
Kembali ketempat yang sudah semakin ramai membuat Vony penasaran apa yang sebenarnya terjadi di tengah sana, berjalan mendekat ia dapat melihat Aleta yang tengah berdansa dengan suaminya begitu sangat serasi membuat jiwa jomblonya langsung meronta-ronta.
Meraih minuman yang di suguhkan para pelayan, Vony meneguk minumannya sedikit demi sedikit menikmati alunan lagu. "Kapan aku bisa seperti itu, berdansa dengan orang yang aku sayang dan juga menyayangiku apa adanya"
Vony yang terlalu fokus pada kedua pasangan itu di buat kaget saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. "Hai" sapa seorang pria berjas merah.
"Rio?" tebak Vony dan pria itu mengangguk. "Kapan kamu pulang" memberikan pelukan hangat pada pria itu Vony merasa pria dihadapannya ini sudah banyak sekali mengalami perubahan.
Rio merupakan anak kedua dari pengusaha batu bara di kota ini dan merupakan cs Vony sejak SMP, keduanya harus berpisah saat Rio memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan kesehatan keluar kota untuk mengejar cita-citanya sebagai dokter. Dan saat melihat gadis itu dari kejauhan Rio langsung menghampirinya.
Melepaskan pelukan hangat tersebut Rio menjawab pertanyaan Vony. "Baru tiga hari yang lalu"
Tersenyum senang Vony mengajak Rio duduk di salah satu kursi kosong dan melanjutkan obrolan yang sempat terpotong. "Kamu tambah tampan saja"
"Kamu juga tambah cantik, tapi pasti sifat nakal mu itu tidak hilang-hilang sampai sekarang"
Mendengar hal tersebut Vony tertawa dengan memukuli lengan pria itu kuat membuat Rio mengusap lengannya yang terasa panas akibat pukulan maut itu, memang dari dulu gadis yang duduk di sampingnya ini tidak pernah berubah sedikit saja.
"Apa kamu kesini sendiri?" tanya Vony menghentikan gelak tawanya.
"Iyah papi, mami dan Kak Iren tidak bisa datang jadi aku yang mewakili mereka" jelas Rio.
Keduanya terus berbicara membahas masa-masa SMP dulu dimana Vony sering di sebut sebagai pereman sekolah yang terkenal akan sifat galaknya dan Rio yang sering menjadi bahan bulian karena penampilannya terlihat cupu membuat Rio menjadi sasaran empuk hinaan kakak kelas sampai Vony datang memberikan pelajaran kepada siapapun yang suka menghina Rio saat itu.
"Gue masih punya foto lo yang pakai celana ukuran XL" terbiasa menggunakan sebutan lo gue saat berbicara pada Rio, Vony tak bisa merubah panggilan itu sampai saat ini.
"Jangan gitu dong malu gue" cegah Rio saat Vony akan membuka galeri ponselnya.
"Lo harus lihat perubahan lo dari dulu dan sekarang,sumpah bikin ngakak tu foto kalo di liatin"
"Jangan Vony gue malu!" Riko yang merasa sangat malu membahas masa-masa itu merampas ponselnya.
Memilih mengalah Vony tak jadi menunjukan foto tersebut. "Ok,ok biar gue aja yang lihat tu foto, lo ga usah lihat"
"Tapi dulu saat kita baru masuk SMP, seinget gue ada satu satu murit anlumni yang lebih cupu dari gue, lo inget gk?" tanya Riko menatap Vony yang tengah memakan kue miliknya.
Menghentikan tangannya Vony mengingat masa-masa itu, menghabiskan kue dalam mulutnya Vony mengangguk cepat. "Iyah gue inget, cupu dia dari pada lo udah tasnya kecil banget, rambutnya di belah jadi dua, pakai kaca bundar lagi sama satu lagi dia bawa botol minum di leher kaya anak tk"
"Gue pernah liat tu anak dibuly depan gerbang sekolah" ucap Vony yang masih ingat akan hal tersebut. Sekolahnya yang bersebelahan dengan SMA favorit anak tersebut membuat Vony sering menemui anak laki-laki itu yang tengah menunggu jemputan di depan gerbang.
"Lo serius?"
"Iyah gue serius"
Flashback On
Bel istirahat berbunyi dengan sangat keras, semua murid keluar dari dalam kelas berbondong-bondong menuju kantin sekolah. Vony dan Aleta yang lebih suka makan bakso depan sekolah saat itu berjalan keluar sekolah, baru saja keduanya ingin menuju warung bakso langganan mereka langkah Vony lebih dulu terhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Aleta melihat Vony tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Lihat deh" mengarahkan tangannya lurus keduanya dapat melihat seorang anak laki-laki yang tengah di kepung banyak orang.
"Mana uang lo!"
"A-aku gak punya uang"
__ADS_1
"Jangan bohong!"
"Lo anak orang kaya, gak mungkin lo gak punya uang!"
"A-aku beneran gak bawa uang"
"Kelamaan, gledah aja kantong celananya!"
Melihat keempat pria itu mulai mengledah kantong anak laki-laki tersebut, Vony merasa kasian dan ingin menolongnya.
"Jangan cari gara-gara Von kita disini murid baru!" cegah Aleta mengeleng berharap sahabatnya itu tidak mencari masalah di sekolah barunya.
"Kasian Ale!"
"Gue bilang jangan!"
Melirik sekilas kerah keempat pria itu yang masih mencoba mencari uang pada kantong anak laki-laki itu Vony benar-benar tak bisa melihat penindasan seperti itu didepan matanya.
"Jangan di ambil!"
