
Mengetahui Alan dan Vony akan tinggal di rumah nya Erlad hanya diam tak menggubris apa lagi menjawab semua pertanyaan Vony yang berusaha mengajaknya berbicara. Baginya wanita itu tidak lebih dari sebuah parasit yang hanya menghalang-halangi kedekatan Alan dan Anggit kedepannya.
"Apa ayah ingin tambah nasi?" tanya Vony menawarkan. "Biar Vony ambilkan" Sambungnya saat Erlad tak kunjung menjawab.
Baru saja Vony menuangkan nasi ke dalam piring Erlad, pria paruh baya tersebut bangkit dari duduknya tanpa mengatakan sepatah kata pun membuat Vony menatap datar punggung ayah mertuanya yang akan pergi.
"Bisakah ayah memperlakukan Vony dengan baik" Sejak tadi Alan selalu memperhatikan sikap sang ayah yang acuh pada Vony yang jelas-jelas sedang berusaha mengambil sedikit perhatian nya.
Erlad berbalik menatap wajah kesal Alan. "Ayah tidak pernah meminta istri mu itu untuk berbicara dengan ayah, jadi buat apa ayah menanggapinya?"
"Tapi Vony menantu ayah-"
"Alan sudah" potong Vony meminta agar Alan mengalah. "Jangan di teruskan, lagian yang di katakan ayah ada benarnya"
__ADS_1
"Kamu dengar sendiri bukan apa yang wanita itu ucapkan?, jadi jangan salah kan ayah salahkan saja istri mu itu!" Erlad melangkah pergi ke ruangan kerjanya di lantai dua.
Alan membanting alat makan milik nya menimbulkan bunyi yang sangat nyaring. "Sudah aku bilang percuma kamu melakukan ini semua kalo saja sikapnya akan tetap seperti itu!"
"Ini baru awal an Alan, dan aku tidak akan pernah menyerah sampai aku bisa mendapatkan perhatian ayah"
"Apa kamu tidak bisa melihat bagaimana sikapnya dengan mu tadi?!"
"Aku bisa melihat nya dengan jelas hanya saja aku yakin kalo ayah akan bersikap baik dengan ku suatu saat nanti" ucap Vony penuh keyakinan di setiap kalimat nya.
Melihat cekcok anak dan menantunya Salma tersenyum kecut, beralih duduk di samping Vony tangan Salma mengusap punggung menantu nya lembut. "Kalo kamu ingin mengambil hati ayah Alan seharunya kamu sudah tau situasi macam apa yang akan kamu hadapi dan seberapa kuat mental yang harus kamu siapkan karena semua itu membutuhkan waktu dan tenaga"
"Vony sudah memikirkan itu matang-matang ma, bahkan Vony yakin Ayah bisa menerima Vony meskipun kita tidak tau jalan seperti apa yang akan Vony hadapi kedepannya"
__ADS_1
Salma melebarkan senyumnya melihat sorot mata Vony yang sangat yakin dengan apa yang akan ia lakukan. "Mama hanya bisa berdoa yang terbaik buat kamu. Sebaiknya kamu kembali kamar mama mau bikin kopi buat ayah"
"Biar Vony saja"
"Apa kamu yakin?" tanya Salma memastikan.
"Iyah, lebih baik mama masuk ke kamar istirahat biar ini semua bibi yang bersihkan" ucap Vony menyuruh. Mengangguk setuju Salma masuk ke dalam kamar meninggalkan Vony di dapur seorang diri untuk membuat kan sang suami kopi.
Mengetuk pintu ruangan Erlad terlebih dahulu Vony mendorong pintu setalah mendapatkan izin dari dalam. Mendongak masuk Vony mendapati Erlad tengah fokus pada layar laptop, berjalan menghampiri Erlad dengan nampan berisi kopi dan biskuit.
"Ayah kopinya"
Erlad menoleh ke samping mendapati Vony yang mengantarkan kopi ke ruangannya. "Siapa yang menyuruh mu masuk?!"
__ADS_1
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️