My Assistant Husband

My Assistant Husband
Tanda Cinta


__ADS_3

Mendengar kabar sang anak tengah mengandung membuat Livia memaksa sang suami yang tengah meeting untuk segera pulang mengajaknya ketempat sang besan yang baru saja memberikan kabar bahagia beberapa menit yang lalu. Duduk bersampingan dengan Salma Livia melihat taspack dan beberapa gambar USG yang mereka dapatkan saat di dokter kandungan tadi. Memastikan kembali pada sang anak membuat Livia berteriak bahagia begitu juga dengan Salma yang tak kalah bahagianya.


"Kita akan segera jadi nenek-nenek" kalimat itu yang selalu Salma dan Livia lontarkan setiap kali melihat hasil USG.


"Ternyata kita sudah tua saja ya" ucap Erlad membuka suara.


Anggara terkekeh mendengar itu tak menyangka waktu bergulir denger begitu sangat cepat. "Padahal baru kemarin kita muda dan memiliki anak tau-tau sekarang udah ada cucu"


Vony mengulas senyum melihat kebahagian pada setiap raut wajah itu merasa hal seperti ini sangat berharga dan tidak akan bisa ditakar dengan apapun saat melihat kebahagian di wajah orang-orang yang ia sayangi.


"Mereka terlihat sangat bahagia ya" ucap Vony matanya terus bergantian menatap orang tua nya.


Alan yang fokus pada ponselnya beralih menatap Vony yang tengah mengajaknya berbicara. "Tentu saja, kebahagian ini lah yang ditunggu setiap orang tua setelah anaknya menikah"

__ADS_1


Vony mengangguk setuju karena sejak awal baik mama Alan dan mama nya sendiri selalu meminta cucu yang membuat kepala Vony sampai pusing mendengar permintaan itu.


"Bukan hanya mereka saja yang kaget dan bahagia tapi juga aku" sambung Alan.


"Kenapa harus kaget? kan kamu sendiri yang membuat nya ada" cibir Vony.


Alan meraih tubuh Vony membawa kedalam pelukannya memeluk tubuh itu dengan gemas. "Karena aku tidak pernah menduga bisa memiliki anak dari mu"


Vony mendongakkan wajah menatap wajah tampan itu dengan tatapan bertanya-tanya. "Apa itu tandanya kamu mencintai ku?"


"Kenapa diam saja?" sambung Vony menatap cemas wajah tampan itu, berharap Alan akan mengatakan hall yang membuat hatinya bahagia setelah apa yang ia berikan pada pria itu dan seluruh keluarga nya.


"Boleh aku mengatakan apa yang aku rasakan saat ini?"

__ADS_1


Vony mengangguk kecil menjadi pendengar yang baik untuk Alan dengan posisi yang masih saling berpelukan.


"Saat aku jauh dari mu aku selalu merasakan khawatir dan cemas yang berlebihan tapi setiap bersama mu aku merasakan nyaman bahkan setiap tingkah laku mu yang kadang seperti laki-laki itu aku malah suka melihatnya"


Vony yang sempat menelan pahitnya ekspetasi kini tersenyum lebar mempererat pelukannya pada pinggang Alan.


"Apa kamu benar-benar merasakan hal itu?" tanya Vony bodoh.


"Iyah, memang kenapa? apa ucapan ku membuat mu sakit hati?" Melihat Vony menggeleng denger tersenyum membuat Alan bingung.


"Itu tandanya kamu mencintai ku dan aku juga mencintaimu" celetuk Vony langsung menyembunyikan wajah pada dada bidang Alan, menolak saat pria itu ingin menatap wajahnya.


"Kamu mencintaiku? sejak kapan? dan dimana?" cecer Alan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

__ADS_1


"Tidak tau, aku lupa kapan rasa itu datang tapi akan aku pastikan rasa itu tidak akan bisa pergi" jawab Vony.


Alan yang bahagia mendengar ucapan Vony mendaratkan ciuman pada kepalanya dengan cukup lama membuat semua mata menatap kearah keduanya dengan geleng-geleng kepala.


__ADS_2