My Assistant Husband

My Assistant Husband
Pindah


__ADS_3

"Kalian serius mau tinggal di sini?" tanya Salma tak bisa menutupi raut bahagia saat anak dan menantunya akan tinggal di rumah nya mulai malam ini. "Kalian sedang tidak memberikan harapan palsu pada mama bukan?"


"Tidak ma, Vony serius ingin tinggal di sini sama mama sementara waktu"


"Kenapa kalian tidak tinggal di sini untuk selamanya saja?, kenapa harus sementara waktu?" cecer Salma.


Vony menatap Alan meminta pria itu memberikan alasan yang logis agar Salma mau memahami keadaan mereka meski dengan kebohongan.


"Karena Alan dan Vony ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan mama sebelum kita memiliki anak" pipi Vony langsung menimbulkan rona merah saat Alan mengatakan perihal anak. "Karena setalah kita memiliki anak pasti Alan dan Vony akan lebih fokus pada buah hati kita. bukan begitu sayang?"


Dag...dig...dug...ser...


Jantung Vony mulai berdetak sangat cepat bahkan sangking cepatnya sekujur tubuh Vony terasa lemas saat tangan Alan memegang pundaknya bersamaan kata sayang di lontarkan pria itu.


"Sial kau Alan, aku menjadi selemas ini setalah mendengar kata sayang yang keluar dari mulut buaya mu itu!"


"I-I-iyah"


Ujung bibir Alan tertarik dengan sangat lebar saat tubuh Vony menegang saat ia melontarkan kata sayang untuk pertama kalinya. 'Loh kok yang pertama?, trs malam itu apa?'.


"Apa wanita ini bisa baper juga?"


Mendengar Alan berbicara soal anak sampai pipi Vony bersemu merah membuat Salma merasa tak sabar mendapatkan kabar bahagia dari keduanya.


"Kalo benar seperti itu mulai nanti malam dan seterusnya mama yang akan menyiapkan makanan bergizi supaya kamu cepat hamil"


"Ti-tidak perlu ma-"


"Kamu tidak boleh menolaknya, karena kehadiran anak pertama itu yang sangat di nanti-nanti setiap pasangan suami istri jadi mama juga harus turut adil"


Tak bisa berkutik Vony hanya mengangguk pasrah. Ucapan Alan barusan membuat Salma benar-benar berharap memiliki cucu sedangkan dirinya dan Alan saja sampai sekarang belum melakukan hubungan suami istri lagi setalah kejadian ketidaksengajaan malam itu.


Salma meminta Alan dan Vony masuk ke dalam kamar, membersihkan tubuh mereka sebelum makan malam tiba. Di dalam kamar Vony menatap tajam Alan yang tengah melonggarkan dasi.


"Kenapa kamu selalu berbicara soal anak di hadapan mama?" marah nya.


"Memang kenapa?, bukan nya wajar jika sepasang suami istri membicarakan hal seperti itu?" tanya Alan beralih melepas kancing lengan kemeja nya, meletakan arloji miliknya di atas nakas.


Mata Vony membulat sempurna saat pria itu benar-benar tidak peka sama sekali. "Sudah aku bilang kalo aku tidak mau memiliki anak dari mu"

__ADS_1


"Kenzou dengan Aleta saja bisa memiliki anak dalam sekali berhubungan kenapa kita tidak?" tubuh Vony terpaku mendengar Alan membicarakan masalah sahabatnya, apa mungkin hal tersebut akan terjadi juga dengan dirinya?.


"Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sejak seminggu lalu, dan aku rasa ini waktu yang tepat untuk membicarakan nya" Alan memegang kedua pundak Vony mensejajarkan tubuhnya dengan wanita itu menatap lekat bola mata nya. "Aku ingin kamu hamil dalam waktu satu bulan kedepan"


Vony menepis kasar tangan Alan dari pundaknya tak menyangka jika pria itu benar-benar ingin memiliki anak. "Apa kau sudah gila?, kamu bilang pernikahan kita hanya bertahan selama enam bulan dan sekarang kamu meminta ku untuk hamil?. Kamu benar-benar laki-laki serakah!"


"Dan jangan pernah samakan hubungan kita denger Kenzou dan Aleta, jelas itu sangat berbeda. Karena Aleta yang telah jatuh cinta dengan suaminya berbeda jauh dengan kita yang sama sekali tidak saling suka satu sama lain!"


"Kita sudah sama-sama tidak perjaka dan perawan lagi, dan juga orang tua mu dan mama ku menginginkan cucu, jadi bukan kah lebih baik kita memberikan apa yang mereka inginkan?"


"Tapi aku tak ingin memiliki anak, karena yang ada perpisahan kita nanti akan semakin sulit jika terdapat nyawa lain di rahim ku"


"Kita tidak akan berpisah-"


"Omong kosong!" potong Vony dengan kencang beruntung kamar Alan kedap suara sehingga teriakan nya tak dapat di dengar orang luar. "Kamu sendiri yang menentukan sampai kapan pernikahan kita bertahan dan sekarang kamu malah tidak ingin berpisah dengan ku?"


