My Assistant Husband

My Assistant Husband
Susu Hamil


__ADS_3

Vony tak dapat lagi membela diri di saat bukti-bukti tersebut telah berada di depan matanya apa lagi dengan kondisi seperti sekarang ini yang pasti semua orang tidak akan percaya dengan ucapannya dan memilih percaya dengan bukti yang Anggit lemparkan.


"Dan apa ini!" Anggit meraih kotak susu yang berada di keranjang belanja Vony. "Kamu membeli susu hamil? buat apa?"


"A-aku"


"Jangan bilang kamu sekarang sedang mengandung!"


Vony mengeleng dengan cepat meralat ucapan Anggit yang seharusnya tidak ia lakukan. "Aku membelikan nya untuk seseorang bukan untuk diriku"


"Jangan bohong!"


"Aku tidak bohong Anggit, aku membelikan itu untuk seseorang di kantor"


Anggit berjalan mendekat menatap tajam mata Vony yang berjalan mundur. "Pembohong!" tanpa pikir panjang Anggit mendorong bahu Vony kebelakang membuat tubuh wanita tersebut menabrak rak susu yang berdiri kokoh terhiyung kebelakang.


"Aaaa" Vony menatap wajah Anggit yang nampak sangat senang melihat dirinya yang sebentar lagi akan jatuh di atas rak susu.


Tangan kekar langsung meraih tangan Vony menariknya dengan sangat cepat sebelum bunyi keras dari rak panjang tersebut menghantam lantai.


Brak!!!

__ADS_1


Vony memejamkan mata saat bunyi tersebut mengema sangat keras di supermarket tak sedikit dari para pengunjung berteriak histeris mendengar benturan keras kedua benda tersebut.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alan menatap Vony yang nampak pucat.


Alan yang tadinya ingin menunggu keluar harus terpaksa masuk ke dalam supermarket saat mendengar pembicaraan para pembeli yang membicarakan ada dua wanita bertengkar hebat karena di tuduh berselingkuh dengan tunangan orang lain, merasa firasatnya mulai tak enak Alan menghampiri tempat kejadian dan benar saja saat dirinya baru saja datang Alan melihat Anggit mendorong tubuh Vony menghantam rak susu.


"A-aku baik-baik saja" jawabnya dengan bibir bergetar.


Alan beralih menatap Anggit yang nampak biasa saja malah wanita itu menatap tajam Alan karena telah membantu Vony.


"Kenapa kamu menolong nya!"


"Apa kamu sudah gila melakukan hal berbahaya tersebut pada Vony? bagaimana kalo dia sampai kenapa-kenapa apa kamu mau tanggung jawab?!"


Kening Alan menimbulkan garis halus tak paham apa yang di maksud Anggit dengan merusak hubungan.


Alan yang nampak kebingungan membuat Anggit menunjukan foto dimana dirinya masuk ke dalam kamar Vony dengan wanita itu membuka pintunya. "Lihat betapa murahannya dia di dalam foto ini!"


Alan yang tak suka siapapun menyebut Vony dengan kata-kata murahan seperti itu menepis kasar tangan Anggit yang memegang foto. "Jangan pernah menyebut nya dengan hal seperti itu!"


"Kenapa? memang itu kenyataannya bukan?" Anggit beralih menatap Vony yang berlindung di belakang Alan, menarik kuat tangan Vony denger sangat kuat.

__ADS_1


"Anggit lepas, sakit!"


"Berapa Alan membayar mu selama dua hari itu!"


"Anggit lepaskan tangan nya!" Alan melepaskan tangan Anggit dari sang istri membentak Anggit di hadapan semua orang.


"Kamu berani membentak ku hanya karena wanita murahan ini?!"


"Aku tegaskan sekali lagi kalo Vony bukan wanita murahan!!"


"Oh ya?" Anggit berdecik merendahkan, wanita itu mengeluarkan amplop berwarna coklat mengeluarkan isi di dalam yang berupa uang tunai. "Akan aku tunjukan se-murahan apa dia sekarang!"


Dengan penuh percaya diri Anggit melempar uang tersebut pada tubuh Vony yang hanya diam mematung. Uang yang mengenai tubuh Vony membuat orang-orang di sekitarnya benar-benar menatap Vony sebagai wanita rendahan saat itu juga.


Mata Alan memanas melihat wanita yang ia cintai dipermalukan di depan umum sedangkan wanita yang hanya menjadi tunangan pura-pura nya tersebut terlihat begitu bahagia.


PLAK!!!


Vony yang merasa di rendahkan oleh Anggit harus melebarkan bola matanya saat ia untuk pertama kali melihat Alan bermain tangan dengan seorang perempuan.


Alan melepaskan cincin yang ada di tangannya melempar benda bundar tersebut pada tubuh Anggit membalas apa yang Anggit lakukan pada Vony.

__ADS_1


"Mulai hari ini pertunangan ini benar-benar selesai! dan aku tidak pernah sudi memiliki wanita yang memiliki sifat rendahan seperti dirimu!" raung Alan.


Alan Menarik tangan Vony keluar dari kerumunan yang sejak tadi hanya menonton Vony, tapi sebelum itu Alan menitipkan kartu nama pada karyawan untuk menotal semua kerugian yang terjadi dan mengirim nya pada alamat yang tertulis.


__ADS_2