
Setalah kemarin Alan tidak bisa menjemput Vony pulang kerja siang ini juga dirinya tidak bisa memenuhi keinginan sang istri untuk makan siang bersama karena Erlad tiba-tiba meminta nya makan siang bersama Anggit dan Restu. Bahkan hanya untuk sebuah makan siang Anggit harus menjemput nya memastikan dirinya benar-benar datang di acara makan siang tersebut.
Alan yang mengira hanya sebuah makan siang biasa dan ingin cepat-cepat mengakhiri nya harus menelan pahitnya ekspetasi saat Restu mendatangkan seorang desainer dan WO untuk mendekor rumah nya khusus untuk hari pertunangan nya dengan Anggit tiga minggu lagi.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" perkataan Alan sukses membuat semua orang yang tengah sibuk menoleh ke arah nya.
"Apa maksud mu!" tanya Erlad penuh penekanan memperingati putra semata wayangnya agar tidak mengatakan hal yang macam-macam.
"Maksud ku ini hanya sebuah pertunangan biasa kenapa tidak di lakukan sederhana saja?"
Restu dan Anggit saling pandang sebelum kembali menatap Alan. "Karena yang akan bertungan disini putri ku, jadi aku harus memastikan semua hall yang menyangkut nya itu sempurna, bahkan rencananya aku akan mendatangkan wartawan untuk meliput kalian berdua"
Erlad langsung tersenyum lebar mendengar ucapan Restu yang secara tidak langsung juga membantu nya memisahkan Alan dan Vony melalui media masa. Sedangkan Alan tangan pria itu langsung terkepal dengan sangat kuat di bawah sana, merasa menyesal telah menyetujui pertunangan ini kalo akhirnya dirinya yang akan selalu di rugikan.
__ADS_1
"Saya tidak setuju!" ucap Alan penuh ketidaksukaan dan penekanan.
"Kenapa?" Anggit mengeluarkan sura melihat pria yang ia cintai nampak tidak suka dengan rencana sang ayah.
Alan melayangkan tatapan tajam pada wanita itu, wanita yang sangat ia benci setalah ayah nya dan kembali menatap Restu. "Saya sudah menyetujui pertunangan ini dan membiarkan apapun yang anda dan anak anda inginkan tapi bisakah anda tidak melibatkan wartawan di dalam nya?"
"Tapi kenapa? saya melakukan ini juga untuk kebaikan kalian berdua agar kedepannya jika terjadi sesuatu, hubungan kalian tidak menggemparkan publik"
"Aku setuju lagian mengundang wartawan bukanlah masalah besar bukan?" ucap Erlad di angguki Restu.
"Kalo menurut ayah dan tuan Restu mengundang wartawan bukanlah suatu masalah yang besar, maka silahkan cari pria lain untuk bertungan dengan Anggit" ucap Alan bangkit dari duduknya menuju pintu keluar.
Dengan cepat Anggit menyusul Alan meraih tangan pria itu untuk menghentikan nya. "Alan jangan pergi aku aku mohon"
__ADS_1
"Buat apa aku terus di sini kalo pada akhirnya aku akan kalah dalam situasi seperti ini!"
"Kamu salah Alan, aku juga berubah pikiran untuk tidak mengundang wartawan ke acara kita"
"Tapi ayah mu dan ayah ku yang menginginkan itu" ucap Alan sengaja membesarkan volume suaranya.
Anggit membalikan badan menatap dimana sang ayah yang juga menatap ke arah nya. "Ayah iyah kan saja apa yang Alan inginkan, Anggit yakin keputusan Alan adalah yang terbaik untuk kita berdua"
"Apa kamu yakin?" restu memastikan putrinya benar-benar setuju sebelum mengiyakan.
"Anggit yakin yah" ucap Anggit tanpa ragu dan di angguki oleh restu, sedangkan Erlad berusaha menhan amarahnya.
"Aku yakin kamu seperti ini karena wanita itu Alan"
__ADS_1