My Assistant Husband

My Assistant Husband
Aku Terima Tawaran Ini


__ADS_3

Memarkirkan mobil di tempat biasa Alan melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan menenteng tas kerjanya, dari kejauhan Alan menajamkan penglihatannya memastikan orang yang tengah berada di depan pintu lift benar-benar atasannya.


"Tuan" panggil Alan sedikit keras.


Menoleh ke sumber suara Kenzou melihat Alan yang tengah berjalan kearahnya.


"Anda sudah masuk kerja tuan?" bersamaan dengan itu pintu lift terbuka, melangkah masuk kedalam lift yang sama Alan tak kunjung mendapatkan jawaban dari atasannya itu. "Apa cuti anda menyenangkan?" tanya Alan sekali lagi.


"Bukan urusan mu!" suara berat Kenzou memerintahkan agar pria itu tetap diam dan tidak melayangkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Melangkah keluar Kenzou memerintahkan Alan agar membawakan laporan pengajuan kerjasama dengan Adhitama Company.


"Maaf tuan tapi sampai sekarang CEO ataupun perwakilan Adhitama Company belum datang kesini" bohong Alan. Dirinya tidak mungkin mengatakan bahwa Vony sudah sangat lalai mengerjakan laporan sepenting itu mengingat Kenzou tidak suka dengan orang yang menyepelekan pekerjaan sekecil apapun itu.


"Benarkah?" selidik Kenzou.


Menutupi kegugupannya dengan cepat Alan mengangguk. "Benar tuan, dan saya baru dapat kabar tadi pagi bahwa perwakilan Adhitama Company akan kemari tiga hari lagi"


"Urus semuanya" ucap Kenzou singkat berlalu masuk kedalam ruangannya.


Alan bernafas lega melihat Kenzou sudah masuk kedalam ruangannya, kalo bukan untuk sang mama sudah dari tadi ia akan mengatakan wanita itu sangat ceroboh dan teledor.


Berjalan keruangannya Alan merogoh kantong jasnya menghubungi seseorang dari sebrang sana.


...Wanita jelek (Call on)...


|"Halo"


^^^"Apa laporan mu sudah selesai?"|^^^


|"Belum aku kerjakan"


^^^"Kenapa belum kamu kerjakan?!"|^^^


|"Aku malas, kamu saja yang mengerjakannya"


^^^"Kenapa harus aku?"|^^^


|"Karena kamu sudah janji akan membantuku kalo soal kantor"

__ADS_1


^^^"Enak saja!, aku baru akan membantumu kalo kamu sudah menerima tawaran ku!"|^^^


|"CK...kita ketemu nanti siang di cafe xxx buat membahas soal ini!"


|"Dan tidak ada alasan sok sibuk!"


Melihat telfon tersebut mati secara sepihak Alan meremas ponsel ditangannya. "Kenapa aku harus terjebak dengan wanita seperti itu?"


Membuang asal ponselnya kearah sofa Alan melangkah menuju meja kerjanya mempersiapkan laporan beberapa hari kemarin untuk ia serahkan kepada Kenzou yang sudah mulai masuk bekerja.


***


Seorang wanita cantik berjalan menghampiri seorang pria dengan kaca mata hitam yang terpasang pada wajahnya. Menghempaskan tubuhnya pada badan kursi Vony menatap pria dihadapannya.


"Telat dua menit!" suara bas milik Alan membuat Vony memutar bola matanya malas.


Memesan minuman beserta makanan kepada pramusaji Alan melayangkan pertanyaan.


"Apa kamu sudah memiliki keputusan untuk hal ini?"


"Apa kau akan benar-benar membantuku untuk memincut perusahaan-perusahaan besar itu?" ujarnya membalikan pertanyaan.


"Apa muka ku terlihat seperti pembohong?"


Alan berdecak kesal melihat wanita itu selalu meragukannya. "Kau terlalu meremehkan assisten pribadi Jhonson company" ucap Alan sombong.


