My Assistant Husband

My Assistant Husband
Tidak Sabar


__ADS_3

...Anggit...


|Bisakah kamu menjemput ku saat pulang kantor nanti?


^^^Tidak bisa|^^^


|Kenapa?


^^^Aku sedang mengajukan kerja sama perusahaan penyedia jasa internet|^^^


|Kalo begitu aku tunggu kamu sampai selesai


Alan melempar ponselnya kasar setelah membaca pesan terakhir yang dikirimkan Anggit. Entah sampai kapan ia harus terus berada di situasi seperti ini dan berapa lama lagi, jika boleh jujur sekarang dirinya sudah jatuh cinta dengan Vony bahkan hampir setiap hari Alan memikirkan bagaimana caranya ia bisa bahagia dengan istrinya itu apa lagi sekarang keduanya tengah melakukan program memiliki bayi.


Ingin menyelesaikan pekerjaannya hari ini dengan cepat Alan menambahkan kecepatan mobil menuju perusaahan penyedia jasa internet dan setelah itu akan mengantarkan Anggit pulang baru waktu malam ia gunakan bersantai dengan Vony momen yang selalu ia tunggu-tunggu setelah seharian bekerja.


***


Malam harinya Alan menaruh kepala di paha sang istri yang menyandarkan punggung di headbor ranjang dengan tangan mengusap rambutnya lembut.


"Bagaimana pekerjaan mu hari ini?" Tanya Vony membuka suara.


"Melelahkan karena Kenzou menyuruhku ke tiga perusahaan sekaligus hari ini"


"Menyerahkan dokumen?"

__ADS_1


"Bukan hanya itu" ucap Alan lesu mengarahkan tubuh dan wajahnya menghadap perut rata Vony, mengulurkan tangan mengusap nya seolah-olah di dalam sana sudah ada sang anak yang siap mendengarkan keluhannya hari ini. "Kenzou meminta ku ke perusahaan penyedia jasa internet"


"Buat apa?"


"Katanya dia ingin membangun akses internet dan jalan di desa terpencil"


"Apa kalian punya proyek baru?"


"Bukan, hanya saja dia ingin membuat itu semua untuk Aleta katanya di sana adalah tempat kesukaan nya"


Vony langsung paham tempat mana yang di maksud suaminya kali ini apa lagi kalo bukan danau di plosok desa itu yang merupakan tempat favorit Aleta.


Alan mendekatkan wajahnya pada perut Vony menggosok-gosok kan hidung mancung nya pada perut datar itu membuat Vony tertawa geli akibat ulah nya.


"Apa yang kamu lakukan"


Vony mengeleng kecil sebagai jawaban 'tidak'. Alan langsung bangkit dari posisinya dengan cepat menatap serius wajah istri.


"Kamu sudah datang bulan?"


"Kamu bicara apa sih!, Kenapa harus bertanya sampai hall pribadi seperti itu!" Kesal Vony karena malu saat Alan menanyakan hall yang sangat memalukan seperti itu meski mereka telah menjadi suami istri sekalipun. "Lagian kamu tau darimana soal seperti itu!"


"Dari dokter Elsa"


"Apa? Kamu bertanya dengan dokter Elsa seperti itu? Apa kamu sudah tidak punya malu!" Cecer Vony yang malah merasa malu atas apa yang dilakukan sang suami.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya kepada dokter Elsa bagaimana cara mengetahui kamu sudah hamil atau belum dan dokter Elsa menjawab kalo kamu hamil maka kamu akan muntah-muntah di pagi dan sore hari atau mungkin kamu akan muntah di dekat orang yang menggunakan parfum dengan bau menyengat tapi sejauh ini kamu tidak mengalami gejala tersebut. Dan yang kedu dokter Elsa berkata aku harus menanyakan pada mu langsung kapan terakhir kamu datang bulan jika gejala pertama tadi belum kamu alami" jelas Alan agar Vony tak marah-marah gak jelas.


"Benar seperti itu?"


"Kalo kamu tidak percaya telfon saja dokter Elsa sekarang" ujar Alan menyodorkan ponselnya.


Vony menolak uluran ponsel dari suaminya. "Tidak usah"


"Jadi bagaimana?"


"Apa nya?"


"Kamu sudah datang bulan belum?"


Vony meninggat tanggal berapa terakhir ia datang bulan dan ia rasa ini belum jadwal ia datang bulan lagi. "Belum karena memang tanggalnya bukan sekarang"


"Berarti kamu hamil?" Tanya Alan berbinar.


"Tidak mungkin secepat ini, aku belum datang bulan karena memang belum tanggalnya" elak Vony.


"Aku fikir kamu sudah hamil"


"Memang kenapa?"


"Tentu saja aku tidak sabar menunggu hal itu, kamu tau Kenzou sering kali menceritakan keadaan Aleta yang tengah hamil dan itu membuat ku tidak sabar"

__ADS_1


"Kalo seperti itu kita tunggu sebentar lagi" ucap Vony memberikan sedikit harapan agar suaminya itu tak terlalu sedih. Melanjutkan pembicaraan keduanya membahas mengenai pekerjaan mereka hari ini dan terselip candaan di dalam nya, sampai rasa kantuk menyerang keduanya memilih mengakhiri pembicaraan untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah.


__ADS_2