
Di sepanjang perjalanan pulang Vony membuang pandangannya keluar jendela saat ucapan Erlad terus berputar di telinganya.
"Jadi kapan kalian akan berangkat bulan madu?" tanya Salma memecah keheningan dimeja makan.
"Rencananya akhir pekan" Jawab Alan yang langsung mendapat senggolan dari Vony. Vony menatap tajam suaminya itu yang langsung menjawab tanpa bertanya dulu kepadanya setuju atau tidaknya.
"Ayah tidak mau punya cucu dari istrimu!" ucap Erlad tajam.
"Yah-"
"Ayah tidak akan pernah sudi punya cucu dari menantu yang tidak mendapatkan restu ayah!" potong Erlad untuk teguran istrinya.
"Terus ayah mau punya cucu dari siapa?, dari wanita gila itu?" kata Alan mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Terserah kau mau berkata apa, intinya ayah tidak akan pernah mau memiliki cucu dari istrimu itu!"
Brak...
Alan bangkit dari duduknya mendengar hinaan yang terus keluar dari mulut Erlad untuk Vony. "Ayah boleh hina Alan, pukul Alan, marah sama Alan!, tapi jangan sama istri Alan karena sampai kapan pun Alan tidak akan terima itu!" Alan langsung berlalu pergi menarik tangan Vony secara paksa meninggalkan rumah Salma dalam keadaan marah, tak menghiraukan panggilan sang mama yang terus memanggil namanya.
Alan meraih tangan Vony membuat nya langsung tersadar akan lamunannya.
"Kenapa?" tanya Alan mendapat gelengan dari Vony. "Apa kamu masih memikirkan perkataan ayah?"
"Ti-tidak, lagian untuk apa memikirkannya kalo kita saja tidak akan memiliki seorang anak?"
Tanpa sadar ucapan Vony membuat dada Alan berdetak cepat. "Kenapa aku harus merasa takut seperti ini?, bukankah yang dikatakan Vony memang ada benarnya?"
"Aku minta maaf" Ucap Alan.
"Buat?"
"Atas sikap ayah ku yang terlalu kasar pada mu tadi"
Mendengar itu Vony memiringkan tubuhnya menatap Alan dari samping. "Apa kamu sering mendapat perlakuan seperti itu dari ayah?" tanya Vony hati-hati.
"Iyah"
"Dan itu alasan kamu memilih tinggal sendirian di apartemen?"
"Iyah" jawab Alan seadanya.
"Apa kamu membencinya?" Alan menoleh kearah Vony yang menatapnya serius.
"Ayah memang kasar padaku, tapi itu bukan alasan ku untuk membencinya. Memang aku sering mengeluarkan kata-kata benci tapi hati ku tidak bisa membencinya"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena kalo tidak ada dia, aku tidak mungkin menjadi suami mu" ucap Alan menggoda Vony.
Blus, pipi Vony menimbulkan semburat merah akan ucapan Alan yang berhasil menggelitik hatinya.
Alan memarkirkan mobilnya di sebuah restoran. Saat pergi dari rumah Salma tadi Alan dan Vony belum sempat memakan apapun yang membuat Alan terpaksa mampir untuk mengganjal perut mereka.
"Sudah jangan malu-malu seperti itu, ayo turun" ajak Alan keluar dari dalam mobil.
Memesan makanan untuk dua orang Alan menatap Vony yang kembali melamun.
"Apa kau tidak takut ketempelan jin?"
Vony yang tau pertanyaan itu untuk nya menatap Alan bingung. "Jin?" tanya Vony tak paham saat Alan membawa-bawa jin dalam acara makan malam mereka.
"Iyah, karena aku pernah membaca sebuah artikel kalo orang yang suka melamun akan ketempelan jin dan di kabarkan cepat mati"
"Kamu mendoakan ku agar cepat mati!" marah Vony.
"Aku tidak mendoakan hanya memeringatkan" elak Alan.
Vony mendengus kesal membuang pandangannya kearah lain. Tak berselang lama makanan pesanan keduanya datang.
Vony memakan makanannya tanpa berkata sepatah kata pun, melahapnya dengan cepat karena memang perutnya yang sudah sangat lapar.
"Von" panggil Alan.
