
Untuk kedua kalinya Vony dan Danil datang ke Jhonson Company mengajukan dokumen kerjasama yang akan mereka jalin kedepannya.
Membiarkan Kenzou membaca dokumen yang ia baca secara keseluruhan. Vony meremas tangan menghilangkan kegugupan melihat ekspresi wajah Kenzou yang selalu datar tak menunjukkan pria itu setuju atau tidak dengan kerjasama ini.
Melewati keadaan yang terasa sangat tegang tiba-tiba Kenzou mengulurkan tangannya. Melihat uluran tangan tersebut tanpa ada kata-kata dari pria itu Vony menerima uluran tangan Kenzou dengan bingung.
"Semoga kerjasama kita bisa lancar kedepannya" ucap Kenzou menarik tangannya.
Diam beberapa detik Vony tersenyum senang. Akhirnya satu proyek besar berhasil dapatkan selama ini.
"Terimakasih tuan Kenzou atas kepercayaannya" ucap Vony tak dapat menyembunyikan rasa bahagia.
Menandatangani beberapa dokumen kerja sama Vony tak luput menunjukan senyum bahagianya hari ini.
Melihat Vony bisa tersenyum bahagia hanya untuk sebuah proyek membuat hati Alan bergetar geli. Mungkin untuk Alan proyek besar sudah biasa ia dapatkan tapi berbeda dengan Vony yang harus dengan kerja keras mendapatkan satu saja proyek besar untuk meyakinkan sang ayah.
"Aku minta sama kalian berdua, kalo perwakilan dari Adhitama Company mengajukan kerjasama tolong terima saja kerjasama itu" ucap Aleta pada kedua pria dihadapannya.
Berada di balkon ruangan kerja suaminya Aleta meminta agar Kenzou mau bekerjasama dengan Adhitama Company mengingat sahabatnya itu selalu gagal untuk mendapatkan proyek besar.
"Aku tidak bisa melakukan itu!" ucap Kenzou menyesap secangkir kopi miliknya.
"Kenapa?"
Kenzou hanya diam menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Melihat Kenzou hanya diam saja Alan yang akan menjelaskan pada istri atasannya itu.
"Jadi begini nona-"
"Aku tidak ingin mendengar penjelasan dari mu!, aku ingin kalian menerima kerjasama ini untuk sahabatku!" potong Aleta.
Melatakan secangkir kopi diatas meja Kenzou menatap istrinya. "Perusahaan Jhonson company itu sudah go internasional jadi menjalin kerjasama juga tidak boleh sembarangan!"
Mendengar itu Aleta merasa geram, ia tau Jhonson company perusahaan besar di Asia tapi apa tidak bisa suaminya itu menolong sahabatnya?. "Setidaknya satu kali ini saja!"
"Tapi nona-"
"Diam!" potong Aleta untuk kedua kalinya menatap tajam Alan.
Beralih menatap Kenzou Aleta menghela nafas sabar. "Bantu dia satu kali ini saja, apapun resiko kedepannya aku yang tanggung!" ucap Aleta tak main-main dengan perkataannya.
Mengingat ucapan Aleta yang berani berkata seperti itu Alan mengagumi persahabatan keduanya yang terjalin dengan sangat kuat. Bahkan Kenzou langsung mengangguk mengiyakan ucapan sang istri yang berani menanggung resiko apa yang belum ia ketahui kedepannya.
Melihat Vony dan Danil berjalan keluar Kenzou menghela nafas panjang. Menyerahkan dokumen kerjasama pada Alan Kenzou melanjutkan pekerjaannya.
Meminta izin pada Kenzou terlebih untuk menjemput sang mama Alan mengirimkan beberapa pesan pada Vony agar bersiap satu jam lagi untuk menjemput Salma yang diperbolehkan pulang.
***
Semua pegawai Adhitama Company dibuat terpanah dengan anak atasannya yang terlihat sangat cantik dan anggun dengan dress berwarna hijau melekat sempurna pada tubuh mungilnya.
Melihat Alan memainkan ponsel di samping mobil, Vony merapikan tatanan rambut yang kali ini dibiarkan terurai begitu saja dengan hiasan rambut berwarna putih. "Hai" sapanya dengan lembut.
__ADS_1
Menatap tubuh Vony dari atas sampai bawah mata Alan tak berkedip sedikitpun.
"Sudah ku tebak dia pasti mengagumi kecantikan paripurna ku ini"
"Ini kamu?" tanya Alan masih memperhatikan penampilannya.
"Tentu saja, bagaimana menurut mu?" tanya Vony memainkan dress selutut ditubuhnya.
"Coba berputar" pinta Alan.
Menurut ucapannya Vony berputar kecil. Setahunya kalo pria meminta untuk berputar kecil seperti ini pasti akan memberikan pujian dan itu yang Vony harapkan sekarang mendengar Alan mengakui kecantikannya.
"Bagaimana?" tanya Vony sekali lagi saat tak kunjung mendapatkan pujian.
"Sudah ku duga" Alan menggantung ucapannya dan itu membuat Vony tersenyum puas tak salah lagi kalo pria ini akan memujinya. "Dress ini tidak akan cocok untuk tubuh kurus mu!" lanjutnya melangkah memasuki mobil.
Seketika senyumannya hilang saat mendengar Alan tak memujinya sedikitpun. Baru saja ia akan ngomel Alan sudah membunyikan klakson mobil dengan kencang membuat Vony terperanjat kaget.
"Cepat masuk!, waktu kita cuma satu setengah jam!" ucap Alan dari dalam mobil.
Masuk kedalam mobil dengan malas Vony memilih membuang pandangannya keluar jendela. Membayangkan berapa lama tadi ia berdandan secantik ini hanya untuk sebuah pujian dari Alan tapi yang ia dapatkan adalah hinaan dan tatapan sinis dari pria disampingnya.
