My Assistant Husband

My Assistant Husband
Melepas Masa Lajang


__ADS_3

Apa yang dikatakan Alan tadi siang benar-benar menjadi sebuah kenyataan. Di depan meja riasnya Vony susah di make up sedemikian rupa, meski sang penata rias merasa sedikit kesal saat tangis Vony yang tak kunjung berhenti.


"Nona jangan nangis terus, ini udah kelima kalinya makeup nya longsor" ucap seorang penata rias yang lagi-lagi harus membenarkan polesan pada wajah Vony.


Vony yang tengah sedih memikirkan nasibnya kedepan, menyingkirkan tangan penata rias dari depan wajahnya. "Kalian semua tidak akan tau bagaimana rasanya menikah dipaksa seperti ini!" marahnya.


"Tapi nona makeup nya jadi rusak lagi" tuturnya masih fokus pada makeup diwajah Vony.


"Sialan!, berapa uang yang kalian dapatkan dari pria itu hah?!, kasih tau aku akan ku bayar tiga kali lipat asalkan kalian pergi dari sini sekarang juga!!!" usir Vony menunjuk arah pintu kamarnya.


Kedua orang tersebut langsung diam mendengar teriakan frustasi dari mempelai wanita. Keduanya saling pandang pasalnya ini kali pertama mereka mendapati pengantin perempuan menangis tersedu-sedu akan pernikahannya sendiri.


Vony menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kalian tidak pernah bukan merasakan menikah dengan seseorang yang tidak kalian cintai?, bahkan menikah saja harus sangat-sangat terpaksa seperti ini!!!"


Livia yang ingin memastikan putrinya sudah siap apa belum membuka pintu kamar secara perlahan, mendapati kedua penata rias saling pandang satu sama lain. Penasaran apa yang sebenarnya terjadi Livia menepuk pundak salah satu dari mereka.


"Ada apa?" tanya Livia tanpa mengeluarkan suara.


Penata rias tersebut langsung menunjuk punggung Vony yang bergetar karena tangisnya.


Livia menghela nafas pelan mengangguk paham akan isyarat tersebut. Livia mengisyaratkan keduanya agar keluar memberikan waktu ibu dan anak itu.


Livia mengusap pundak Vony lembut. "Sayang kenapa?"


Vony menyingkirkan tangan menatap pantulan wajah Livia dari cermin. "Kenapa mama jahat sekali sama Vony?, bukankah pernikahan ini baru terjadi tiga bulan lagi?. Dan apa yang membuat mama menyetujui pernikahan secara diam-diam?" tanya Vony bertubi-tubi.


Livia tersenyum menaruh dagunya pada pundak Vony. "Tidak ada orang tua yang jahat di dunia ini hanya saja mereka ingin memberikan hal terbaik untuk anaknya. Dan untuk masalah pernikahan malam ini bisa kamu tanyakan langsung pada Alan.


"Sudah jangan nangis lagi, lebih baik kita turun sekarang. Semuanya sudah menunggu mu"


Livia menarik tangan Vony keluar dari dalam kamar menuju ruang tamu yang sudah di dekor dengan cantik.


Semua mata menatap kearah Vony yang terlihat sangat anggun mengenakan kebaya berwarna putih. Vony duduk disamping Alan yang sudah menunggunya.


Mulutnya ingin sekali berkata pada penghulu kalo pernikahan ini keterpaksaan tapi sayang tenggorokannya tak bisa mengeluarkan kata-kata itu.


Vony hanya diam menundukkan wajahnya pasrah akan nasibnya malam ini sampai giliran Alan yang mengucap ijab qobul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Vony Senja Adhitama binti Anggara Adhitama dengan maskawin tersebut, tunai!" ucap Alan dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi sah?"

__ADS_1


"Sah!!"


Sekarang statusnya sudah berubah menjadi istri Alan secara Agama dan hukum malam ini. Menatap Alan Vony mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Alan yang sudah resmi menjadi suaminya.


Alan terpanah melihat Vony yang mencium punggung tangannya. Sedetik kemudian giliran dirinya mendekatkan bibirnya pada kening Vony.


"Selamat sayang" ucap Salma menepuk tangan Vony pelan. "Rawat Alan dengan baik ya, memang anaknya sedikit nakal dan bandel jadi kamu harus sabar"


Vony hanya mengangguk lesu menjawab ucapan Salma.


"Sekarang putri satu-satu ayah sudah menjadi istri kamu, jaga dia baik-baik dan sayangi dia dengan sepenuh hati" ucap Anggra menepuk pundak Alan.


"Iyah yah" Alan mengangguk mantap.


Karena tidak di hadiri banyak orang acara berganti dengan makan malam.


