
"Kamu harus datang!"
Malam ini dimana acara pertunangan Alan dengan Anggit berlangsung, Alan yang sudah siap dengan setelan jas di tubuhnya, merengek bak anak kecil saat Vony tak ingin datang di acara pertunangan itu.
Vony bukan merasa sedih atau pun terhianati disini ia tau pertunangan ini hanya sebuah paksaan dari Erlad dan Restu, tapi entah kenapa satu hari ini Vony merasa sangat malas untuk melakukan hall apapun yang ia inginkan sekarang hanya di dalam kamar menonton televisi dan memangku setoples cemilan.
"Aku tidak mau Alan" tolak nya untuk sekian kali.
"Apa kamu marah karena acara pertunangan ini bener-bener terselenggara?"
"Demi apapun yang ada di dunia ini aku tidak marah sedikitpun hanya saja aku ingin berada di kamar menonton siaran televisi kesukaan ku" ralat Vony.
"Kalo begitu aku juga tidak jadi pergi, kalo kamu tidak mau ikut dengan ku" Alan berniat melepas jas nya.
Vony langsung berdiri dari tempatnya mencegah tangan sang suami. "Kamu sudah rapi seperti ini jangan hanya karena aku acara itu rusak"
"Aku tidak peduli, kalo kamu tetap ingin di sini aku juga akan di sini menemani mu!"
Vony memijat keningnya merasakan kepalanya sedikit pusing. "Baiklah aku akan menemanimu datang ke acara itu!"
Alan tersenyum lebar mendaratkan ciuman singkat di bibir merah Vony karena bahagia.
__ADS_1
"Tunggu sebentar aku akan siap lima menit lagi" ucap Vony masuk ke dalam ruangan pakai an, memilih baju yang paling simpel dan memoles wajah seadanya saja.
Menuruni anak tangga keduanya langsung mendapatkan tatapan tajam dari Erlad. "Apa kalian tidak lihat jam berapa sekarang? bisa-bisa kita telat ke rumah Anggit!"
"Maaf yah, tadi Vony ketiduran"
"Selalu saja kamu yang membuat masalah di saat penting seperti ini!" Marah Erlad. "Sudah kita langsung berangkat saja, Alan kamu satu mobil dengan ayah dan mama dan istri mu itu akan naik mobil satunya lagi!"
"Maksud ayah Vony tidak satu mobil dengan kita?"
"Iyah, karena kalo kita datang ke sana dan istrimu berada di satu mobil bisa-bisa keluarga besar Anggit memikirkan hall yang tidak-tidak"
"Sudah ayo cepat, kita sudah terlambat" Erlad menarik tangan putranya keluar dari rumah terlebih dahulu.
"Kamu yang sabar ya sayang, ini hanya sementara" ucap Salma mengusap pundak Vony, Berharap ini semua tidak bertahan lebih lama lagi.
"Iyah ma"
Keluar bersama Salma keduanya berpisah menuruti ucapan Restu saat Vony benar-benar berada di satu mobil terpisah dari ketiga nya.
***
__ADS_1
Dua mobil keluarga Alan tiba di kediaman Anggit yang sudah sangat ramai dengan kelurga, dan collagen bisnis. Masuk ke dalam rumah ke tiganya langsung menemui Restu dan Anggit,seketika kedua wajah tersebut merasa lega saat tamu utama mereka datang setelah hampir satu jam lamanya mereka menunggu. Sedangkan Vony memilih berjalan ke arah lain melihat Alan dari kejauhan.
"Maafkan aku, tadi di jalan ada sedikit masalah" Erlad merasa tak enak telah membuat Restu dan Anggit menunggu terlalu lama.
"Tidak apa setidaknya kamu datang sebelum tamu undangan berhamburan pulang" ucap Restu lega. "Kalo begitu kita langsung saja melangsungkan pertunangan ini"
Erlad mengangguk setuju menyenggol lengan Alan untuk berdiri di panggung yang telah di sediakan. Alan menatap sekilas wajah Vony dari kejauhan dan langsung mendapat Anggukan kecil memerintah dirinya untuk menuruti apa yang di ucapkan Erlad.
Dengan penuh keterpaksaan Alan menghampiri Anggit yang telah berdiri terlebih dahulu di sana. Mengambil mic dari MC, Alan menghela nafas panjang sebelum mengeluarkan suara.
"Mungkin kita belum terlalu lama untuk saling kenal satu sama lain, tapi berdiri aku di hadapan mu aku ingin mengutarakan niat baik ku. Apa kau bersedia menjadi tunangan ku Anggit?"
Anggit mengangguk cepat, mengarahkan mic di depan bibir nya dan berkata "Iyah"
Alan membuka kota cincin yang di berikan sang mama saat di dalam mobil tadi menyemat kan cincin itu di jari manis Anggit, begitu juga dengan Anggit melakukan hall yang sama. Semua tamu yang hadir memberikan tepuk tangan dengan begitu meriah saat kedua pasangan itu resmi bertunangan malam ini.
Turun dari atas panggung Alan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Vony tapi sayang ia tak mendapati wanita itu ada di sana, berniat untuk mencarinya sebuah tepukan membuat tubuhnya refleks berbalik.
"Zou, kamu di sini?"
"Kamu yang menyuruhku untuk ke sini kemarin dan sekarang kamu bertanya kenapa aku ada di sini?"
__ADS_1