
Taksi yang di tumpangi keduanya berhenti disebuah bar yang sering Vony kunjungi dulu. Melangkah masuk terlebih dahulu Vony meninggalkan Alan sendirian di belakang sana, tak peduli apa yang akan Alan pikirkan tentang dirinya, karena malam ini ia hanya ingin mencari ketenangan.
Dentuman musik DJ membuat buat beberapa pasangan kekasih, dan perempuan bayaran yang biasa di sewa pria hidung belang menari menikmati alunan musik. Memilih duduk di pojok rungan Vony melambaikan tangan nya pada seorang pelayan.
"Bawakan aku satu botol wine" perintah nya bersamaan dengan Alan yang baru saja datang.
"Apa yang mau kamu lakukan di sini?" tanya Alan menatap wajah cantik wanita di sampingnya.
"Bukan urusan mu"
"Tapi-"
"Satu botol wine dengan kadar alkohol rendah" ucap seorang pria menaruh botol wine di depan Vony memotong perkataan Alan.
"Erwin?" sapa Vony tersenyum lebar melihat siapa yang mengantarkan wine ke mejanya. Keduanya cipika-cipiki seperti biasanya setiap kali keduanya bertemu. "Kamu masih bekerja di sini?"
"Iyah, aku sudah mencari pekerjaan kesana-kemari tapi sampai sekarang belum ada satupun yang memanggil ku hanya sekadar wawancara"
Vony mengusap lengan Erwin memberi semangat pada teman yang sering menemaninya minum dulu. "Kalo saja perusahaan ayah ku ada lowongan pekerjaan aku yakin kamu tidak lagi bekerja di sini"
Erwin terkekeh mendengar belas kasih dari Vony terdengar geli di telinganya. "Setidaknya aku masih memiliki pekerjaan dari pada tidak sama sekali" mata Erwin beralih menatap Alan yang berada di samping Vony dengan tatapan bingung. "Siapa dia?, apa dia kekasih mu?"
Vony melirik sekilas Alan, mengeleng kecil menjawab ucapan Erwin. "Aku tidak tau siapa dia, tiba-tiba saja orang ini langsung datang ke meja ku"
Terdengar sangat sadis saat Vony dengan terang-terangan tak ingin mengakuinya sebagai seorang suami. Ingin rasanya Alan ingin menegaskan pada wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu mengenai status mereka kalo saja keduanya tak sedang berada di tempat umum.
__ADS_1
"Apa perlu aku menemani mu?"
"Tidak perlu, kamu kembali bekerja saja bar sedang ramai pasti akan banyak tips yang kamu peroleh nantinya" tolak Vony terselip candaan di akhir ucapannya. "Tapi sebelum itu aku ingin mengganti wine ini dengan kadar alkohol tinggi"
"Jangan!" cegah Alan saat Erwin akan mengambil botol wine tersebut. "Ini saja jangan di ganti!"
Tak suka dengan cara Alan yang menahan keinginan nya, Vony memukul punggung tangan Alan dengan sangat kuat. "Jangan pernah mencegah apapun yang ingin aku lakukan!"
"Kalo kamu ingin marah dengan ku marah saja, tapi jangan merugikan diri mu sendiri"
"Memang nya siapa kamu yang bisa melarang ku melakukan ini dan itu?!" dengan sengaja Vony melayangkan pertanyaan seperti itu di hadapan Erwin ingin tau apakah Alan akan mengakuinya istri atau tetap menyembunyikan status mereka.
Melihat Alan tak berani menjawab pertanyaan membuat ujung bibir Vony menimbulkan senyum sinis.
Sedangkan Erwin pria itu menatap kedua manusia tersebut dengan tatapan bingung, nampak seperti seorang yang sangat akrab tapi kenapa Vony menyebut Alan bukan siapa-siapa nya.
Tak ingin berfikir terlalu panjang tentang urusan teman nya Erwin memilih mengambilkan wine baru untuk Vony meminta teman nya untuk mengantar nya sedangkan dirinya harus mengantar minuman di ruang VVIP.
Setelah pesanan wine nya datang Vony menuangkan wine tersebut ke gelas kecil meminumnya dengan satu kali tegukan mengulangi hal tersebut sebanyak tiga kali tanpa jeda.
Melihat tingkah konyol yang di lakukan sang istri Alan menahan pergelangan tangan Vony yang akan kembali meneguk wine miliknya. "Hentikan Vony kamu bisa mabuk kalo seperti ini!"
"Jangan sentuh aku!" menyingkirkan tangan Alan Vony kembali meneguk wine miliknya.
"Aku tidak ingin kamu mabuk yang ada kamu hanya akan merepotkan ku saja nantinya!"
__ADS_1
Brak!!!
Vony memukul meja dihapannya dengan sangat kencang beruntung dentuman musik membuat orang-orang tak terlalu menghiraukan keduanya.
"Kalo kamu tidak ingin aku repot kan kenapa kamu menikahi ku?, memasukan ku ke dalam kehidupan mu yang jelas-jelas ayah mu saja tidak menyukai ku?!"
"Bukan begitu maksud ku-"
"Kamu itu laki-laki paling brengsek yang pernah aku temui!" potong Vony, melambaikan tangannya meminta pelayan mengambilkan wine yang baru.
Kali ini tanpa menuang wine tersebut ke dalam gelas Vony langsung meneguknya dari botol melupakan kekesalan nya pada Alan dengan sebotol wine.
"Vony cukup jangan di lanjutkan lagi!" Alan yang ingin mengambil wine tersebut dari tangan Vony, di jauhkan dengan cepat oleh wanita tersebut.
"Apa kamu juga ingin merasakan bagaimana nikmatnya?" bangkit dari duduknya Vony berjalan ke arah Alan mencengkram pipi pria itu dengan kuat memasukan wine ke dalam mulut Alan membuat laki-laki itu mau tak mau juga meminumnya lumayan banyak.
Alan menyingkirkan tangan Vony sebelum dirinya meneguk habis satu botol wine tersebut. Mengusap kasar permukaan bibirnya Alan mendapati Vony yang tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
"Dia benar-benar sudah mabuk!" guman Alan, meraih pergelangan tangan Vony Alan menyeret wanita tersebut keluar dari sana sebelum pengaruh alkohol yang di minumnya mulai bereaksi.
Di sepanjang perjalanan ke apartemen Alan menggelengkan kepala berulang kali saat pandangannya mulai kabur. Sedangkan Vony wanita itu terus berceloteh menghitung jumlah jarinya seperti anak TK.
"Tadi ada sembilan, kenapa tiba-tiba ada delapan?"
"Alan jari mu ada berapa?" tanya nya masih fokus menghitung.
__ADS_1
"Sembilan!" jawab nya asal.
Jalan yang longgar membuat Alan menambah kecepatan mobilnya, agar segara sampai di apartemen tak ingin dirinya ikut kehilangan kesadaran seperti Vony yang ada bisa-bisa keduanya tertidur di dalam mobil sampai besok pagi atau mungkin mengalami kecelakaan malam ini.