My Assistant Husband

My Assistant Husband
Kita Punya Cucu


__ADS_3

Satu rumah di buat terheran-heran akan tingkah Vony yang bolak-balik kamar mandi di pagi ini, menghampiri sang istri yang masih berada didepan toilet Alan memijat tengkuk Vony dengan lembut berusaha menahan gejolak mual yang timbul pada dirinya setiap kali mendengar mualan Vony.


"Apa sudah?" tanya Alan.


Huek...huek...


Vony kembali memuntahkan isi perutnya yang membuat Alan refleks mengigit kerah baju sendiri agar tak mengeluarkan suara, Vony memang tak mengeluarkan isi perutnya sama sekali hanya saja suara dari wanita itu yang berhasil membuat Alan juga ingin muntah.


Dirasa perutnya sudah lebih baik Vony menegapkan tubuh mendapati Alan yang mengigit bajunya sendiri seperti menahan sesuatu.


"Kamu mengejek ku!" murka Vony saat melihat Alan ingin muntah.


Alan gelagapan saat Vony memergokinya, mengembalikan ekspresi wajah seperti biasa di sertai senyum kecil pada wajahnya.


"Kamu menghina ku?!" ulang Vony dengan nada yang sama.


"Bu-bukan sayang..."


"Terus kenapa kamu seperti itu"


"A-aku, a-aku..."

__ADS_1


"Sudahlah!" potong Vony meninggalkan Alan pergi begitu saja. Melihat Vony keluar dari kamar mandi dengan wajah masam membuat Erlad dan Salma yang tengah berada dimeja makan saling pandang ditambah Alan yang tiba-tiba datang dari belakang berusaha membujuk sang istri. "Jangan kejar aku!" tegas Vony saat Alan meraih tangannya.


"Aku tidak bermaksud seperti tadi sayang" Alan mencoba menjelaskan pada Vony yang sudah terlanjur marah padanya. "Sayang" panggil Alan dengan lembut.


"Jangan pegang-pegang!" peringat Vony menunjuk tangan Alan yang meraih lengannya.


"Ada apa ini?" tanya Erlad menghampiri keduanya.


"Kalian bertengkar?" imbuh Salma.


Melihat mertuanya datang Vony langsung berjalan ke arah Erlad dan Salma menjaga jarak dengan Alan. "Alan ma!" adu Vony.


"Alan mengejek ku saat aku mual tadi! Alan begitu jahat dengan ku ma!"


Mendengar itu Erlad memutar bola matanya malas meski begitu tak bisa di pungkiri kehebohan seperti itu baru Erlad lihat pertama kali pada diri menantunya, sedangkan Salma terkekeh melihat tingkah Vony yang mengadu layaknya anak kecil.


"Sekarang masih mual?" tanya Salma memutuskan pandangan Vony pada Alan.


Vony mengangguk memegang perutnya yang masih menahan gejolak mual meskipun tak separah tadi.


"Mau mama temenin ke dokter?"

__ADS_1


"Vony gak sakit ma, Vony hanya mual biasa" tolak Vony saat Salma mengajaknya ke dokter, karena baginya mual ini masih dalam batas wajar.


"Mual kan tidak hanya saat sakit saja sayang" Salma menyisir rambut Vony kebelakang telinga. "Siapa tau kamu hamil sekarang" sambung Salma tersenyum penuh arti.


Vony mematung dengan ekspresi wajah bodoh mendengar ucapan Salma, beralih menatap sang suami yang juga tak kalah kagetnya.


"Apa kamu merasakan gejala lain selain mual? seperti lemas, pusing?" Vony mengeleng pelan menjawab ucapan Salma. "Kalo gitu kamu udah datang bulan?"


Bola mata Vony membulat sempurna saat dirinya baru sadar sampai detik ini ia belum kedatangan tamu bahkan seharusnya datang bulan itu ia alami awal bulan lalu, tangannya semakin erat memegang bagian perut membuat semua orang menatap nya heran bahkan Alan merasa was-was.


Berdiri disamping Vony yang masih diam saja Alan menahan tubuh ramping itu takut jika dewa Vony akan pingsan. "Sayang, kamu baik-baik saja?"


"Alan" panggil Vony dengan suara pelan.


"Iyah ada apa? apa perut mu sakit?" tanya Alan khawatir.


Vony menggeleng menatap wajah Alan yang tengah terlihat panik. "Aku belum datang bulan"


Salma langsung bertepuk tangan mendengar ucapan Vony tawa wanita itu membuat Alan dan Vony menatap nya heran sedangkan Erlad senyam-senyum sendiri melihat tingkah sang istri.


"Yah kita punya cucu!" heboh Salma.

__ADS_1


__ADS_2