
Di sebuah restoran seorang pria yang baru saja menyelesaikan meeting dengan salah satu klien harus menggantikan atasnya yang tengah mengambil cuti pernikahan jadi semua kerjaan atasannya dilimpahkan pada dirinya beberapa hari kedepan, siapa lagi kalo bukan Alan pria itu harus menanggung kerepotan mengurus perusahaan sebesar itu seorang diri tanpa bantuan sahabatnya yang pasti sekarang tengah senang-senang dengan Istrinya.
Menjabat tangan CEO di hadapannya menandakan meeting hari ini telah selesai, mempersilahkan CEO tersebut untuk keluar terlebih dahulu karena masih ada urusan Alan memaklumi akan hal tersebut. Melihat kepergian kliennya baru Alan merapikan berkas-berkas yang sedikit berantakan membuat pria berwajah tampan itu merutuki kebodohannya karena tidak mengajak sekertaris Kenzou untuk ikut dengannya.
Dret...dret...
Berniat bangkit dari duduknya Alan merasa ponsel miliknya bergetar, mengeluarkan benda pipih tersebut Alan menatap nomor yang tak di kenal tertera di layar ponselnya, mengacuhkan panggilan tersebut Alan berjalan keluar dari dalam restoran setelah menaruh beberapa lembar uang di atas meja.
Baru saja tangannya akan meraih pintu mobil, ponselnya lebih dulu kembali berdering merasa nomer yang menelfonnya sama seperti tadi Alan berdecak kesal. "Kenapa sekarang banyak sekali orang iseng"
Ting...
Setelah panggilan tersebut mati secara sepihak sebelum ia mengangkatnya kini berganti sebuah notifikasi dengan nomor yang sama.
...+6288XXXXXXXX...
|"Jangan coba-cova uji kesabaran gue ya!, angkat telfon gue jamal!"
^^^"Maaf, anda salah orang"|^^^
|"Aku perempuan yang minta pertanggung jawaban tadi malam!"
Membaca pesan terakhir Alan merasa orang ini sepertinya sedang mengalami gangguan mental, bisa-bisa dia meminta pertanggung jawaban dengan orang yang salah dan satu lagi dari mana orang gila ini mendapatkan nomornya?.
...+6288XXXXXXXX...
|"Aku perempuan yang minta pertanggung jawaban tadi malam!"
^^^"Sebentar lagi pihak RSJ akan segara jemput anda"|^^^
Baru saja pesan yang dikirimnya dua centang biru sebuah panggilan masuk dengan nomor yang sama, Alan yang ingin mengeser tombol merah tangannya malah dengan salah harus menggeser tombol warna hijau membuat Alan emosi sendiri dengan kebodohan yang ia lakukan. Mau tak mau Alan menerima panggilan tersebut, baru saja benda pipih itu akan tertempa di telinga buru-buru suara nan begitu sangat kencang dan cempreng membuat gendang telinganya hampir pecah kalo saja ia tak dengan cepat menjauhkan benda tersebut.
"Astaga kenapa suaranya sangat mirip dengan monyet lepas dari kandang" Alan mengusap telinganya yang sempat mendengar suara yang begitu tajam. "Tapi kenapa suaranya mirip wanita hari itu?" Alan berdialog sendiri pada dirinya sampai suara wanita itu kembali terdengar.
"Bahkan tanpa louspeker saja suaranya sudah sangat mirip dengan mobil barang rongsokan" hujat Alan.
...+6288XXXXXXXX...
|"Heh kamu dengar aku tidak!"
^^^"Siapa ya?, maaf saya tidak kenal"|^^^
|"Jangan pura-pura amnesia!, aku wanita tadi malam yang kamu rusak in hpnya dan sekarang aku mau minta pertanggung jawaban!"
^^^"Pertanggung jawaban apa ya?" tanya Alan pura-pura tak tau.|^^^
|"Dasar pria gila!, apa kau lupa? apa kau sudah pikun?, kamu harus ganti rugi ponselku yang telah kamu rusakan!"
^^^"Oooo" ber-o ria Alan masuk kedalam mobil melanjutkan ucapannya. "Aku sibuk" jawab Alan cuek.|^^^
|"Enak banget bilang kata gitu!, sekarang juga aku minta kamu kekantor aku sekarang juga!"
^^^"Apa kamu tuli?, aku sudah bilang kalo aku sibuk! S-I-B-U-K, sibuk!"|^^^
__ADS_1
|"Baiklah kalo kamu tidak mau tanggung jawab, aku bakal sebarin foto wajah kamu yang tadi malam aku ambil secara diam-diam ke media sosial!" ancam Vony.
Alan benar-benar tak habis pikir dengan jalan wanita satu ini yang suka sekali mengancam orang dan tidak ingin rugi sedikit saja yang ada wanita ini akan melakukan hal apapun untuk keinginannya.
Meremas udara di depan layar ponselnya berharap yang ia remas adalah wajah wanita yang yang berhasil memancing emisinya.
^^^"Ok,ok, aku kesana sekarang dan tunggu di depan lobi, kalo aku datang dan kamu tidak ada aku akan tinggal begitu saja!"|^^^
Mematikan sambungan telefonnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban wanita itu Alan mengeluarkan mobilnya dari parkiran restoran.