"Bagaimana kalo akhir pekan kita liburan?"
Vony menaikan pandangannya menatap Alan serius.
"Orang tua kita selalu menanyakan soal bulan madu, dan aku sudah terlanjur berkata akhir pekan. Jadi bagaimana kalo bulan madu itu di ganti dengan liburan?" jelas Alan agar tak membuat wanita dihadapannya salah paham.
"Aku setuju, tapi apa kamu bisa mendapatkan cuti dari Kenzou?" tanya Vony meneguk minumannya.
"Itu masalah gampang, akan akan aku bicarakan nanti. Jadi kamu mau liburan kemana?"
Vony diam sejenak memikirkan tempat mana yang akan menjadi pilihannya untuk berlibur.
"Bagaimana kalo Bali?" usul Vony.
Alan mengangguk setuju, Bali tidak terlalu jauh dari sini dan hanya membutuhkan beberapa jam saja saat naik transportasi udara.
"Aku setuju"
Vony tersenyum kegirangan saat Alan menyetujuinya. "Tapi kamu tidak akan melakukan hal yang macam-macam kan disana?" ucap Vony penuh selidik.
"Tidak" jawab Alan singkat.
__ADS_1
Sesaat kemudian semua lampu restoran padam menyisakan lampu sorot berwarna putih di tengah restoran.
"Selamat malam semuanya, malam hari ini adalah malam bertepatan dimana pemilik restoran kita merayakan anniversary pernikahan mereka yang pertama. Dan keduanya mengajak kita semua disini untuk berdansa" ucap seorang MC perempuan.
"Wahhh ada dansa" guman Vony yang masih bisa di dengar oleh Alan.
"Bagi yang memiliki pasangan, kalian boleh mengajak pasangan kalian masing-masing untuk dansa di depan" lanjutnya.
Setelah menyampaikan informasi tersebut beberapa orang membawa pasangan mereka ke tengah-tengah restoran bersiap untuk melakukan dansa.
"Lihat banyak sekali anak-anak muda yang membawa pasangan mereka" ucap Vony melihat tak sedikit remaja membawa pasangan mereka kedepan.
"Kamu mau ikut?"
"Mau, tapi aku tidak memiliki pasangan" jawab Vony tak melepas pandangannya dari lalu sekumpulan orang yang sudah siap untuk berdansa.
Alan mengulurkan tangannya kearah Vony membuat wanita itu tak paham maksud Alan. "Mari berdansa dengan ku"
"Alan aku malu!" ucap Vony berbisik.
"Kenapa harus malu, kamu berdansa dengan suamimu bukan dengan selingkuhan mu" cibir Alan.
Tanpa pikir panjang Alan langsung menarik tangan Vony kedepan. Menaruh tangan nya pada pinggang Vony.
Merasa tangan Alan sudah berada di pinggangnya tangan Vony terulur ke pundak Alan.
Alunan musik melodi berbunyi menuntun semua orang yang sudah berada di depan mengerakan kaki mereka ke kanan dan ke kiri menikmati alunan musik romantis yang membuat siapa saja terbuai didalamnya.
"Kamu itu cantik, kalo tidak galak" ucap Alan.
"Apa kau baru menyadari kecantikan seorang Vony?"
"Sedikit, hanya saja kau itu terlalu kurus seperti sapu lidi" ejek Alan.
"Kau juga terlihat sangat jelek malam ini, dan lihat ini model rambut seperti apa ini" ucap Vony mengacak-acak rambut Alan.
"Ini model terbaru, kamu nya saja yang kuno"
Vony memutar bola matanya malas, baru saja ia akan membalas ledekan Alan, pria itu terlebih dahulu memutar tubuhnya menangkapnya dengan cepat. Kedua bola mata itu saling bertemu, dada Vony yang tadinya berdetak kencang bertambah semakin kencang saat Alan menatapnya lembut.
Prok...prok....prok....
Suara tepuk tangan yang begitu riuh mengakhiri dansa mereka. Alan membantu Vony kembali ke posisi semula, menyingkirkan anak rambutnya ke belakang telinga.
"Mau pulang sekarang?" Vony mengangguk setuju. Menggandeng tangan Alan keduanya keluar dari dalam restoran setelah melakukan pembayaran.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️.