My Assistant Husband

My Assistant Husband
Filing Yang Sama


__ADS_3

Sampai di apartemen Vony langsung berlari kearah dapur, benda yang pertama kali ada lemari es, mengeluarkan kotak es krim rasa strawberry dari dalam dan langsung mencari sendok untuk memakannya. Berulang kali Vony menyapu bibir nya merasa tak sabar.


"Sini biar aku yang menyuapi mu" kata Alan yang tiba-tiba saja datang mengambil alih kotak es krim dari tangan Vony.


"Aku bisa makan sendiri, kembalikan itu punya ku!"


"Aku yang akan menyuapi mu, dan kamu duduk yang tenang" ucap Alan menatap Vony dengan tajam.


Bukannya takut Vony malah berdecak kesal seperti anak kecil.


"Buka mulut mu" perintah Alan menyodorkan sesendok es krim rasa strawberry ke depan mulut Vony.


Tanpa berlama-lama Vony langsung memakan es krim yang di sodorkan Alan, menikmati dingin,manis, dan segar dari buah kesukaannya itu berhasil membuatnya memejamkan mata.


"Enak?"


"Iyah, ayo suap kan aku lagi" pinta Vony membuka mulutnya lebar.


Alan kembali menyodorkan es krim untuk kedua kalinya pada Vony, matanya tak lepas dari bagaimana cara Vony menikmati es krim itu sedikit demi sedikit. Alan tak menyangka di balik sifat galak dan crewet istrinya terdapat sifat kekanak-kanakan yang baru saja ia ketahui.


"Lagi Alan"


"Sudah, cukup"


"Ayo lah satu sendok lagi"


"Tadi kesepakatan nya hanya dua sendok dan tidak ada tambah-tambah segala" ucap Alan mengembalikan kotak es krim ke dalam lemari es.


"Tapi-"


"Tidak ada tapi-tapi an, lihat suhu badan mu masih tinggi dan kau harus istirahat sekarang juga" potong Alan langsung mengendong tubuh Vony masuk ke dalam kamar.


"Alan apa kau sudah gila!, turunkan aku sekarang!"


"Kau itu sedang sakit tapi masih saja galak!" Alan menurunkan tubuh Vony dengan sangat hati-hati di atas kasur, membenarkan letak bantal dan menarik selimut sampai batas pinggang.


"Yang sakit itu tubuh ku, bukan bibir ku!"

__ADS_1


"Lebih baik kamu tidur dari pada berbicara tiada henti"


Bibir Vony yang siap menjawab ucapan sang suami terlebih dahulu terhenti saat jari telunjuk Alan berhenti tepat di depannya. "Diam atau aku akan mencium mu!"


Vony menyingkirkan tangan Alan dari bibir nya. "Dasar tukang ngancam!"


Dret...dret...


Dering ponsel Alan mengalihkan perhatian keduanya. Melihat Kenzou yang menghubungi nya dengan gerakan cepat Alan menerima panggilan tersebut.


Kenzou


"Halo"|


|"Kamu dimana, kenapa jam segini belum di kantor?"


"Aku lupa memberitahu mu, kalo hari ini aku tidak bisa masuk"|


|"Apa keadaan mama semakin parah?"


"Tidak hanya saja mama tidak ingin aku tinggal"|


"Iyah"|


Alan lagi-lagi terpaksa harus berbohong pada Kenzou dengan alasan sang mama yang tidak ingin ia tinggal. Meletakan ponselnya di atas nakas tangan Alan melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya.


"Siapa tadi?" tanya Vony penasaran.


"Kenzou"


"Terus kenapa kamu harus bilang 'mama tidak ingin kamu tinggal?', kan kamu tidak sedang bersama mama saat ini"


Alan duduk di tepi ranjang menatap sang istri yang bersandar di headbor. "Kemarin saat kamu pingsan bersamaan dengan aku yang memberikan oleh-oleh jadi Kenzou bertanya kenapa aku panik, dan jalan satu-satu nya aku bilang saja kalo mama ke selo"


"Kamu membohongi nya dengan memanfaatkan kan mama?"


"Tidak ada cara lain Vony, Kenzou tau aku tidak pernah dekat dengan siapapun, dan kalo aku menggunakan alasan Anggit tentu Kenzou tak akan percaya karena aku sama sekali tidak pernah respect dengan nya"

__ADS_1


"Jadi itu alasannya kamu menggunakan mama?"


"Iyah, Kenzou tau aku sangat sayang dengan mama jadi di langsung memberikan ku izin saat aku berkata seperti itu"


"Jadi seperti itu" Vony mengangguk-angguk kecil. "Terus aku ingin tau apa yang kamu lakukan di ruangan Anggit tadi?"


"Aku hanya menyuapinya, karena tuan Restu yang meminta"


"Hanya itu?" tanya Vony ragu.


"Anggit juga ingin aku segara melamarnya bahkan wanita itu tak tanggung ingin segara aku nikahi" jawab Alan jujur.


"Apa kamu akan memadu ku?"


"Tantu saja tidak, aku hanya bisa mengulur waktu sampai aku menemukan solusi dari ini semua"


"Tapi aku merasa ada yang janggal disini"


"Maksud mu?" tanya Alan tak paham dengan ke janggalan yang di katakan sang istri.


"Dari yang aku lihat tadi, Anggit sepertinya tidak benar-benar sakit jiwa"


"Dari mana kamu bisa menyimpulkan hal seperti itu?" tanya Alan ingin tau bagaimana Vony bisa berkata hal seperti itu.


"Hanya perasaan ku saja, tapi aku memiliki keyakinan bahwa wanita itu sedang tak sakit jiwa"


"Aku pikir hanya aku saja yang memiliki perasaan seperti itu, tapi ternyata Vony juga merasakannya hanya dengan pertama kali melihat Anggit"


"Apa kamu tidak merasakannya?" lanjut Vony.


"Aku juga merasakannya tapi aku belum berani menyimpulkan hal tersebut secara sepihak"


"Kalo begitu kamu harus menyelidiki Anggit, karena aku takut wanita itu akan benar-benar melakukan hal gila kedepannya"


"Nanti aku pikirkan lagi" jawab Alan masih sibuk dengan pikirannya.


***

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗


__ADS_2