My Assistant Husband

My Assistant Husband
Malam Pertama Yang Tertunda


__ADS_3

Sampai di apartemen Alan langsung membanting tubuh Vony ke atas ranjang membuat wanita itu meringis kesakitan di bagian punggungnya.


"Kau kasar sekali!" ringis Vony mengusap punggungnya sendiri.


Tak menghiraukan amarah dari wanita itu Alan ikut merebahkan tubuh nya di samping Vony mencari posisi ter-nyaman.


Melihat Alan tidur di sampingnya tangan Vony terulur menusuk-nusuk pipi Alan gemas. "Ternyata kamu gemuk juga ya!" celoteh nya tak jelas.


"Dasar bodoh aku ini tampan apa kau tak bisa melihat nya?, apa mata mu itu sudah katarak?"


menegapkan tubuhnya Vony menatap wajah Alan secara keseluruhan, tangan nya terulur mengusap wajah tampan milik Alan. "Kau itu tampan tapi sayang, kamu tidak tertarik sedikit pun dengan ku!" Vony memajukan bibirnya beberapa senti karena kesal.


"Atau jangan-jangan kau sudah tidak normal?"


Alan mencengkram tangan Vony yang terus menyusuri wajahnya tiada henti. "Aku masih normal!"


"Tapi aku tidak mempercayai hal tersebut"


Dengan gerakan cepat Alan membalikan keadaan dengan Vony yang berada di bawah tubuhnya.


Masih di bawah pengaruh alkohol tangan Vony langsung melingkar dengan sendirinya di leher Alan membuat jarak wajah keduanya sangat dekat. Jika saja Vony dalam ke adaan sadar pasti ia akan mendorong tubuh Alan sampai terjungkal di atas kramik yang sangat keras tersebut.


"Apa kamu tidak sadar Alan jika kedekatan kita selama satu bulan ini membuat ku memiliki rasa kagum dengan diri mu, tapi sayang hanya sedikit" ucap Vony saat tatapan keduanya bertemu.


Mendengar hal tersebut tangan Alan menyingkirkan anak rambut yang menghalau wajah cantik Vony. "Belakang an ini aku lebih merasa nyaman saat berada di samping mu"


"Kamu tidak tahu betapa sulitnya aku menahan nafsu untuk tidak menyentuh mu!"


Vony tertawa dengan keras sebelum kembali menatap redup wajah Alan. "Mana bisa seorang laki-laki tidak normal seperti mu memiliki rasa seperti itu-"


Cup


Alan langsung membungkam mulut Vony yang tiada henti berkata ini dan itu, bahkan sampai mengatainya tak normal. Dengan rakus Alan melahap habis bibir merah tersebut memperdalam ciuman mencari di mana letak lidah Vony. Ciuman yang lama kelamaan semakin dalam dan semakin panas membuat hasrat kedua orang tersebut terbangun dengan sendirinya.


Melepaskan ciumannya tangan Alan melepas kemeja dan celana di tubuhnya, membuang semua benda itu ke sembarang arah. Sedangkan Vony wanita itu juga ingin melepas kancing bajunya tapi sayang karena pengaruh alkohol yang terlalu banyak ia minum, Vony hanya bisa marah-marah karena kancing bajunya tak kunjung lepas.


Melihat sang istri kesulitan dengan senang hati Alan membantunya. "Ternyata kamu juga ada gunanya selain menjadi suami yang paling menyebalkan"


"Shut...diam sayang" Alan meletakan jari telunjuk nya di depan bibir Vony meminta istrinya agar diam.

__ADS_1


Menganggap keadaan yang sedang mereka lalui adalah sebuah mimpi keduanya melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.


Alan menurunkan ciuman ke leher jenjang Vony meninggalkan bekas berwarna merah keunguan di sisi kanan dan kiri, sedikit turun ke bawah Alan mendapati pemandangan yang sangat indah yang belum pernah ia lihat sebelum nya secara nyata dan kini dirinya bisa merasakan bagaimana rasanya.


"Ahh,,, Alan!" desah Vony saat Alan menghisap blueberry miliknya dengan sangat bruntal. Bukan nya menjauhkan wajah Alan, tangan Vony menekan kepala pria itu agar lebih dalam lagi.


Saat Vony masih asik menikmati apa yang Alan lakukan, paha milik Alan perlahan membuka paha Vony menuntun benda keramat yang selama ini ia jaga dengan sangat baik mengarah pada goa yang masih sangat sempit dan lembab dengan sangat lembut.


"Alan sakit!!!" Kuku cantik milik Vony menancap mulus di punggung milik Alan saat benda panjang dan keras tersebut menerobos masuk ke dalam goa nya. "Alan hentikan!!"


"Sebentar lagi sayang" ucap Alan dengan suara serak membuat siapapun yang mendengarnya terhipnotis dengan sendirinya.


Air mata Vony jatuh saat rasa sakit pada bagian pangkal bahanya berdenyut hebat merasakan benda keras tanpa akhlak tersebut masih ingin menjelajah lebih dalam.


Melihat Vony menangis Alan menenangkan nya seperti bayi. "Jangan menangis, ini hanya sebentar"


"Tidak di mimpi tidak di nyata kau selalu brengsek Alan!"


