
Tanpa membuat janji terlebih dahulu Alan melangkah masuk kedalam kantor Putra Tama Company dengan sebuah map ditangannya. Langkah Alan terhenti tak kala seorang pria berdiri tepat di hadapannya.
"Maaf tuan apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu sopan yakin jika Alan bukanlah kalangan bawah karena dari pakaiannya saja dia sudah bisa menilai Alan berasal dari kalangan atas.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Restu, apa beliau ada di kantor?"
"Ada tuan, apa anda sudah bikin janji sebelumnya?"
Alan hanya mengangguk agar pria itu tak terus bertanya. Melihat Alan yang sudah membuat janji pria tersebut mengantarkan Alan ke ruangan Restu, pintu ruangan terbuka lebar membuat Alan bisa langsung menangkap sosok Restu di belakang meja kerja.
"Permisi tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda"
Restu mengalihkan pandangannya ke seorang yang masuk lebih tepatnya pandangan nya langsung tertuju dengan Alan yang berada tepat di belakang karyawan nya.
Mengibaskan tangan restu meminta pria tersebut keluar dari ruangan nya menyisakan Alan dan dirinya di ruangan tersebut. "Ada apa kamu ke kantor ku?"
__ADS_1
"Saya ingin mengembalikan uang yang anda berikan pada perusaahan mama saya" Alan menyodorkan map yang juga berisi cek di dalamnya.
Melihat nominal cek yang Alan berikan di kertas panjang tersebut Restu tersenyum meremehkan. "Seratus Milyar?"
Selama dua bulan ini Alan berusaha keras agar bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya demi melunasi hutang perusahaan pada Restu, bahkan waktunya di kantor lebih banyak dari pada dirumah menemani sang istri yang tengah hamil muda.
"Saya tau jumlah yang ada di cek tersebut belum bisa melunasi seluruh hutang perusahaan kepada anda tapi setidaknya masih ada waktu satu bulan lagi untuk saya melunasi semuanya"
Masih tersenyum meremehkan Restu menatap Alan dapat dilihat dari raut wajah laki-laki itu kantung mata yang sangat jelas menandakan dirinya kurang beristirahat akhir-akhir ini.
"Saya bukan hanya sedang berharap tapi saya sedang mengusahakannya" jawab Alan.
Restu menepuk pundak Alan beberapa kali. "Ini akibatnya kalo kamu berani mempermainkan Anggit dan lebih membela wanita yang sangat jauh dari putri ku itu"
"Memang Anggit memiliki ayah yang kaya raya dan bisa memiliki semua apa yang ia inginkan tapi ada satu yang tidak Anggit miliki dari Vony" Alan menggantung kalimatnya menaikan sebelah alis. "Kewarasan"
__ADS_1
BUGH!!!!
Restu langsung melayangkan bogem mentah pada pipi Alan membuat cairan berwarna merah keluar dari sudut bibir.
"Jangan sekali-kali sebut Anggit wanita gila!" Raung Restu dengan nafas memburu.
"Saya tidak pernah menyebut Anggit wanita gila melainkan anda sendiri yang mengakui kekurangan anak anda" jawab Alan dan berhasil membuat amarah Restu langsung terpancing.
"Brengsek! kamu mencoba mencari masalah dengan ku?!"
"Maaf tuan tapi sepertinya urusan saya lebih penting dari pada harus membahas anak anda yang bisa di katakan sekarang lebih sempurna dari pada Vony"
Melihat Restu yang hanya diam saja Alan melangkah keluar tanpa mengucapkan satu kata pun, berurusan dengan Restu bagi Alan hanya akan menguras tenaga yang sia-sia dan dua ingin segera menyelesaikan kesia-siaan itu.
Restu meraih ponselnya menghubungi seseorang di sebrang sana.
__ADS_1
"Buat pria yang baru saja keluar dari kantor ku babak belur!"