
"Aleta!" teriaknya begitu pintu rawat terbuka mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan.
Selain ada Kenzou dan Aleta ada juga kedua orang tuanya dan Brian-mantan pacar Aleta bersama seorang wanita yang belum pernah Vony temui sebelumnya.
Oekkkk
Suara nyaring milik Vony langsung membangunkan baby yang baru saja di pindahkan ke gendongan Baskara-ayah Kenzou.
"Vony!" kesal Aleta saat anaknya menangis karena suara laknat itu.
Sedangkan Vony hanya cengar-cengir menatap wajah satu persatu orang yang ada di dalam sana yang tengah menatapnya dengan tatapan kesal apa lagi Baskara yang baru saja ingin mengendong cucunya membuat pria paruh baya tersebut hanya bisa menghela nafas kasar mengembalikan bayi mungil tersebut pada ibunya.
"Kalo ngomong di rem! ini rumah sakit bukan hutan!" kata Alan berjalan terlebih dahulu mendekat ke ranjang Aleta di ikuti Vony dari belakang.
"Keluar! Aleta mau ngasih asi" usir Kenzou pada Alan.
"Aku baru datang Zou udah usir lagi?"
"Cepat keluar Alan, atau aku bakal melakukan cara yang lain untuk mengeluarkan mu dari sini" tekan Kenzou pada kalimat terakhirnya.
Alan memutar bola matanya malas dan kembali berjalan keluar dari ruang rawat Aleta, Vony yang melihat Alan diusir oleh Kenzou hanya bisa menatap punggung suaminya kasian.
Setelah pintu ruang rawat Aleta tertutup Vony beralih menatap Aleta tengah menyusui anaknya yang sempat terbangun.
"Maaf Aleta" ucapnya penuh penyesalan.
__ADS_1
"Lain kali suaranya di kecilkan Von"
"Iyah nanti aku servis" Aleta menggeleng saat sahabatnya itu malah bercanda. "Minggir!" Vony mendorong tubuh Kenzou kebelakang agar dirinya lebih dekat dengan Aleta dan keponakan nya yang baru saja lahir.
"Hay tampannya aunty, uluh-uluh kamu laper ya sayang?" Vony menoel pipi gembul bayi mungil yang tengah menyusu.
"Dia perempuan bukan laki-laki" ralat Aleta membenarkan posisi sang anak.
"Bukannya kata kamu hari itu hasil USG nya aki-laki?"
"Panjang ceritanya" ucap Aleta yang malas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ngomong-ngomong kamu kemana saja? kenapa baru jenguk sekarang?"
"Aku sibuk pasti kamu juga sudah denger kan kalo sebentar lagi gue bakal jadi CEO" Aleta memang sudah tau sahabatnya itu sebentar lagi akan menjadi CEO di perusahaan Ayahnya tapi apa ia sampai hilang kabar seperti ini?.
"Siapa namanya?" tanya Vony masih fokus pada bayi dalam gendongan Aleta membayangkan betapa bahagianya dia bisa mengendong dan mengusap pipi sang anak nantinya.
"Aluna" jawab Aleta.
"Cantik" puji Vony.
Gemas dengan baby Aluna Vony terus mengusap pipi gembul itu lembut. kening Aleta menimbulkan garis halus saat melihat sebuah cincin mas melingkar di jari manis sahabatnya.
Tangannya yang tiba-tiba saja di raih oleh Aleta membuat Vony langsung menyembunyikan tangan nya di belakang tubuh tidak membiarkan mommy Aluna itu untuk melihatnya lebih lama lagi.
"Itu kaya cincin tunangan" ucap Aleta.
__ADS_1
"Mana ada cincin tunangan" elak Vony.
"Terus tu cincin apa? pernikahan?" Aleta menunjukkan di belakang tubuh Vony dimana sahabatnya itu menyembunyikan tangan.
"I-ini cincin dopres tuju belasan kemarin" bohong Vony.
Aleta menatap tak percaya wajah Vony mana mungkin sahabatnya itu mengikuti lomba seperti itu?. "Mana ada dopres cincin mas kaya gitu?"
"Kamu gak percaya?"
"Ya gak lah, cuma orang bego yang percaya dapat cincin mas saat tujuh belasan"
Vony menggaruk kepala yang tak gatal memang sahabatnya itu sangat susah untuk di bohongi. "Ya-yaudah kali kalo gak percaya terserah tapi itu kenyataannya'
"Terus kenapa kamu bisa datang dengan Alan?" masih dengan penasarannya Aleta mengintrogasi sahabatnya.
"Gu-gue gak sengaja ketemu Alan di parkiran"
"Terus siapa yang ngasih tau kalo aku lahiran hari ini?"
"Sial! banyak benget pertanyaannya" umpat Vony.
"Sayang sudah jangan di tanya in terus Vony nya kasian" Ratih mengambil alih Aluna dari pelukan Aleta saat cucunya itu sudah kembali kenyang.
Akhirnya Aleta memilih menghentikan pertanyaannya saat Alan juga sudah ikut berkumpul di sana menambah keramaian di ruang rawat Aleta.
__ADS_1