Tak menjawab hinaan Vony, Alan kembali menghisap blueberry yang memiliki rasa unik yang sayang untuk di lewatkan. Seiring berjalan nya waktu Alan mulai menarik benda miliknya secara perlahan memasukan nya kembali juga dengan sangat pelan, mengulanginya sebanyak tiga kali.


"Alan pelan-pelan!!!" ringis Vony saat milik Alan mulai bergerak dengan sangat kasar. "Alan hentikan, ini sangat perih!!!"


Alan mencengangkam kedua tangan Vony di samping tubuh agar tak menganggu aktivitas senam nya yang sangat membakar gairah.


Dengan senang hati Alan memompa miliknya lebih cepat meraungi indahnya penyatuan tubuh yang baru pertama kali mereka rasakan dengan saling mengeluarkan suara indah memenuhi kamar apartemen milik Alan.


Hampir satu jam pergulatan panas yang keduanya lakukan akhirnya lahar panas milik Alan keluar di dalam rahim Vony dengan sangat banyak, membuat rahim Vony menjadi hangat menerima semburan selai Vanila milik suaminya.


Mencabut senjata miliknya tubuh Alan langsung terkapar lemas tepat di samping tubuh Vony dengan tangan memeluk tubuh wanita itu dari samping.


Dengan sangat cepat keduanya masuk ke alam mimpi, mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.


_


_


_


Jam menunjukkan pukul satu siang dimana kedua orang yang baru saja menghabiskan malam pertama tadi malam masih saling berpelukan menikmati mimpi indah yang di berikan oleh tuhan.

__ADS_1


Mata Alan mengerjap secara perlahan saat tenggorokannya terasa sangat kering. Matanya menangkap wajah Vony yang tengah tertidur di dalam pelukannya tanpa sehelai benangpun. Beberapa kali Alan mengeleng kecil berharap mimpi indah tadi malam tak ikut ke dunia nyata.


"Astaga mimpi itu terlalu indah sampai-sampai aku melihat pemandangan seperti itu hari ini" guman Alan pada dirinya sendiri. Merasa ada yang janggal juga dengan dirinya Alan beralih menatap tubuhnya, matanya terbuka sangat lebar mendapati dirinya tak mengenakan apapun. "Tidak itu hanya mimpi!"


"Kau berisik sekali!" kesal Vony juga ikut membuka matanya melihat apa yang laki-laki itu lakukan sampai berisik sekali. "Kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Vony heran saat Alan menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kita-" Alan tak berani melanjutkan ucapannya memilih menggunakan mata sebagai isyarat.


Kening Vony menimbulkan garis halus sebelum menatap tubuhnya dan tubuh Alan.


"Aaa brengsek!!" mendorong kuat tubuh Alan, Vony bangkit dari tidurnya menjaga jarak dengan Alan.


"Auuu" ringis Vony saat bagian mis V nya terasa sangat perih. "Apa yang sudah kau lakukan Alan!"


"A-aku tidak melakukan apapun-"


"Pembohong!, kau menyetubuhi ku tanpa persetujuan dari ku!" potong Vony.


"Aku tidak sengaja melakukan itu"


"Jelas-jelas kau senagaja di sini!" Vony mengguyur rambutnya kebelakang frustasi. "Hal ini yang paling aku takutkan setelah kita menikah"


Masih terdengar jelas ucapan Vony membuat Alan bingung. Apa yang harus di takutkan?, bukan nya kalo melakukan hal tersebut pada istri sendiri bukanlah sebuah masalah yang besar?.


"Apa kamu tidak mau mengandung anak ku?" tanya Alan.


Vony kembali menatap wajah Alan. "Iyah!, aku tidak mau hamil tanpa rasa cinta seperti ini, aku tidak mau anak ku tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah nya, apa lagi ayah nya sekarang lebih mementingkan orang gila dari pada istrinya sendiri!" ucap Vony penuh akan sindiran tajam yang menghujam hati Alan bertubi-tubi.


"Kamu tau aku melakukan semua itu terpaksa, ayah yang menyuruh ku"


"Kamu itu pengecut Alan, kamu itu seharunya bisa memiliki pendirian apa lagi sekarang kamu sudah memiliki istri!" Vony mengehela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Jika suatu saat nanti aku hamil, aku akan mengugurkan anak itu!"


"Apa kau sudah gila!" murka Alan mendengar Vony akan mengugurkan janinnya jika wanita itu benar-benar hamil.


"Kamu sudah tau jawaban nya tadi kalo aku tidak ingin memiliki anak dari mu!"


"Tapi aku ingin memiliki anak dari mu!!" ucap Alan dengan nada tinggi, menatap tajam bola mata mata Vony. "Kalo kamu sampai mengugurkan anak itu, aku pastikan kamu tidak akan pernah lepas dari genggaman ku saat itu juga!" lanjut Alan, menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya Alan melangkah masuk ke dalam kamar mandi membanting pintu dengan sangat kencang dari dalam.


Bukan nya menangis seperti di sinetron-sinetron Vony menatap datar pintu kamar mandi dengan pikiran yang terus mengulang ucapan Alan. "Apa dia benar-benar ingin memiliki anak?"

__ADS_1


***


Jangan lupa Komen,Like,Vote,dan Beri Hadiah🤗♥️


__ADS_2