"Jadi bagaimana kau mau atau tidak!, aku sudah sangat lelah ditanyakan pernikahan oleh mama!" lanjut Alan, mengingat tadi malam mamanya selalu menanyakan mengenai hubungannya dengan Vony yang jelas-jelas tidak ada apa-apanya.


"Aku juga lelah dijodohkan sana sini oleh mama"


"Aku terima tawaran ini, tapi tidak menikah secepat ini!'


"Maksud mu?"


"Kita jalani saja hubungan ini selama tiga bulan ke depan dan sebagai jaminannya kamu harus memincut setidaknya dua perusahaan besar untuk ku dan sisanya setelah kita menikah!"


Mendengar hal tersebut Alan menolak tawaran yang di ajukan Vony. "Aku tidak setuju!"


"Ayolah Alan dua perusahaan itu tidak ada apa-apanya untuk mu bukan?, anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih karena aku telah menerima tawaran dari mu!"

__ADS_1


"Tetap saja aku-"


"Hanya dua perusahaan, jangan lah jadi orang pelit seperti ini!" potong Vony menatap kesal wajah Alan.


Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya Alan mengiyakan permintaannya, hati Vony teriak kegirangan akan hal tersebut berusaha membiasakan ekspresi wajahnya Vony mengeluarkan suaranya lagi.


"Aku harap selama tiga bulan ini kedua orangtuaku tidak ada yang tahu"


Alan mengerutkan keningnya bingung akan rencana apa lagi yang disusun wanita ini. "Kenapa seperti itu?"


"Kita menikah hanya untuk keuntungan pribadi, jadi tidak perlu pengenalan seperti layaknya sepasang kekasih" jawab Vony meneguk minumannya yang baru saja datang.


"Bagaimana pun kita akan menikah jadi aku rasa kedua orang tua mu harus tau siapa aku!" ucap Alan yang ingin hubungan keduanya diketahui oleh kedua belah pihak agar tak menimbulkan fitnah nantinya.


"Apa kau terlalu ingin menjadi suamiku?"


Melihat wanita itu yang sudah salah paham akan ucapannya Alan memutar bola matanya malas. "Terserah kau mau berkata apa intinya aku mau agar hubungan ini tatap diketahui kedua belah pihak!"


Mendengar pria itu berbicara dengan sangat serius Vony mengangguk pelan. "Aku harap kamu tidak akan menyesal nantinya setelah bertemu kedua orang tua ku"


"Aku sudah merasa sangat menyesal bertemu dengan wanita seperti dirimu, dan aku harap kedua orang tuamu tidak akan mempertanyakan hal yang aneh-aneh nantinya."


"Jadi kapan aku bisa bertemu dengan kedua orang tua mu?"


"Datanglah nanti malam jam delapan dengan membawa sepuluh bungkus martabak!"


Mendengar kalimat terakhir Alan membuka mulutnya lebar. "Buat apa?"


"Nanti malam itu malam minggu dan biasanya ayah sama mama ku suka nonton televisi sampai tengah malam ditemani martabak, dari pada aku yang belikan lebih baik kamu saja yang beli"


"Apa harus sampai sepuluh bungkus juga?"


"Katanya pria mapan, masa beli martabak sepuluh bungkus saja gak mampu!" cibir Vony menatap sinis Alan.


Mendengar wanita itu merendahkannya Alan meremas tangannya di bawah sana. "Jangankan sepuluh bungkus bahkan aku bisa memborong sepuluh gerobak martabak berserta penjualannya!"


Melihat pria itu mulai tersurut emosi Vony meraih tas miliknya. "Ini alamat rumahku dan aku harap kamu tidak datang telat nanti malam"


Menghentikan langkahnya yang hendak berbalik Vony menatap Alan yang masih duduk dan kursinya. "Tolong bayar makanan ku sekalian" setelah itu Vony melangkah pergi meninggalkan Alan sendirian.

__ADS_1


***


Jangan lupa Like, Vote, Komen, dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2