My Assistant Husband

My Assistant Husband
Pengajuan Kerjasama


__ADS_3

"Kamu!" ucap keduanya secara bersamaan.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Alan berjalan mendekat.


"Harusnya aku yang tanya seperti itu, kenapa manusia modelan kamu ada di perusahaan sebesar ini?, atau kamu kerja sebagai cleaning servis disini?" Cibir Vony dengan berdecak pinggang.


"Apa kamu tidak bisa melihat tampilan ku yang rapi seperti ini?!" ucap Alan membenarkan dasi miliknya.


Melihat pria itu membenarkan dasinya Vony menatap dari atas sampai bawah,memang terlihat sangat rapi dan berwibawa tapi semua pujiannya itu seketika sirna tak kala kembali melihat wajah yang begitu sombong.


Memutar bola matanya malas Vony melihat tangannya di depan dada. "Mana bos mu?aku ingin bertemu dengannya"


Mencoba sabar menghadapinya sifat wanita itu Alan merubah nada bicaranya menjadi lembut. "Apa kamu kesini ingin bertemu dengan asisten tuan Kenzou?"


"Tentu, apa kau pikir aku kesini ingin bertemu dengan pria seperti dirimu?, bahkan kau saja tidak pantas untuk ditemui"


"Nona" tegur Danil mendengar ucapan anak bosnya itu yang sudah salah menilai Alan.


Vony mengangkat tangannya memerintahkan pria itu agar tetap diam. "Jadi dimana atasan mu itu?" lanjutnya setelah Danil menutup mulut.


Mengukir senyuman termanis, Alan mengarahkan tangannya pada sofa. "Anda dan asisten anda bisa duduk terlebih dahulu nona, sebentar lagi orang yang anda cari akan datang di hadapan anda"


Mengangguk setuju Vony lebih dahulu berjalan kearah sofa, sedangkan Danie pria itu menelan salivanya dengan susah payah menatap Alan dengan tatapan yang sangat susah diartikan.


"Silahkan duduk tuan Danil" ujar Alan melihat tatapan mata asisten itu yang nampak merasa sangat bersalah akibat ulah anak atasannya. Mengangguk lemah Danil menyusul Vony yang sudah lebih dahulu duduk di sofa.


Berjalan kearah sofa menyusul Vony dan Danil. "Selamat datang di Jhonson company, maaf sebelumnya karena tuan Kenzou tidak bisa hadiri di meeting hari ini maka saya selaku asissten beliau yang akan menggantikannya sampai tuan Kenzou selesai melakukan cuti pernikahan" jelas Alan.


Mendengar pria itu menyebutnya sebagai asissten Kenzou, Vony membelakan mata dengan sangat lebar. "Ja-jadi anda-"


"Iyah nona saya Alan asisten pribadi dari tuan Kenzou" kata Alan memperkenalkan dirinya, merasa sangat senang dapat melihat ekspresi kaget,takut dari wanita yang ada di sebrang sana.


"Mampus, bisa gagal acara kerja samanya"


Beralih menatap Danil yang duduk di sampingnya Vony berbisik dengan nada kesal pada pria itu. "Kenapa kau tak bilang kalo dia asisten tuan Kenzou?!"


"Tadi saya sudah mau memberitahu anda nona, dan bukankah anda sendiri yang bilang kepada saya agar tetap diam?" jawab Danil yang ikut berbisik.


Melihat kedua orang itu yang saling berbisik Alan berdeham. "Ehem..."


Kembali menatap pria itu Vony memaksakan senyumannya. "Ma-maaf tuan saya-"


"Boleh saya lihat loparan nya?" potong Alan meminta berkas yang ada di tangannya.


Dengan gerakan cepat Vony menyerahkan beberapa berkas pengajuan kerja sama pada Alan.


Membaca setiap lembar kertas ditangannya dengan sangat teliti Alan tak mempedulikan raut wajah wanita itu yang nampak merasa panik akan sifatnya tadi.


Melihat raut kegelisahan dari anak bosnya Danil menyenggol lengan Vony pelan. "Nona sebaiknya anda minta maaf sekarang"

__ADS_1


"Kenapa harus aku?, kenapa tidak kau saja?"


"Saya hanya tidak ingin dengan sifat anda tadi tuan Alan membatalkan kerja sama ini, mengingat CEO perusahaan ini tengah mengambil cuti"


Membenarkan ucapan Danil, Vony menarik nafas dalam ia yakin pria itu tidak akan dengan mudah marah apa lagi cuma karena ucapannya. "Tu-tuan Alan sebelumnya saya minta maaf, saya benar-benar tidak tau anda asisten tuan Kenzou. Saya harap anda tidak membawa sertakan kejadian tadi kedalam kerja sama ini" ujar Vony dengan lembut.


Menutup laporan ditangannya Alan menatap wajah itu yang nampak sekali sangat terpaksa apa lagi dengan senyuman di bibirnya. "Hahaha tenang saja nona saya tidak akan mengikuti sertakan urusan pribadi dengan urusan kerjaan karena saya sangat profesional!" sindir Alan.


Merasa tersindir dengan ucapan itu Vony hanya membalasnya dengan senyuman. "Jadi bagaimana tuan, apa laporannya sesuai dengan yang anda inginkan?"


