
Bersiap untuk ke kantor Vony menatap wajah Alan yang masih nampak sangat lelah dari arah sofa, entah jam berapa suaminya itu pulang semalam sampai pagi hari masih terlihat sangat lelah seperti itu.
"Apa pekerjaan mu tadi malam sangat banyak?"
Alan yang tak sadar jika dirinya sejak tadi di perhatikan oleh Vony menoleh, mengulas senyum manis untuk istrinya. "Iyah tadi malam aku lembur di kantor sampai lupa waktu"
"Maksud mu sampai lupa memberikan kabar pada istrinya?" Sindir Vony.
Alan menghampiri Vony duduk di samping sang istri yang nampak marah karena perbuatannya semalam. "Tadinya aku ingin mengirimkan pesan pada mu tapi kebetulan batu ponsel ku habis saat itu"
"Kamu bisa cas ponsel mu di kantor, karena aku yakin Jhonson Company bukan perusaahan miskin yang bisa saja menyediakan seratus stop kontak pada ruangan mu!"
"Aku lupa membawanya"
"Kamu bisa meminjam pada Kenzou ataupun karyawan lain"
"Dan itu salah nya batu ponselku habis pada malam hari dimana semua orang sudah pulang" elak Alan.
"Terlalu banyak alasan untuk menutupi satu kebohongan yang kamu sembunyikan!" Tandas Vony.
Alan tak dapat berkutik untuk menjawab ucapan sang istri yang begitu tegas, tapi mengungkapkan semaunya juga bukan hal yang baik untuk sekarang. "Aku minta maaf kalo tadi malam aku tidak memberikan kabar pada mu, sampai membiarkan mu tidur di sofa seperti tadi malam" ucap Alan penuh penyesalan.
Mendengar permintaan maaf yang begitu tulus dari Alan Vony meraih tangan Alan menggenggam nya lembut. "Lain kali kalo sedang lembur di kantor, atau ada acara mendadak di luar sana hubungi aku terlebih dahulu setidaknya hanya sebuah pesan singkat saja"
Alan mengangguk bak anak kecil yang langsung patuh pada mama nya. Vony tersenyum lebar mengajak Alan untuk berangkat ke kantor sebelum keduanya terlambat.
***
__ADS_1
"Tuan apa anda yakin ingin melakukan pembangunan jalan pada desa ini?" Tanya Alan saat Kenzou menunjukan sebuah plosok desa yang berada di pinggiran kota pada tablet di tangan nya.
"Iyah, apa ada masalah?"
"Ti-tidak tuan, hanya saja desa ini desa terpencil dan juga orang kota tidak mungkin pergi ke desa ini saat weekend"
"Siapa bilang aku membangun jalan itu untuk orang kota"
"Terus buat apa anda membangun nya?"
"Karena di desa itu ada salah satu tempat yang di sukai istriku, jadi aku ingin membangun akses jalan yang baik bahkan rencananya aku juga ingin memberikan akses internet"
"Kalo begitu setalah ini saja akan mengajukan kerja sama dengan provider penyedia jasa internet dan memastikan pembangunan jalan dan akses internet ini akan selesai dalam satu bulan"
"Aku percaya dengan mu" ucap Kenzou penuh kepercayaan. "Alan aku ingin menanyakan sesuatu pada mu" sambung Kenzou kali ini pria itu menegapkan badannya memasang wajah serius.
"Apa tuan?"
Melihat Kenzou yang bahkan sudah tau akan kabar itu membuat Alan terdiam cukup lama berfikir siapa yang membocorkan masalah ini pada orang-orang, tidak mungkin jika Vony karena wanita itu sampai sekarang saja masih merahasiakan pernikahan nya dari Aleta.
"An-anda dapat berita seperti itu dari siapa tuan?" tanya Alan ingin tau dalang di balik ini semua.
"Hari itu aku tidak sengaja bertemu dengan ayah mu di sebuah mall dan aku sempat berbincang-bincang dengannya katanya kamu akan bertunangan dengan Anggit dua Minggu lagi, apa itu benar?"
"Saya terpaksa melakukan hal tersebut" Jawab Alan jujur.
"Kenapa kamu tidak menolaknya?"
__ADS_1
"Tidak bisa Zou" ucap Alan frustrasi. "Aku saja hampir stress di posisi ini, rasanya aku ingin mati saja tapi ada seseorang yang masih menginginkan aku hidup di belakang sana"
Kenzou menatap iba sahabatnya itu, paham betul bagaimana kehidupan Alan selama ini. "Kalo kamu lelah batalkan saja pertunangan ini, dan bilang pada ayah mu untuk tidak lagi bekerjasama dengan PutraTama Company dan aku yang akan menggantikan menyuntikan dana pada perusahaan mu"
Alan mengeleng kecil yakin jika itu akan sia-sia. "Aku sudah ratusan kali berbicara seperti itu tapi hasilnya sama saja"
"Kalo begitu biar nanti malam aku akan kerumah mu berbicara langsung dengan ayah mu itu menganai hal ini" ucap Kenzou memberikan solusi baru.
"Ja-jangan" larang Alan. Kalo Kenzou benar-benar akan datang maka sahabatnya itu akan melihat Vony berada di rumah nya nanti malam.
"Kenapa?"
"Aku yakin itu akan sia-sia jadi jangan buang-buang waktu mu untuk hall tidak penting seperti itu.
"Hall tidak penting kamu bilang? Kamu itu sahabat sekaligus Assistant ku jadi aku berhak menolong mu jika kamu sedang seperti ini"
"Tidak perlu Zou, aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri" ucap Alan meyakinkan meski keyakinan itu sangat kecil.
"Tapi-"
"Ini hanya masalah waktu dan kamu tenang saja itu hanya sebuah pertunangan dan tidak akan sampai ke jenjang yang lebih tinggi lagi"
"Maksud mu? Kamu tidak akan menikah dengan Anggit?"
"Iyahh karena ini hanya sebuah pertunangan karena keterpaksaan saja, dan aku tidak akan benar-benar mau menikah dengan wanita seperti itu, aku juga memiliki tipe wanita pilihan ku sendiri"
"Jangan bilang kamu sudah punya pacar?"
__ADS_1
"Emmm... lupakan saja itu tidak penting. Yang lebih penting sekarang aku harus ke perusaahan provider untuk mengajukan kerja sama" ucap Alan bangkit dari duduk langsung keluar dari ruangan Kenzou sebelum sahabat nya itu lebih dalam lagi saat bertanya.
"Alan aku belum selesai bicara!" Teriak Kenzou tak di hiraukan Alan. "Beruntung aku masih mengingat mu sebagai seorang sahabat kalo tidak sudah aku pecat kamu" umpat Kenzou.