"Karena aku nyaman berada di sisi mu!" suara tegas Alan berhasil membungkam mulut Vony dengan rapat. "Kenapa diam?, apa kamu tidak percaya?"


Vony hanya menatap mata Alan mencari kebohongan atas ucapan yang nyaman Alan lontarkan, tidak mungkin laki-laki itu tiba-tiba meminta anak jika tidak ada motif terselubung di belakang nya.


"Apa kebohongan yang kamu cari sudah ketemu?" tanya Alan tau arti tatapan dalam Vony. "Jika kamu bertanya sejak kapan aku memiliki rasa nyaman ini, dan sebesar apa aku tidak bisa menjawab nya"


"Tidak bisa menjawab bukan berarti berbohong. Rasa nyaman itu datang saat kamu bisa menghibur ku dengan semua sikap lucu mu, dan jika di tanya sebesar apa rasa nyaman itu aku tidak bisa mengukur nya karena aku ini seorang Assistant CEO bukan tukang bangunan" jika tadi Alan berkata tak ingin menjawab sekarang pria itu malah menjelaskan.


"Tapi soal anak-"


"Aku tau kamu juga ingin menjadi mama seperti Aleta hanya saja kamu masih terbelangu dengan keadaan"


"Jangan sok tau"


"Aku bisa melihat tatapan mu saat di rumah Aleta hari itu" Alan mengingat adegan dimana Kenzou mengusap perut Aleta yang tengah mengandung benihnya sampai-sampai mata Vony tak bisa beralih dari situasi itu kalo saja ia tak menyenggol kaki nya. "Walau itu hanya sebuah tatapan, aku yakin hati mu pasti menginginkan hal yang sama"


"Aku memang menginginkan hal tersebut, hanya saja aku belum terlalu yakin untuk hamil anak mu" aku Vony.


"Seiring berjalannya waktu kita akan terbiasa dengan semuanya. Yang terpenting kita selalu ada saat di antara kita mengalami kesusahan"


"Aku tidak yakin dengan semua ucapan yang kamu bilang tadi"


"Kamu tidak perlu mempercayai nya atau yakin dengan ucapan ku hanya saja aku ingin kita menikmati nya"

__ADS_1


Sorot mata Alan menunjukan keseriusan yang sangat dalam, dengan cepat Vony mengeleng kepala sebelum ia luluh dengan tatapan mata itu. "Tapi sebelum itu aku ingin kamu melakukan sesuatu untuk ku"


"Apa?"


"Buat aku jatuh cinta pada mu sebelum aku mengandung anak mu"


"Jujur aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta,atau membuat orang jatuh cinta dengan ku. Tapi kali ini aku akan berusaha membuat mu menjadi orang pertama yang akan aku buat jatuh cinta"


Kalimat singkat namun terdengar sangat berkesan ditelinganya. Vony mengangguk lemah, kini jalan yang ia pilih adalah hamil anak Alan meski masih ada keraguan di hati nya sebisa mungkin ia singkirkan berusaha saling percaya satu sama lain setalah ini.


"Apa aku bisa melakukan hal itu lagi malam ini?"


"Me-melakukan apa?" bukan nya tak paham dengan ajakan sang suami yang ingin melakukan ibadah hanya saja dirinya masih malu jika mengingat dimana ia bangun tanpa sehelai benang pun.


"Apa perlu aku ambilkan wine di bar mini milik ayah untuk mengingatkan mu kejadian malam itu?"


"Alan!" kesal Vony memukul lengan suaminya.


"Apa kamu sudah mengingat nya?"


"Aku lupa, dan tiba-tiba saja kepala ku gatal seperti nya aku harus keramas sekarang" baru juga tubuhnya akan berbalik Alan sudah membopongnya ke arah ranjang.


"Kamu belum merasakan betapa nikmatnya kasur ku malam ini"


"Alan jangan brengsek!"


"Brengsek dengan istri sendiri itu adalah sebuah pahala yang sangat besar"


Sore hari yang seharusnya di gunakan untuk membersihkan diri, keduanya gunakan untuk merengkuh kenikmatan di atas ranjang berukuran besar dengan erangan,jeritan,dan ******* sebagai penanda penyatuan kedua tubuh sudah di mulai.


Kedua tangan Vony mencengkram kedua sisi seprai saat milik Alan terus menghujam nya terus menerus.


"Alan kita harus mandi" ucap Vony mengingatkan saat suaminya itu ingin memulai ronde kedua.


"Aku akan memberikan mu pelayanan khusus setalah ini" ucap Alan penuh kelicikan.


"Alan!!!"


***

__ADS_1


Jangan lupakan Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2