
Datang kembali ke kantor Restu kali ini Alan tak sendiri dirinya meminta Kenzou untuk menemaninya sebagai saksi kalo semua hutang nya dan Restu telah lunas. Masuk tanpa permisi Alan langsung disambut oleh anak dan ayah yang tengah berbincang dengan serius.
"Mau apa kamu kesini!" tanya Restu bangkit dari duduknya menyamakan tinggi dengan Alan. "Kamu mau cari keributan lagi dengan saya?!"
"Tidak tuan, saya kesini bukan mencari keributan melainkan saya ingin menyelesaikan masalah di antara kita"
Kening Restu menimbulkan garis halus bingung akan ucapan Alan. Mengamati setiap gerak-gerik nya Alan menyodorkan cek pada hadapan Restu.
Menerima uluran cek tersebut Restu membulatkan mata dimana Alan melunasi semua hutang-hutang nya. Anggit yang merasa heran akan wajah sang ayah mengambil alih benda itu raut wajahnya juga berubah sama seperti Restu terkejut saat Alan sudah melunasi semua hutangnya, dengan begitu tidak ada lagi senjata yang bisa ia dan sang ayah gunakan untuk menekan Alan.
"Cek itu sesuai nominal yang anda sebutkan beberapa hari lalu, jadi sekarang semua hutang perusahaan mama saya lunas dengan Kenzou sebagai saksinya" ucap Alan.
Melihat keberadaan anak Baskara berada di ruangannya membuat Restu menatap rendah Alan. "Apa kamu meminta bantuannya untuk melunasi semua hutang mu?"
Kenzou menepuk pundak Alan sebagai isyarat agar Alan tak sendiri lagi dan jangan hiraukan ucapan yang terlontar dari mulut Restu.
"Kamu melunasi hutang mu dengan meminjam uang dari tuan Kenzou? apa bedanya kalo gitu" cibir Restu.
__ADS_1
Alan berusaha mengontrol emosi nya agar tak menimbulkan masalah. "Bedanya Kenzou tidak akan menekan saya untuk melunasi hutang-hutang saya, sangat beda jauh dengan anda yang selalu menekan saya di bawah uang anda yang tidak seberapa itu"
"Kamu..."
"Ayah, ayah, jangan" cegah Anggit saat Restu akan melayangkan pukulan pada wajah Alan. Menatap pria yang ia sukai itu dengan tatapan sedih. "Kenapa kamu memperlakukan ku seperti ini Alan?!"
"Maksud mu?"
Anggit melangkah lebih dekat dengan Alan menatap dalam mata milik Alan berusaha mencari setitik saja rasa cinta untuk dirinya, tapi sayang mau sedalam dan selama apapun Anggit menatap nya ia tidak akan mendapatkan apa yang ia cari. "Kenapa kamu selalu membuat ku sakit hati dengan cara mu yang selalu menolak ku secara terus-menerus seperti ini. Kamu tau aku sangat mencintai mu dan lebih dulu sayang dengan mu dari istri mu itu"
"Dan soal cinta, hati ku juga berhak memilih mana yang terbaik untuk ku, jadi mau cinta itu datang di awal atau akhir itu tidak penting yang penting bagiku adalah bagaimana dia menyayangiku dengan tulus tanpa paksaan sedikitpun"
Anggit terdiam membisu ditempat mendengar ucapan Alan menilai dirinya sendiri seberapa buruk ia selama ini sehingga pria sebaik Alan bisa berkata seperti itu.
"Aku yakin kamu akan dapatkan pria yang jauh lebih baik dari ku, kalo kamu mau menyayangi dia dengan tulus tanpa paksaan dihati mu"
"Tapi aku menyayangimu" ucap Anggit bersamaan bulir bening membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Belajar untuk mengikhlaskan seseorang memang susah tapi orang itu juga berhak bahagia dengan keluarga nya sendiri. Dan kamu, kamu masih muda, kamu juga cantik, jadi aku yakin banyak pria yang ingin menjadi pasangan mu, tapi bukan aku orangnya"
Tangis Anggit semakin pecah mendengar itu, bahunya bergetar tak bisa membendung rasa sakit pada hatinya. Alan yakin Anggit adalah wanita yang baik hanya saja cara dan perbuatan nya yang salah sehingga membuat semua orang yang ada disekelilingnya tersakiti.
"Aku akan berusaha belajar untuk itu" jawab Anggit dengan bibir bergetar menahan rasa sakit pada hatinya.
Kedua ujung bibir Alan membentuk sebuah senyuman merasa senang Anggit akan belajar menjadi lebih baik dari sekarang. "Dan soal penyakit mu, aku harap kamu berani jujur dengan ayah mu dan menerima apapun konsekuensinya"
Anggit lagi-lagi di buat mematung akan ucapan Alan yang tau penyakit jiwanya selama ini hanya rekayasa nya sendiri. "Ka-kamu tau?"
Alan mengangguk cepat. "Aku tau semuanya tapi aku diam karena aku ingin kamu sendiri yang mempertanggung jawabkan perbuatan mu"
Rasa bersalah Anggit seketika muncul, merasa dirinya benar-benar jahat pada Alan yang jelas-jelas sudah berbuat baik padanya dengan tidak menyebarkan hal ini pada semua orang. "Ma-maaf kan aku"
"Aku susah memaafkan mu" jawab Alan, merasa urusan nya disini telah selesai Alan memutuskan untuk pulang. "Berusahalah jadi dirimu sendiri" nasihat Alan sebelum dirinya pergi dari ruangan Restu.
Alan meninggalkan restu dengan nafas lega setidaknya satu masalah besar sudah terselesaikan sekarang dan tinggal memulihkan keadaan perusaahan sang mama agar kembali seperti biasa.
__ADS_1