
"Sudah jangan nangis, aku tidak akan memarahi mu cuma gara-gara kamu tidak hamil-"
"Kamu benar-benar keterlaluan Alan!"
"Keterlaluan bagaimana? Aku sudah bilang pada mu kalo aku-"
"Aku hamil!" Potong Vony cepat menjauhkan tangan dari wajahnya.
Alan terdiam saat ia mendengar kata 'hamil' terdengar sangat cepat, ingin rasanya Alan mengulangi kata tersebut tapi ia memilih diam dari pada membuat Vony semakin sedih. "Jangan berbohong hanya untuk membuat ku bahagia, sudah jangan nangis kita masih bisa mencoba nya lain kali"
"Kamu tidak ingin mengakui anak mu sendiri?!" Marah Vony
"Ma-maksud mu?"
"Aku beneran hamil Alan, dan itu buktinya!" Vony menunjuk tespack di yang masih ada di tangan Alan.
"Ma-mana"
"Dua garis itu artinya aku hamil!" Ucap Vony sebelum Alan kembali melakukan kebodohan nya dengan membolak-balik tespack tersebut.
"Ka-kamu serius?"
"Buat apa aku bohong di saat seperti ini? Apa kamu tidak bisa melihat ekspresi wajahku sekarang seperti apa hah?"
__ADS_1
"A-aku punya anak?" tanya Alan memastikan apa yang ia dengar dari sang istri tidaklah salah. "A-aku akan menjadi ayah?"
Vony mengangguk cepat sebelum Alan menyelesaikan ucapannya membuat Vony langsung mendapatkan pelukan hangat yang langsung Alan berikan. "Tuhan terimakasih, aku tidak akan melupakan anugrah terbesar dan terindah yang kau berikan malam ini" ucap Alan memeluk tubuh Vony begitu kuat, keduanya menumpahkan air mata dengan saling berpelukan satu sama lain.
Alan menangkup wajah Vony mendaratkan ciuman lumayan lama pada bibir yang masih mengeluarkan isakan kecil tersebut. "Terimakasih"
"Kalo seperti ini keadaan nya, besok kita tidak akan menggunakan jalur darat untuk pulang ke kota"
Vony menatap wajah Alan dengan mata yang masih basah. "Kenapa?"
"Aku tidak ingin berada di mobil yang berbeda dengan mu dan aku juga tidak mau kamu mual seperti saat berangkat ke sini"
"Tapi-"
"Aku akan meminta Daniel mencarikan tiket pesawat malam ini agar besok kita bisa langsung berangkat"
"Kali ini aku tidak akan mendengar apapun dari mu, dan besok kita akan tetap pulang menggunakan pesawat bagaimanpun caranya"
Vony hanya pasrah saat Alan tidak bisa di bantah untuk hal ini. Alan meninggalkan dirinya di kamar seorang diri untuk menemui Daniel di ruang tengah.
***
"Kamu sedang apa?"
__ADS_1
Alan yang baru saja kembali ke kamarnya setelah menemui Daniel, meminta dirinya untuk merebahkan tubuh dengan baju yang di naikan sedikit sedangkan pria itu menatap bagian perut nya yang masih datar.
"Kenapa perut mu masih datar kalo kamu tengah berbadan dua?"
"Kita baru saja mengetahui keberadaan nya setengah jam yang lalu dan sekarang kamu bertanya kenapa perut ku tidak besar?"
Alan terkekeh kecil menaruh kepalanya di atas perut Vony menatap wajah sang istri yang tengah mengusap rambut nya lembut. "Apa kamu ingin memberikan kabar bahagia ini pada semua orang malam ini?" Tanya Alan mendapat gelengan dari Vony.
"Kenapa? apa kamu masih memikirkan kata-kata ayah hari itu?"
"Bukan"
"Terus?"
"Banyak hall yang harus kita selesaikan sebelum memberikan kabar bahagia ini pada semua orang"
"Tidak ada yang perlu kita selesaikan Von-"
"Ada banyak hall yang harus kita selesaikan pertama mendapatkan restu ayah, kedua mencari alasan Anggit begitu terobsesi dengan mu, ke tiga membatalkan pertunangan mu, dan ke empat mencari suntikan dana untuk perusahaan mama setelah ke tiga hall yang pertama sudah terselesaikan semua"
Alan langsung menegapkan badan begitu juga dengan Vony. "Itu semua urusan ku Von tidak ada hubungannya dengan mu ataupun calon anak kita"
"Kalo hanya kamu yang berusaha mau sampai kapan semua ini akan selesai? Sampai anak ini lahir? Kamu ingin anak mu lahir dengan kondisi seperti ini?"
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak ingin tapi Von-"
"Biarkan aku ikut membantu mu sebisa ku Alan" bujuk Vony berharap Alan mengizinkan nya meskipun kalo Alan nanti melarangnya ia akan tetap nekat.