
Melihat Alan datang dengan Vony Restu bangkit dari duduknya masih dengan tatapan mata tajam. "Erlad aku ingin kamu mengusir wanita itu dari sini malam ini juga!" tunjuk Restu pada Vony.
"Om tidak berhak mengusir Vony dari rumah ini!" sela Alan sebelum sang ayah menjawab ucapan temannya itu.
Melihat Alan yang benar-benar membela Vony seperti ucapan putrinya beberapa saat lalu Restu menghampiri Alan. "Saya berhak mengusir wanita itu karena kamu membatalkan pertunangan mu dengan Anggit secara sepihak karena membela perempuan ini? apa kamu tidak punya fikiran Alan!"
"Yang tidak punya fikiran disini itu putri anda tuan, putri anda yang berniat mencelakai Vony dengan mendorong tubuhnya sampai menghantam rak di supermarket! kalo sampai terjadi hall yang tidak di inginkan apa anda akan tetap membela putri anda sama seperti sekarang ini dengan kesalahan yang ia lakukan?!" ucap Alan membela Vony yang jelas-jelas di sini adalah korban nya.
"Tapi kamu yang melakukan kesalahan terlebih dahulu!" Anggit menghampiri keduanya berdiri tepat di depan Alan menatap pria itu dengan berlinang air mata. "Kalo kamu tidak bersama wanita murahan itu di kamar yang sama selama dua hari kemarin, mungkin aku tidak akan melakukan hal senekat ini!"
"Sudah aku tegaskan pada mu jangan sebut Vony sebagai wanita murahan!" bentak Alan, wanita itu seperti tak cukup untuk di ingatkan sekali dua kali saat dirinya terus mengulangi kesalahan yang sama.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak boleh menyebutnya sebagai wanita murahan kalo jelas-jelas dia bisa memberikan tubuhnya dengan begitu mudah pada tunangan orang-"
"Karena yang kamu hina itu istriku!" potong Alan lantang, semua yang ada di sana melebarkan bola mata termasuk Vony yang sejak tadi hanya diam tak menyangka jika Alan akan membocorkan semuanya secepat ini. "Kenapa diam? kehabisan kata-kata untuk menghina nya?!"
"Alan" Vony menarik lengan Alan agar menjauh dari Anggit yang tengah mematung. "Alan sudah-"
"Dia harus di berikan penjelasan sejelas-jelasnya agar tidak seenak nya menghina orang lain apa lagi dirimu!" nafas Alan naik turun dengan pandangan yang masih tertuju pada Anggit yang nampak syok.
"Dia istri ku!" tegas Alan masih dengan nada yang sama.
"Kalo dia istri mu kenapa kamu bertunangan dengan ku? kenapa kamu memberikan harapan palsu pada ku?!"
__ADS_1
Mendengar itu Alan menatap bergantian Erlad dan Restu. "Karena ini hanya sebuah paksaan dari dua keluarga! ayah ku yang memaksa ku untuk bertunangan dengan mu dan juga ayah mu yang menginginkan ku bertunangan dengan putrinya!"
"Ayah melakukan itu untuk kebaikan mu Alan!" ucap Erlad membuka suara.
Alan berdecak mendengar hal tersebut. "Bukankah ayah melakukan ini untuk keuntungan ayah sendiri? ayah tidak ingin kehilangan suntikan dana dari perusaahan tuan Restu agar perusaahan mama tidak colabs bukan?!"
"A-apa?" mendengar perusahaan yang di pimpin suami mengalami masalah Salma menatap suaminya. "Apa yang dikatakan Alan benar? apa perusahaan ku mengalami masalah?"
"Itu tidak benar, jangan percaya dengan anak mu itu! jelas-jelas aku yang memimpin nya jadi aku yang lebih tau seperti apa keadaan nya!"
"Kalo mama tidak percaya mama bisa mengeceknya sendiri nanti, Alan punya beberapa bukti yang bisa membuat mama yakin bagaimana keadaan perusaahan kita sekarang!"
__ADS_1