Sampai dirumah sakit kebetulan Salma sudah dipindahkan ke kursi roda oleh seorang perawat. Meminta Vony agar membawa mamanya keluar terlebih dahulu Alan masih harus menyelesaikan urusan a**dministrasi.
"Kamu sangat cantik dengan dress ini" puji Salma merasa senang saat dress pemberiannya digunakan.
"Terimakasih tante untuk dress-nya, lain kali gak usah repot-repot ngasih Vony barang-barang kaya gini lagi"
"Kenapa?"
Salma menggeleng kecil meraih tangan Vony ditepuknya pelan. "Sebentar lagi kamu akan jadi mantu tante, dan kamu harus terima apapun yang tante kasih kasih"
"Tante sudah tau?" tanya Vony saat Salma mengatakan dirinya akan menjadi calon istri Alan.
"Alan sudah cerita sama tante kalo kalian akan menikah empat bulan lagi"
"Empat bulan?, itu artinya dia benar-benar mengiyakan tawaran ku hari itu?"
Tak berselang lama Alan datang dan ketiganya langsung masuk kedalam mobil menuju kediaman Salma.
Memasuki halaman yang lumayan luas Vony menatap kagum sekeliling tempat itu yang banyak dihiasi bunga warna warni yang terlihat sangat cantik.
Dibantu Vony dan Alan Salma melangkah masuk kedalam rumah. "Apa kalian tidak ingin mempercepat pernikahan?" tanya Salma tak sabar untuk mengurus pernikahan putranya.
"Tidak, karena Alan sama Vony harus saling mengenal terlebih dahulu sebelum melangkah kejenjang yang lebih serius" ucap Alan mendudukkan tubuh Salma hati-hati diatas sofa.
"Kenapa tidak bulan depan saja kalian menikah?, mama sudah tidak sabar mengendong cucu"
Mendengar kata cucu mata Vony membulat sempurna. Kenapa Salma tiba-tiba meminta cucu?, bukankah ia dengan Alan hanya menikah dalam waktu enam bulan? dan kalo masalah cucu pasti sudah beda lagi ceritanya.
"Siapa yang akan menikah?" tanya seseorang dari arah pintu masuk.
__ADS_1
Semuanya menatap seorang pria paruh baya yang baru saja masuk dengan setelan jas melekat ditubuhnya.
Elrad mendengar istrinya akan pulang hari ini langsung pulang kerumah lebih awal dari biasanya.
"Putra kita sebentar lagi akan menikah, dan ini" Salma menepuk paha Vony yang duduk disebelahnya. "Dia calon mantu kita" lanjut Salma.
Elrad menatap wanita disamping istrinya, cantik dan kalo dilihat dari penampilannya Elrad yakin wanita itu berasal dari keluarga berada.
"Kamu yakin mau menikah dengan Alan?"
Mendengar nada bicara Elrad yang sedikit menyindir Vony merasa ada permasalahan antara ayah dan anak ini. "Iyah"
Elrad tertawa mendengar jawaban dari Vony dan itu terdengar seperti sindiran untuk Alan yang sudah mengepalkan tangannya.
"Kamu mau menikah dengan pria yang tidak bisa menjamin masa depan kamu?"
Vony menegapkan tubuhnya menarik nafas pelan Vony menjawab pertanyaan Elrad dengan Berwibawa. "Apa gunanya harta banyak tapi tidak bahagia?, menurut saya harta masih bisa di cari tapi untuk pasangan yang baik?, itu tidak bisa dibeli pakai uang"
"Kamu menyindir saya!" bentak Elrad tak kala kata-kata itu berhasil menyindirnya.
"Kenapa om marah?, bahkan saya sendiri saja tidak memanggil nama om kalo kita saja belum saling kenal sebelumnya. Jadi mari kita berkenalan terlebih dahulu sebelum saya menjadi menantu keluarga ini karena tidak lucu bukan saya tidak mengenali nama calon ayah mertua saya?"
Alan dan Salma tertegun dengan sifat tenang Vony yang bisa berhadapan dengan sifat tempramen suaminya yang tinggi.
Vony mengulurkan tangannya kedepan. "Perkenalkan nama saya Vony Senja Adhitama, om bisa memanggil saya dengan sebutan Vony"
Melihat uluran tangan itu Elrad menepisnya dengan kasar membuat Vony mengaduh kesakitan.
"Ayah cukup!" ucap Alan dengan nada tinggi saat Elrad berani-beraninya bermain kasar didepan matanya.
"Dasar mama sama anak sama saja!" ucap Elrad berlalu pergi kelaintai dua.
Melihat Elrad berlalu begitu saja Alan beralih menatap Vony yang memegangi tangannya. Berlari kearah dapur Alan mengambil es batu dengan kain untuk mengompres tangan Vony.
Berjongkok didepan Vony Alan meraih telapak tangannya. "Lain kali tidak udah coba-coba sok berani seperti tadi!" tegur Alan mengusap tangan Vony yang berwarna merah bekas tepisan sang ayah yang lumayan keras.
"Aku hanya memperkenalkan diri saja, lagian dimana salahnya?" ucap Vony enteng.
Melihat wanita itu keras kepala Alan menjitak pelan keningnya. "Keras kepala!"
"Alan!" tegur Salma saat putranya main menjitak anak orang se enaknya.
"Hiks...hiks...tante sakit" adu Vony mengusap keninya.
"Alay!"
"Alan!" tegur Salma sekali lagi dan Vony menjulurkan lidah pada Alan saat Salma fokus mengusap keningnya.
Melihat itu Alan memutar bola matanya malas.
***
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Beri Hadiah 🤗♥️