Semua orang terlihat sangat bahagia bertekuar cerita masa-masa mereka menikah dulu. Hanya Vony yang diam saja memainkan alat makan ditangannya.


"Semuanya Vony pamit ke kamar dulu, tiba-tiba kepala Vony pusing" ucapnya memegangi keningnya.


"Kamu sakit sayang?" tanya Livia khawatir.


"Enggak ma, cuma kecepean aja"


Keduanya saling mendengar penuturan Salma. Alan mengangguk setuju keduanya melangkah bersama menuju lantai dua meninggalkan Salma,Livia dan Anggara yang masih memilih dimeja makan.


"Semoga setelah ini kita dapet cucu ya jeng" heboh Livia menggenggam tangan Salma.


Salma yang memutuskan untuk menginap satu malam dirumah Livia yang sudah resmi menjadi besannya beberapa saat jauh mengangguk antusias. "Iyah"


Sedangkan disisi lain Vony langsung mendorong tubuh Alan pada pintu yang baru saja ia tutup. "Sekarang katakan pada ku pelet apa yang kamu gunakan untuk membuat mama dan ayah ku setuju tentang pernikahan gila ini!"


"Pelet?, helo nona sekarang sudah modern sudah tidak zaman menggunakan hal-hal seperti itu!"


"Jangan bohong!!"


"Aku tidak pernah bohong!" Alan mendorong tubuh Vony pelan agar dirinya bisa duduk di tepi ranjang. "Aku berkata ingin menikahi malam ini agar aku bisa segera membuat mu jatuh cinta dengan ku!" jujur Alan.


"Apa?!" Vony menajamkan pendengarannya mendengar perkataan konyol dari mulut Alan. "Cinta?, kau menikahi ku hanya agar aku jatuh cinta dengan mu?, alasan tidak masuk akal seperti itu yang membuat kedua keluarga setuju?!" tanya Vony tak percaya.


"Sudahlah lagian semuanya sudah terjadi, marah-marah pun tidak bisa merubah semuanya" jawab Alan seakan-akan hal tadi hanyalah angin lalu yang tak perlu dipikirkan terlalu lama.

__ADS_1


Memang benar apa yang dikatakan Alan bahkan jika ia menghajar pria yang telah resmi menjadi suaminya itu tak akan merubah takdirnya saat ini. "Kalo seperti itu sekarang juga takdir mu tidur di sofa!" ucap Vony melempar satu buah bantal pada tubuh Alan.


"Apa kau ingin menjadi istri durhaka pada suami mu saat malam pertama kita menikah?!"


"Aku tidak peduli karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi mengakuimu sebagai suamiku!"


Alan yang tak ingin badannya sakit semua besok pagi langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang Vony dengan tangan dan kaki yang memenuhi kasur.


"Brengsek, Alan turun sekarang!" teriak Vony menarik paksa tangan kekar Alan.


"Tidak!, aku tidak mau, kalo kamu mau tidur saja sendiri di sofa!"


"Heh ini rumah ku dan yang kamu tempatin ini kamar ku jadi aku yang lebih berhak menentukan siapa yang tidur disini!" masih dengan usahanya Vony tak pantang menyerah menarik Alan dari atas ranjang.


"Dan aku ini suami mu yang artinya harus kamu perbolehkan!"


"Tidak aku tidak mau mempunyai suami sialan seperti kamu!"


Dengan satu tarikan tubuh Vony terhuyung kedepan alhasil tanpa diminta tubuhnya jatuh tepat mengenai dada bidang Alan.


Pandangan keduanya saling bertemu beberapa detik. "Berkatalah lembut pada suami mu mulai malam ini!"


"Suami terpaksa!, ingat itu!"


Dengan gerakan cepat kini tubuh Alan yang berada di atas tubuh Vony. Vony yang berada di situasi ini mulai menunjukan wajah ketakutannya.


"Menyingkir dari atas ku Alan!, atau aku akan membunuh mu saat ini juga!"


"Sudah aku bilang berkatalah lembut pada suami mu atau bibir mu ini akan mengeluarkan suara yang seharunya tidak kita lakukan!" ancam Alan berharap dengan ini Vony tak berkata kasar lagi dengannya.


"Jangan mimpi!"


Dug...


"Aaa!!!!" teriak Alan menyilangkan kedua tangan pada senjata pusaka yang baru saja ditendang oleh istrinya sendiri. "Apa kau ingin membuat mas depan ku suram?!"


"Mungkin itu jauh lebih baik dari pada kau terus mengancam ku!" ucap Vony langsung menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya. Didalam selimut Vony tertawa mendapati ekspresi wajah kesakitan Alan yang sangat lucu.


***


Jangan lupa kasih kado buat sama mereka berdua 🤣.

__ADS_1


HAPPY WEDDING ALAN & VONY🤣


__ADS_2