My Assistant Husband

My Assistant Husband
Berkarisma.


__ADS_3

Setelah Kerjasamanya di terima Jhonson company hari itu,kini tinggal Alan yang akan membantu Vony memincut dua perusahaan besar dalam waktu empat bulan.


Karena Alan tidak bisa membantu Vony secara keselurahan pria itu memberikan Vony waktu dua minggu kemarin untuk ia belajar bagaimana strategi meyakinkan perusahaan besar itu mau bekerjasama dengannya.


"Aku tidak bisa terlalu banyak membantu mu, karena ada kepercayaan yang harus aku jaga, jadi aku hanya bisa membantumu sedikit demi sedikit dari belakang, sisanya semua tergantung pada dirimu" ucap Alan didalam mobil.


Vony menghela nafas panjang rasanya sangat berdebar saat ada satu perusahaan besar memintanya bertemu, walau ia sudah berulangkali memahami apa yang Alan sampaikan kemarin.


"Aku takut" ucapnya grogi.


"Bukankah kamu sudah biasa bertemu klien seperti ini?"


"Aku memang sudah terbiasa, entah kenapa kali ini rasanya begitu berdebar" Berulang kali Vony menghela nafas panjang menetralkan detak jantungnya yang tak karuan.


"Bersikap biasa saja dan jangan menunjukan kegugupan mu didepan mereka, yang ada mereka semua langsung pergi saat melihat wajah mu!" ucap Alan ada nada menyindir dikalimat terakhirnya.


Vony memukul lengan Alan dengan keras. Bukannya mendukung pria ini malah menghinanya. "Kenapa kau suka sekali menghina wajah cantik ku!"


"Karena kau terlalu jelek untuk dilihat!" cibir Alan.


Baru Vony akan melayangkan pukulan kedua, Alan sudah mendorong tubuhnya agar segera keluar. "Cepat keluar, aku akan melihat mu dari kejauhan!"


Berdecak kesal mendapatkan usiran seperti itu Vony melangkah keluar di ikuti assisted sang ayah yang menggunakan mobilnya sendiri.


Menunggu kliennya Vony memesan minuman untuk mengurangi ketakutannya.


Tak berselang lama CEO dari Duta Company datang. Menjabat uluran tangannya Vony mempersilakan kedua orang tersebut duduk.


Mencari keberadaan Alan ia mendapati pria itu tengah mengamatinya dari kejauhan. Melihat Vony sangat gugup Alan menganggukkan kepala mengisyaratkan agar ia tenang dan tidak gugup.


Alan terlihat sangat yakin seperti itu Vony juga harus yakin kalo ia bisa dan harus mendapatkan proyek ini. Menarik nafas panjang Vony membuka dokumen yang ia bawa.


Memulai meeting, kali ini Vony membahas topik-topik penting dan menawarkan harga yang sesuai dengan keinginan kliennya, menawarkan tempat yang sangat strategis Vony memilih tempat didekat pantai yang akan dibangun sebuah hotel.


"Bukan hanya itu saja, rencananya dibagian ini kalo anda berminat akan dibangun taman bermain untuk anak-anak menghabiskan waktu bersama orangtuanya, sejenis play grup"


CEO Duta Company mengangguk mendengar penjelasan wanita dihadapannya. "Menarik dan mengiurkan untuk harga segitu dan tempat yang sangat strategis"


Melihat CEO Duta Company mulai tertarik Vony tak ingin melepas kesempatan begitu saja. "Jadi apa anda setuju berkerjasama dengan Adhitama Company tuan?"

__ADS_1


Pria itu diam sejenak menatap denah yang berada didepannya. "Saya sangat suka tempat dan harga yang ditawarkan Adhitama Company, terjangkau dan tempat nya juga akan ramai apa lagi saat akhir pekan"


"Jadi saya putuskan untuk menjalin kerjasama dengan dengan Adhitama Company untuk proyek ini" ucapnya tanpa ragu.


Ingin rasanya Vony berteriak kegirangan sekarang juga saat satu lagi proyeknya disetujui perusahaan besar.


"Terimakasih tuan, saya janji tidak akan mengecewakan anda kedepannya" ucap Vony tersenyum senang.