Menyodorkan kembali laporan di tangannya Alan mulai berkata. "Saya putuskan bahwa Jhonson Company-"


Merasa sangat yakin pria itu akan menerima kerja samanya Vony mengembangkan senyumannya dengan sangat manis tak sabar ingin mendengar kabar bahagia yang akan ia sampaikan.


"Tidak bisa bekerjasama dengan Adhitama Company" lanjut Alan.


Seketika senyuman di bibir merahnya surut dalam hitungan detik. "A-apa?, coba ulangi sekali lagi?"


"Dengan berat hati saya harus menyampaikan bahwa perusahaan Adhitama Company tidak dapat kerja sama dengan perusahaan ini." ucap Alan dengan nada yang sangat jelas.


"Tapi kenapa?, bukankah laporan yang saya bikin seusai dengan apa yang anda inginkan?" tanya Vony berusaha menahan amarah yang ada dalam dirinya.


"Nona biar saya jelaskan disini" Mencondongkan tubuhnya kedepan Alan menatap kedua bola mata itu. "Jhonson Company merupakan perusahaan besar dan tidak sembarangan bekerjasama dengan perusahaan lain apa lagi berkas yang anda sodorkan kepada saya, semuanya berantakan nona bahkan apa yang saya inginkan tidak bahkan seujung kuku pun tidak ada didalamnya."


"Apa maksudmu?!"


Meraih berkas yang berada di atas meja Vony membaca setiap dokumen yang ia buat, dan benar saja semuanya berantakan apa lagi yang ia jelaskan didalam sana bukan mengarah pada kerja sama yang sesuai dengan apa yang ia bayangkan.


"Bagaimana nona?, apa berkas seperti itu yang pantas untuk bekerja sama dengan perusahaan sebesar ini?!"


"Tapi Aleta sudah berjanji kepada ku kalo perusahaan Adhitama akan berkerjasama dengan Jhonson company!" elek Vony.


"Anda tidak bisa mengalahkan nona Aleta kalo di sini jelas-jelas yang salah itu anda nona!" tegas Alan.


Deret...deret...


Meraih ponselnya Alan langsung menerima panggilan tersebut.


"Nona kenapa semuanya bisa berantakan seperti ini?" tanya Danil saat Alan tengah sibuk berbicara di sebrang sana.


Menatap wajah tersebut Vony melayangkan tatapan tajam. "Jangan salah kan aku!, kalo ini semua saja gara-gara kamu!"


"Kok saya nona?"


"Karena kamu saja tidak mau membantuku tadi, dan ini juga termasuk salah mu!" ucap Vony yang tak dapat diganggu gugat.


"Baik saya ke sana sekarang" mematikan sambungan telefon nya Alan menatap kedua orang yang kembali saling berbisik.


"Saya baru saja mendapatkan telfon penting yang tidak bisa saya tinggalkan, jadi saya izin pamit terlebih dahulu" bangkit dari duduknya Alan merapikan setelan jasnya.

__ADS_1


"Terus soal kerjasama ini bagaimana?" tanya Vony yang tak ingin gagal begitu saja.


"Kita bicarakan lain waktu" jawab Alan melangkah pergi meninggalkan kedua orang tersebut dirungan nya.


"Hei tunggu!" berniat mengejar tangannya lebih dahulu ditahan oleh Daniel.


"Nona jangan bikin keributan di kantor orang"


"Siapa yang mau membikin keributan?, aku hanya ingin kerja sama ini berhasil hari ini juga!"


"Tapi nona-"


"Diam dan kembalilah ke kantor cabang sekarah juga!" perintah Vony merampas dokumen ditangan Daniel menyusul Alan yang lebih dahulu berjalan keluar.


Berjalan sedikit berlari dari dalam lift Vony menatap punggung Alan yang berada di luar kantor. Berlari menghampiri pria tersebut Vony menahan pundaknya.


"Tunggu!" teriak Vony memancing semua pandangan mata yang ada di sana. "Kamu tidak bisa pergi begitu saja!, urus dulu kerjasama ini!"


Alan menatapnya dengan malas. "Saya tidak bisa"


"Heh!, enak aja bilang tidak bisa, harus bisa dong gimana sih jadi orang!" ucapnya marah-marah sendiri.


"Saya tidak punya waktu sekarang" membuka pintu mobilnya Alan berniat masuk tapi lagi-lagi tangan wanita itu selalu menghalanginya.


"Saya mau kerjasama ini beres sekarang juga!"


"Saya tidak bisa!"


"Harus bisa!, karena kerja sama ini sangat penting buat saya dan saya mau hari ini juga!"


Mengusap wajah kesar Alan menatap wanita itu dengan tatapan kesal. "Masuk!"


"Hah apa?" Vony yang tak paham dengan ucapan pria itu mengerutkan keningnya.


"Masuk!"


"Masuk kemana?"


Alan menghela nafas berat melihat seberapa telmitnya wanita ini "Kedalam mobil sekarang juga!"


"Mau ngapain?"


"Masuk atau kerjasamanya gagal?" ancam Alan.


"Masuk sekarang juga" jawab Vony cepat berjalan memutar mobil dan langsung masuk kedalamnya.


***


Jangan lupa Like,Vote,Komen dan Beri Hadiah🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2