
"Iyah, tapi aku yakin kamu pasti suka" Alan merogoh paper bag ditangannya, mengeluarkan barang yang ia bawa dengan sangat bangga. "Buat malam ini" ucapnya dengan bangga.
Bola mata Vony membelak dengan sangat lebar melihat ligerai dengan bahan yang sangat tipis terpampang dengan jelas di depan matanya, bahkan suaminya itu membelikan nya bukan hanya satu tapi empat stel ligerai dengan warna yang berbeda. Dengan cepat Vony merampas barang itu dari tangan Alan memasukan nya kembali ke dalam paper bag.
"Sayang kok dimasukin lg sih" rengek Alan menghentikan tangan Vony.
"Kamu kenapa beli barang seperti gitu Alan!" kesal Vony.
"Karena aku ingin kamu memakainya, kamu belum pernah memakai pakaian seperti itu sayang sebelumnya jadi aku ingin kamu pakai malam ini"
"Apa kamu sudah gila meminta ku memakai baju itu saat kita sedang dalam perjalanan bisnis seperti ini?" Ucap Vony melayangkan tatapan tajam.
"Tapi ini sudah malam, pasti semua orang sudah tidur jadi kita bisa menikmati malam ini sebentar sebelum tidur"
"Dasar mesum!" Umpat Vony, berjalan ke arah lemari untuk menaruh barang mesum yang di bawa Alan.
"Sayang" rengek Alan memeluknya dari belakang. "Jangan di taruh di lemari, aku sudah membelikan itu untuk mu dengan susah payah, kamu tidak tau perjuangan ku ke toko pakaian dalam seperti apa"
Siang tadi saat dirinya tengah fokus pada tinjauan lapangan sebuah notif pesan muncul di layar ponsel Alan dari Vony yang memberikan nya izin lagi untuk tidur bersama malam ini, membayangkan menghabiskan malam bersama sebuah ide muncul di otak Alan. Meminta Daniel untuk pulang menggunakan mobilnya Alan terpaksa harus memesan taksi untuk menuju suatu tempat dimana ia akan membelikan sesuatu untuk Vony.
__ADS_1
Sampai di depan toko yang ia maksud Alan tidak mungkin turun dengan penampilan rapi seperti ini bisa-bisa ia di cap sebagai seorang yang suka bermain perempuan. Otak pintar nya bermain dengan sangat cepat saat supir taksi sedang menggunakan baju kerja nya, dengan di sogok sedikit uang Alan berhasil meminjam baju supir tersebut meski bau nya sudah tak sedap.
Masuk ke dalam toko pakaian dalam akan meminta seorang pelayan memberikan nya sebuah ligerai dengan satu kali tarik dan lepas tak peduli orang-orang yang tengah menatapnya, mendapatkan apa yang ia inginkan Alan menyodorkan uang tunai sejumlah satu juta pada pelayan kasir dan kembali ke dalam mobil.
Vony menatap Alan yang tengah menaruh dagu di pundaknya. "Sebenarnya aku sangat malas untuk melakukan hall ini, tapi demi kamu aku mau" ucap Vony setelah mendengar bagaimana perjuangan Alan memberikan nya baju halal itu.
"Kamu mau memakainya?" Tanya Alan kegirangan.
"Hanya sekali"
"Setiap malam juga tidak apa-apa" sadar akan ucapannya Alan tersenyum kuda. "Kapanpun kamu mau memakai nya pakai saja aku pasti akan sangat senang"
Sedang asik membayangkan bagaimana mata Alan nanti jika melihat nya, Vony berulang kali membelakangi cermin saat ligerai tersebut telah terpasang di tubuhnya, mengusap berulang kali wajah karena malu sendiri. Berniat untuk melepas pakaian halal tersebut pintu kamar mandi terlebih terketuk dan suara bas milik seorang pria berhasil memainkan irama detak jantung nya.
"Sayang sudah belum?"
"Sebentar!"
"Sayang-"
__ADS_1
"Kamu sangat crewet Alan,tunggu saja aku di atas kasur!" Teriak Vony merasa sangat malu sekarang.
"Aku tunggu lima menit lagi, kalo kamu tidak kunjung keluar juga aku akan mengendong mu dari dalam sana!" ancam Alan tersenyum jahil sambil berjalan ke ranjang.
Di dalam Vony memegangi dadanya yang berdetak sangat cepat, bagaimana kalo Alan akan menertawakan nya nanti? Bagaimana kalo ligerai yang ia pakai tidak sesuai dengan ekspektasi nya? Bagaimana dan bagiamana yang terus di fikiran Vony mengenai penampilan nya sekarang. Matanya menatap kesana kemari mencari beda apa yang bisa menutupi tubuhnya sekarang.
"Sayang-" baru Alan akan berteriak memanggil sang istri pintu kamar mandi yang sejak tadi ia tatap akhirnya terbuka secara perlahan.
Bukan hanya mata Alan yang membulat lebar melihat Vony kluar dari kamar mandi menggunakan jubah berwarna putih namun bibirnya juga menerbitkan sebuah senyuman saat kaki jenjang Vony terekspos begitu saja. Melihat Vony berada di atas ranjang bersama dengan nya dengan jarak yang lumayan jauh Bahakan istrinya itu menarik selimut untuk menutupi wajahnya dengan cepat hal tersebut di cegah oleh Alan.
"Alan jangan seperti ini aku malu" Vony memejamkan mata karena Alan merampas selimut dari tangan nya.
"Lihat aku" pinta Alan dan Vony mengeleng, Menaikan dagu Vony Alan menatap lekat wajah cantik Vony menunggu istrinya itu membuka mata.
Vony yang dapat merasakan hembusan nafas Alan tepat mengenai wajahnya membuka mata perlahan dan langsung di sambut mata indah Alan.
"Kamu cantik" puji Alan begitu mata Vony terbuka. "Boleh aku melakukannya sekarang?" Tanya Alan langsung di angguki oleh anggukan malu dari Vony.
Malam itu Vony menempati janjinya yang ia berikan pada sang suami tadi siang, kamar yang seharusnya tenang seperti kemarin malam sekarang di penuhi dengan erangan satu sama lain.
__ADS_1