"Wanita ini benar-benar membuat ku darah tinggi!" masih ingat dengan nama perusahaan tempat wanita itu bekerja Alan langsung melesat ke Adhitama Company.
Jarak restoran dengan perusahan tersebut yang kebetulan tidak terlalu jauh hanya membutuhkan watu beberapa menit saja mobil Alan sudah memasuki halaman gedung pencakar langit tersebut. Dari kejauhan Alan sudah melihat wajah yang sangat menyebalkan yang tengah berdiri di depan tangga lobi.
Menurunkan kaca mobilnya Alan menyuruh wanita tersebut agar segera masuk dengan sedikit bertarung. "Cepat masuk!"
"Iyah,iyah bawel!" membuka pintu bagian belakang Vony duduk di jok belakang.
"Kamu pikir aku supir pribadi mu!"
"Terus kamu suruh aku duduk dimana?!"
"Di bagasi!, ya didepan lah!"
"Ogah!"
"Kalo kamu tidak mau, turun dari mobilku sekarang kita tidak jadi ke mal!" ancam Alan.
Sampainya di dalam mal Vony berjalan memasukinya toko hp langganan di ikuti Alan dari belakang.
"Ada yang bisa kami bantu kak?" tanya karyawan tetap.
"Apa hp keluaran terbaru kemarin sudah ready stok?" tanya Vony yang masih ingat dengan hp incarannya tapi saat itu kebetulan stoknya lagi kosong membuatnya terpaksa membeli model yang lain.
"Ada kak, sebentar saja ambilkan" mengangguk setuju Vony melihat-lihat hp yang berjejer rapi di dalam etalase.
Tak lama karyawan tadi membawa tiga dus hp dengan merek yang sama tapi warna yang berbeda. "Kami hanya punya tiga warna yang tersisa ada hitam,gold,dan pink"
Alan yang tadinya membuang pandangan ke arah lain menatap jenis ponsel apa yang akan di beli wanita itu. Bola matanya seketika melebar sempurna saat merek hp yang akan di beli adalah keluaran terbaru bahkan ponselnya saja belum ia ganti dengan merek tersebut.
"Saya mau yang-"
"Carikan ponsel yang lebih murah!" potong Alan sebelum Vony menjatuhkan pilihannya.
Mendengar pria itu memotong ucapannya Vony menatapnya tajam. "Kamu sudah janji mau mengganti hp ku dengan yang baru bukan!, jadi biarkan aku memilih mana yang aku suka!"
"Dasar wanita matre ini ponsel 17 pro max dan kau ingin membelinya hanya untuk mengantikan ponsel kentang mu itu?, aku tidak setuju ini namanya pemerasan!"
"Heh! ponsel ku tidak kentang ponsel ku sama mereknya dengan ponsel ini yang ada apel kroak nya di belakang!"
"Paling juga beli yang KW!" cibir Alan
"Terserah apa kamu mau bilang apa!" mengibaskan tangannya Vony kembali menatap pelayanan tersebut. "Bungkus ponsel yang ini!" ucap Vony menjatuhkan pilihannya pada ponsel berwarna pink.
__ADS_1
"Kalo begitu bayar saja sendiri" ucap Alan yang masih memiliki jalan lain.
Merasa pria itu yang mulai memancing esmois nya Vony memukul lengan tersebut kuat. "Bayar gak!"
"Tidak akan!,aku akan membayarnya jika kamu membeli ponsel dengan harga yang manusiawi!"
"Ini juga sangat manusiawi hanya empat puluh juta!"
"Kalo kamu istriku maka aku akan membelikannya tanpa melihat harga tapi kenyataannya kamu bukan istriku melainkan wanita gila!"
"Kalo begitu jadikan aku istrimu!" ucap Vony cepat.
"Aku tidak sudi mempunyai istri gila kaya kamu!"
"Apa kamu pikir aku mau menjadi istrimu karena suka?, tidak! aku mau menjadi istrimu hanya untuk ponsel yang aku inginkan!"
"Terlihat sekali matre nya!"
"Apa kamu bilang!"
Semua pengunjung dan karyawan yang melihat pertengkaran dua makhluk yang gak ada habisnya hanya saling mengelengkan kepalanya.
"Jadi ini ponselnya jadi dibungkus?" tanya karyawan yang memberanikan diri untuk berkata.
"Iyah!" jawab Vony.
"Tidak!" jawab Alan.
Mendapatkan tatapan tajam dari wanita itu Alan juga melayangkan kembali tatapan tersebut.
"Bungkus dan kasih tagihannya sama dia!" ucap Vony menunjuk wajah Alan.
"Baik nona"
"Dasar matre!"
"Bodoamat" menjulurkan lidahnya Vony mengejek Alan dengan mata julid.
"Ini nona ponselnya" ujar wanita itu memberikan paper bag berisi ponsel pilihannya.
Ingin merampas kembali ponsel itu Vony lebih dulu menyembunyikannya di belakang tubuh. "Kasih saja tagihannya sama dia"
"Bay,bay. makasih ponselnya" lanjut Vony berjalan keluar dengan menenteng paper bag ditangannya dengan perasaan senang.
"Jangan pergi!" ingin menyusul wanita itu tangan suara karyawan menghentikan langkahnya.
"Tuan anda belum membayar tagihannya"
"Sial!"
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1