
BRAK!
suara pintu yang dibuka dengan sangat keras membuat semua orang yang berada di ruangan Vony menatap wajah Alan yang ngos-ngosan seperti habis lari maraton.
Alan yang meminta salah satu karyawan untuk mengantarnya ke ruang istrinya berlari dengan sangat kencang. Masuk lebih dalam Alan menatap wajah Anggara yang berdiri di samping sofa.
"Vony kenapa yah?" tanya Alan beralih menatap wajah istrinya yang masih pingsan di atas sofa. Alan menundukkan tubuh di samping sofa menempelkan punggung tangannya pada kening Vony, merasakan suhu badan istrinya itu sangat panas. "Badan Vony panas?" guman Alan.
"Kenapa dia bisa demam seperti itu?" tanya Anggara menatap penuh curiga pada wajah Alan.
"Mungkin ini efek dari liburan kemarin yah, Alan sudah menyuruh Vony agar istirahat tapi dia yang keras kepala ingin masuk kerja" jawab Alan jujur.
Anggara menggeleng melihat tingkah putrinya yang sangat pekerja keras, ia tau Vony sangat mengincar posisinya saat ini tapi Anggara juga ingin melihat putrinya itu benar-benar mampu sebelum ia menyerahkan tanggung jawab yang besar pada pundaknya.
"Kita bawa Vony kerumah sakit sekarang" ucap Anggara yang diangguki Alan.
Mengendong tubuh Vony keluar dari dalam ruangan di ikuti dengan Anggara menuju rumah sakit terdekat agar Vony segara mendapatkan penanganan.
Sampainya di rumah sakit Alan dan Anggara tidak diperbolehkan masuk oleh dokter yang tengah menangani Vony ruang IGD. Berselang beberapa saat setelah menunggu dengan lumayan lama seorang dokter pria keluar dari dalam.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Alan.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, nona Vony hanya demam biasa, saya sudah menyuntikan obat penurun panas, dan setelah ia siuman nanti bisa langsung di bawa pulang" jelas dokter pria tersebut.
"Syukurlah" ucap Anggara lega.
Dokter tersebut menulis sesuatu dan langsung diberikan pada Alan yang katanya suami dari Vony. "Ini obat untuk nona Vony, dan bisa ditebus di apotik"
Alan menerima secarik kertas tersebut dan mengangguk paham. Mempersilahkan dokter tersebut tinggal Anggara dan Alan di luar IGD.
"Ayah aku akan ke apotik sebentar" ucap Alan ingin menebus obat Vony, agar saat istrinya itu siuman bisa langsung ia bawa pulang.
"Biar ayah saja" Anggara mengambil alih resep obat putrinya dari tangan Alan. "Kamu masuk saja temui Vony, ayah takut kalo ia siuman tidak ada siapa-siapa di sana"
__ADS_1
Alan hanya mengiyakan ucapan Anggara yang ingin menebus obat Vony,sedangkan dirinya langsung masuk ke dalam melihat istrinya itu masih terbaring di atas brankar dengan mata terpejam.
Wajah pucat Vony masih terlihat dengan bibir yang tak semerah biasanya. Tangan Alan terulur menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya.
"Kamu wanita yang paling ngeyel yang pernah aku temui" ucap Alan masih fokus memandangi wajah Vony. "Kalo kamu nurut ucapan ku tadi pagi pasti kamu tidak akan pingsan seperti ini"
"Dan kalo kamu pingsan seperti ini kamu tidak terlihat seperti pereman pasar yang setiap hari kerjaannya ngomel terus" ucap Alan yang terus berbicara dengan memandangi wajah Vony.
Setelah berkata seperti itu Vony mengerjapkan matanya menatap wajah Alan yang tengah memdanginya dengan sangat dekat.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?!" omel Vony.
"Kenapa kamu tidak bilang kalo kamu sedang tidak enak badan?" tanya Alan balik.
"Aku hanya kurang istirahat saja, lagian apa hubungannya aku sakit dengan diri mu?"
"Kamu itu istriku dan tanggung jawab ku"
"Cuma istri selama enam bulan" ralat Vony.
"Jadi ayah yang menghubungi mu dan membawaku kesini?"
"Iyah"
"Apa ayah masih ada di sini?"
"Iyah, dia lagi menebus obat di apotik, tadi aku yang ingin menebusnya tapi kata ayah aku disuruh menjaga mu"
Vony mengangguk, dan berusaha bangkit dari tidurnya.
"Jangan bangun dulu" cegah Alan tapi telat saat Vony sudah duduk dengan tegap. "Ayo kembali rebahan" ucap Alan ingin merebahkan tubuh Vony tapi tangannya ditepis kuat oleh Vony.
"Gak usah lebay, aku baik-baik saja"
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" suara hangat Anggara terdengar saat dirinya masuk dengan menenteng plastik obat ditangannya.
"Ayah?"
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Anggara mengusap rambut lurus Vony.
"Vony baik-baik saja yah, hanya kurang istirahat saja"
"Apa Alan selalu membuat mu lelah disana?"
Pertanyaan Anggara sukses membuat otak Alan dan Vony berfikir dengan sangat keras.
"Memangnya aku membuat Vony kelelahan karena apa?" batin Alan mencari letak dimana ia membuat Vony sampai kelelahan saat liburan kemarin.
"Bukannya aku sakit karena kurang istirahat?" batin Vony yang masih mengingat dengan jelas betapa singkatnya waktu untuk istirahat setelah foto hari itu.
Melihat menantu dan anaknya saling diam membuat Anggara kembali mengeluarkan suara. "Apa kalian belum melakukan-" gantung Anggara.
Potongan kalimat Anggara berhasil membuat sinyal otak Alan dan Vony langsung paham yang di maksud Anggara dengan kata kelelahan tadi.
"A-ayah apaan sih, kenapa harus tanya kaya gitu" ucap Vony tersipu malu.
"Ayah hanya bertanya saja"
"Sudah yah" jawab Alan langsung mendapat pukulan dari Vony. "Kamu apa-apaan bicara seperti itu!"
"Sudahlah tidak usah malu ayah dulu juga seperti itu dengan mama" jawab Anggara dan Vony hanya tersenyum masam.
"Kalo begitu ayo kita pulang" ajak Anggara.
Alan memapah tubuh Vony keluar dari rumah sakit menuju mobil Anggara, sedangkan mobilnya akan ia suruh orang untuk mengantarnya di apartemen nanti malam.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️