"Dan saya tunggu dokumen kerjasamanya nona" ucap CEO Duta Company merapikan setelan jasnya.


Melihat kedua orang tersebut bangkit dari duduknya Vony mengulurkan tangan. "Sekali lagi terimakasih tuan"


"Sama-sama nona Vony, jumpa lagi di pertemuan selanjutnya"


Mengangguk setuju Vony mempersilahkan kedua orang tersebut untuk pergi. Melihat Alan sudah bangkit dari kursinya Vony berlari kegirangan.


"Aaaa, aku berhasil Alan!!" teriak Vony mengalungkan tangannya pada leher Alan.


Alan yang tiba-tiba mendapat pelukan seperti itu refleks melingkarkan tangan pada pinggang ramping Vony menjaga keseimbangan Keduanya agar tak jatuh ke atas lantai.


"Kamu tau aku merasa sangat bahagia sekarang, dan itu semua berkat dirimu" lanjutnya.


Menjauhkan tubuhnya Vony menatap wajah Alan yang sangat dekat dengannya. Keduanya terdiam beberapa saat saat pandangan mata itu bertemu.


"Kenapa dia bisa setampan ini?" batin Vony mengulas senyum tipis pada bibirnya.


"Kenapa aku baru menyadari wanita ini sangat cantik?" batin Alan juga mengulas senyumannya.


Keduanya larut dalam isyarat mata yang saling mengagumi satu sama lain melupakan dimana sekarang mereka berada.


Mungkin jika mereka sudah halal Alan akan membawa Vony berada dibawah Kungkungan nya sekarang juga, dan menghabiskan hari yang sangat panjang,pikir Alan.


"Tuan,nona?" baru saja Alan akan mendekatkan wajahnya suara assistant Anggara sudah menegur keduanya.


Melepaskan pelukannya Vony merapikan bajunya yang sedikit berantakan. "Apa?" tanya Vony galak.


"Saya harus kembali ke kantor dulu nona, karena satu jam lagi tuan Anggara ingin mengunjungi anak perusahaan" jelasnya.


"Yasudah sana pergi, bilang sama ayah kalo aku akan makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor" ucapnya.

__ADS_1


Melihat assisten sang ayah sudah pergi Vony mengajak Alan untuk makan siang terlebih dahulu.


"Sepertinya aku tidak bisa makan siang kali ini"


Vony mengerut bingung dengan penolakan Alan. "Kenapa?"


"Kenzou baru saja mengirim pesan kalo ia juga memiliki jadwal meeting dengan seseorang setengah jam lagi" jawab Alan melihat jam di pergelangan tangannya.


"Kenapa sangat mendadak sekali?, baru saja aku mau mentraktir mu makan" ucap Vony yang ingin mengucapkan betapa bahagianya hari ini.


Melihat Vony berbicara dengan nada sedih Alan memiliki ide untuk menggodanya. "Bilang saja kau masih ingin melihat wajah tampan ku ini"


Mendengar hal itu Vony kembali ke mode galaknya. "Jangan kepedean jadi orang!"


"Aku tau kalo aku sangat berkarisma, jadi akui saja" sombong Alan.


Vony memutar bola matanya malas mendengar pujian Alan untuk dirinya sendiri. "Jangan sombong kalo kau saja tidak memiliki roti sobek!"


"Kau menghinaku?!"


"Bukan menghina tapi itu kenyatannya, paling yang ada perut buncit mu karena terlalu banyak makan!"


"Kau!"


"Apa?" potong Vony berdecak pinggang.


Niat menggoda Vony, malah dirinya sendiri yang merasakan kesalnya. "Berdebat dengan wanita seperti dirimu sama saja berdebat dengan orang gila!" ucap Alan meraih kunci mobilnya.


"Ehhh tunggu dulu!" cegah Vony.


"Apa lagi?"


"Karena kau tidak bisa makan siang dengan ku bagaimana kalo nanti malam kita diner?" ajak Vony.


"Lidah ku tidak cocok makan-makanan seharga seratus ribu!"


"Lihat saja nanti malam kita makan dimana!, sekarang lebih baik kau pergi!" ucap Vony dan kali ini ia yang mendorong tubuh Alan.


***

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Beri Hadiah 🤗♥️.


__ADS_2