di luar kamar Alan menghitung-hitung tanggal pernikahan nya sampai hari ini dan benar saja rumah tangga nya dengan Vony tinggal bertahan selama empat bulan dua minggu. "Kenapa waktu bisa secepat ini?, aku fikir baru kemarin aku menikahinya"
Alan menepuk jidat melupakan hal yang harus dia sampaikan kepada Vony bahwa Salma meminta keduanya untuk menginap malam ini. Menyusul Vony ke dalam kamar Alan mendapati wanita itu sudah terlelap tidur.
Berjalan ke arah ranjang Alan duduk di sisi ranjang, ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman memandangi wajah polos Vony yang terlihat menggemaskan saat tidur.
"Monster berubah menjadi hello kitty" ucap Alan tentu tak akan di dengar Vony. Mengulurkan tangan Alan menyingkirkan anak rambut menghalangi wajah cantiknya. "Dia sangat cantik" pujinya.
_
_
_
"Ma" sapa Vony melihat Salma tengah menyiram bunga matahari di depan rumah. Cipika-cipiki Salma menangkup wajah cantik menantunya.
"Kamu terlihat semakin cantik"
"Mama juga terlihat awet muda, apa ada resep rahasia nya?" Vony menaikan alisnya menggoda.
"Rahasianya sabar menunggu cucu dari kalian berdua" jawab Salma saat Alan ikut bergabung, membuat pipi Vony bersemu merah.
"Apa kalian sudah melakukan program anak?" tanya Salma menatap bergantian wajah Alan dan Vony.
Mendapat pertanyaan seperti itu Vony menatap wajah Alan dengan tatapan bingung. Bahkan sampai sekarang keduanya belum sama sekali berkonsultasi dengan dokter kandungan menganai program memiliki keturunan.
__ADS_1
"Sudah ma, tinggal tunggu hasilnya saja" jawab Alan membuat bola mata Vony terbelak lebar.
"Omong kosong macam apa itu!"
Salma mengembangkan senyuman nya menepuk punggung tangan Vony karena bahagia mendengar ucapan sang putra. "Nanti mama akan masih kamu tips menjaga kesehatan dan pola makan yang baik agar kamu segara ham" Salma mengusap perut datar milik menantunya dengan terus tersenyum tiada henti.
Vony tersenyum kikuk melihat raut betapa bahagianya Salma sekarang, tak enak jika ia harus meralat ucapan suami nakal nya itu. "Mama sampai lupa mengajak kalian masuk, kita bicara di dalam saja sambil meminum secangkir teh" ajak Salma di angguki keduanya.
Waktu terus berjalan sampai langit yang tadi berwarna oranye berubah menjadi gelap menandakan malam hari telah tiba. Memutuskan naik ke lantai atas untuk pertama kalinya Vony melihat keadaan kamar Alan, ukuran kamar yang sangat luas memiliki ranjang ukuran jumbo, ruang ganti di dalamnya, lengkap dengan balkon yang terdapat ayunan gantung.
Keduanya memutuskan untuk membersihkan tubuh terlebih sebelum kembali turun untuk menikmati makan malam. "Alan apa tidak ada hair dryer?" tanya Vony masih sibuk menggosok kan rambut nya yang basah pada handuk.
"Sepertinya ada, sebentar" melangkah masuk ke dalam ruang ganti Alan mengambilkan hair dryer menyarahkan nya pada Vony.
Mulai mengeringkan rambut, Vony memberikan olesan vitamin agar rambutnya tak kering dan rontok. Tanpa ia sadari setiap pergerakan nya di lihat oleh Alan dari pantulan cermin.
"Sudah selesai?" tanya Alan saat Vony mematikan hair dryer.
"Sudah" jawab Vony.
Keduanya melangkah keluar dari dalam kamar menuruni anak tangga menuju meja makan di mana keadaan nya tiba-tiba menjadi sangat ramai.
"Apa ada tamu?" tanya Vony melihat dari kejauhan meja makan yang nampak banyak orang.
"Sepertinya begitu" jawab Alan.
Merasa penasaran siapa tamu nya Alan dan Vony berjalan semakin mendekat. keduanya di buat kaget saat tamu tersebut adalah tamu spesial Erlad.
"Anggit?" guman Alan dan Vony dalam hati.
__ADS_1