"Kasih gak!" mendorong kuat tubuh itu kebelakang salah satu dari keempatnya berhasil merampas uang saku anak tersebut.
Melepaskan cengkraman tangan Aleta, Vony berlari ke arah kelimanya. Membantu anak laki-laki yang tergeletak jatuh ia memastikan keadaannya baik-baik saja baru menatap ke empat wajah itu tajam.
"Kembali in uang nya!"
"Kayaknya murid baru nih" ucap salah satu dari keempatnya.
"Mending adek pergi dari sini deh sebelum nangis" sambung teman satunya lagi.
"Kalo gue gak mau gimana?" tantang pria yang memegang uang.
Maju satu langkah Vony mendongak sedikit wajahnya karena pria itu lebih tinggi dari dirinya. "Balikin!"
"Gue gak mau!"
Bugh....
Mendaratkan pukulan lumayan kuat pada dada laki-laki sombong tersebut membuatnya meringis kesakitan. Tak memperdulikan rintihan kesakitanya Vony merampas kembali uang yang bukan hak mereka.
"Ini uang kakak" memberikan uang di tangannya kembali pada anak laki-laki tersebut.
"Makasih"
"Sial!, lo berani?!" melihat pria itu mula murka, Vony merasa takut sampai pandangan matanya menatap guru bk SMA yang kebetulan berjalan keluar dari lobi sekolah.
"Pak!, ada korban pemalakan!" teriak Vony dengan sangat kencang.
Melihat gadis itu berteriak keempat laki-laki tersebut berlari terbirit-birit saat guru itu terkenal akan hukumannya yang the best.
"Huuu....cemen!" ejek Vony mengarahkan jari jempolnya kebawah.
Beralih menatap laki-laki yang hanya diam saja Vony melayangkan senyuman terbaiknya. "Mereka udah pergi kak, jadi gak usah takut lagian uangnya udah kembali kan?"
"Te-terimkasih ya"
__ADS_1
"Sama-sama kak lain kali jangan mau ditindas kaya gitu lagi, kakak harus berani lawan karena kalo kakak gak lawan kakak akan jadi korban mereka terus"
Laki-laki tersebut hanya mengangguk kepalanya berjalan masuk kedalam sekolah meninggalkan Vony yang masih berdiri di tempatnya.
Flashback Off
"Terus tu anak kemana sekarang?" tanya Rio setelah mendengar cerita dari wanita di hadapannya.
"Itu yang bikin gue bingung, karena setelah gue nolongin tu anak tiba-tiba dia udah gak kelihatan lagi, gue rasa sih dia pindah sekolah"
"Gue jadi penasaran dia udah glow up belum ya" ucap Rio membayangkan anak itu setampan apa sekarang.
"Harusnya sih dia udah glow up, udah tujuh tahun lagi dan lo juga tau orang yang sekolah di SMP sama SMA itu anak-anak dari kalangan atas dan gue yakin tuh anak juga keturunan kolongmerat"
Membenarkan ucapan Vony keduanya kembali menyantap makanan mereka masing-masing, tak berselang lama Aleta menghampiri keduanya.
"Cie, pengantin baru" goda Rio.
Aleta yang merasa tak pernah bertemu pria dihadapannya hanya diam menatap wajah itu secara keseluruhan.
"Rio!" ucap Vony yang tau sahabatnya itu pasti bingung.
"Ini Rio yang cupu itu?"
Mendengar kata cupu yang di lontarkan Aleta membuat Rio hanya mengangguk kecil. "Yak ampun gue sampai lupa"
"Udah glow up dia sekarang" goda Vony.
Aleta memang tidak terlalu dekat dengan Rio bahkan ia kenal dengan pria itu juga karena Vony yang mengenalkannya kalo tidak ia tak akan tau tentang Rio.
Mendapatkan telfon dari sang kakak Rio langsung mengangkat panggilan tersebut dengan cepat yang ternyata sang kakak memintanya agar cepat pulang dan memeriksa kakinya yang kena serpihan kaca pada suatu acara.
Berpamitan kepada Aleta selaku pemilik acara Rio meminta maaf tidak bisa berada sampai di penghujung acara, tak mempermasalahkan akan hal tersebut Aleta mengizinkan Riko pulang terlebih dahulu.
"Aleta jangan lupa bilang sama suami kamu buat kerja sama, sama perusahaan ku" ucap Vony yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan mas saat sahabatnya menikah dengan pengusahaan sukses di negeri ini.
"Bilang sendiri sama Kenzou aku males bahas kaya gituan"
Mengeluarkan kado ditangannya Vony mengiming-imingi sahabatnya itu dengan benda ditangannya. "lihat nih aku beli in kalung berlian keluar terbaru"
"Sogokan nih cerita?" dengan perasaan senang Aleta menerima kado tersebut dan membuka isinya, dan benar saja kalung berlian yang begitu sangat cantik limited edition berada dihadapannya.
"Uang jajan gue selama ini habis buat beli satu kalung kaya gitu doang, gak papa demi jadi CEO"
"Ya kalo kamu anggap kaya gitu gak papa"
"Sialan!, istri CEO pakai disogok segala cuma buat sebuah kerja sama" cibir Aleta.
"Perusahaan suami kamu itu besar jadi aku gak mau kehilangan kesempatan emas begitu saja"
"Dasar gak mau rugi!"
Melihat kekesalan sahabatnya Vony tertawa puas, melanjutkan acara resepsi semua orang menikmati acara mewah tersebut, bahkan tidak tanggung-tanggung para penyanyi ternama baik dari dalam maupun dari luar negeri di undang membawakan lagu mereka masing-masing.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️.